Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dianggap Meninggal di Jalan, Warga ODP yang Meninggal di Kediri Tak Dites Swab

Baiq Farida • Jumat, 3 April 2020 | 14:30 WIB
BELUM PASTI: Salah seorang warga Desa Montong Are berstatus ODP meninggal dunia dibawa ke Puskesmas Kediri Minggu (28/3/2020) lalu.
BELUM PASTI: Salah seorang warga Desa Montong Are berstatus ODP meninggal dunia dibawa ke Puskesmas Kediri Minggu (28/3/2020) lalu.
GIRI MENANG-Keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat (Lobar) dalam memutus mata rantai penyebaran virus Korona dipertanyakan. Sebab, salah satu Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang meninggal di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, ternyata tidak dites Swab.

"Itu tidak dilakukan Swab karena korban sudah meninggal di jalan. Kami hanya melakukan tracking dengan orang yang pernah dekat dengan korban," jelas Kabid P3KL Dinas Kesehatan Lobar dr. Ahmad Taufik Fatoni kepada Lombok Post, kemarin (2/4/2020).

Seperti diberitakan sebelumnya, korban yang meninggal itu berinisial SH, 45 tahun. Namun hingga saat ini masih belum diketahui pasti apakah SH positif Covid-19 atau tidak.

Saat ini, pihak Dikes Lobar hanya memantau kondisi istri, anak-anak, dan pendamping SH saat ke luar daerah. Maklum, SH bekerja sebagai sopir truk kendaraan yang sering keluar daerah ke Bali dan Pulau Jawa.

Empat orang lainnya adalah petugas kesehatan Puskesmas Kediri yang memakamkan jenazah SH. "Dari pihak keluarga ada empat orang. Dan petugas kesehatan ada empat. Kami telah lakukan rafid tes terhadap delapan orang tersebut. Hasilnya negatif," jelasnya.

Meski demikian, mereka tetap diisolasi di rumahnya masing-masing selama 14 hari. 10 hari ke depan, akan dilakukan rapid tes kembali.

Dokter Fatoni mengatakan, alasan satgas Korona Lobar tidak melakukan swab ke SH, karena almarhum hanya berstatus ODP. Berbeda dengan warga yang berstatus PDP di Kota Mataram yang meninggal dunia. Belakangan warga tersebut diketahui positif Korona.

"Yang di Dasan Agung yang berstatus PDP dan pernah dirawat di rumah sakit sehingga dilakukan Swab. Orang yang dirawat di rumah sakit semua diambil Swabnya," terangnya.

Berbeda dengan mereka yang meninggal di jalan seperti SH. Tidak ada pihak yang bisa mengambil Swabnya. Namun mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, penanganan jenazah sesuai dengan SOP Covid-19.

Data terbaru ada tiga warga Lobar yang saat ini berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dua tambahan berada di wilayah Lingsar. Satu warga dari Labuapi sudah selesai dalam pengawasan.

"Dua warga yang dari Lingsar ini mereka baru melakukan perjalanan dari Surabaya dan Gowa Makasar," jelasnya.

Satu orang diduga dari kalangan jamaah tablig. Satu PDP dirawat di RSUD Kota Mataram dan sisanya di RSUP NTB.

Diketahui, sebelumnya SH meninggal dunia Minggu (29/3). Dari keterangan petugas yang menangani korban, ia adalah sopir truk yang baru pulang dari Jawa. "Riwayatnya dia pernah ke Surabaya, Mojokerto, dan Bali. Tiba di sini (Lombok) Senin Malam (23/3)," jelas petugas medis Puskesmas Kediri dr. Sabar.

Pihak petugas kesehatan pernah mendatangi almarhum setelah mereka menerima laporan dari kepala dusun dan Kepala Desa Montong Are. Petugas memberikan korban obat-obatan karena ada gejala batuk pilek.

SH dinyatakan berstatus ODP dan diminta untuk karantina mandiri. Tidak keluar rumah dan beraktivitas di luar selama 14 hari. Kondisinya pun dilaporkan membaik dan diduga sempat berolahraga bulutangkis.

Namun kondisinya memburuk dan sesak nafas sehingga pihak keluarga membawanya ke Puskesmas Kediri. Sayang ia meninggal dalam perjalanan. (ton/r3)

  Editor : Baiq Farida
#Tes Swab #Virus Korona #Headline #antisipasi #Dikes Lobar #ODP