Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pokdarwis Desa Kebon Ayu Terus Kembangkan Sektor Pariwisata

Galih Mps • Senin, 29 Mei 2023 | 19:45 WIB
Suasana wisata kuliner Desa Kebon Ayu, Gerung beberapa waktu lalu. (CHIA//LOMBOK POST)
Suasana wisata kuliner Desa Kebon Ayu, Gerung beberapa waktu lalu. (CHIA//LOMBOK POST)

GIRI MENANG-Desa Kebon Ayu mencoba merambah ke dunia pariwisata. Sejak 2021 memulai dengan agrowisata golden melon dan menariknya dengan wisata kuliner khas Lombok.


“Awalnya itu sebenarnya kami ingin tonjolkan golden melon nya dan menarik pengunjung dengan wisata kuliner itu. Tapi ternyata ramai juga yang tertarik kuliner,” katanya Rasimin selaku Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Kebon Ayu.


Dengan umur yang kurang lebih dua tahun ini memang terbilang masih sangat muda. Walaupun begitu perbaikan akan dilakukan oleh pokdarwis setempat. Ia menyebutkan berencana akan membuat lokasi ramah anak.


“Namanya wisata buatan pasti butuh perbaruan. Perluasan lahan sengaja biar ada tempat untuk anak bermain dan pertunjukan seni,” jelasnya.


Ia menyatakan bahwa tidak jarang melakukan edukasi berupa arahan kepada para petani khususnya petani melon yang ada di Desa Kebon Ayu. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan petani dengan sumber daya alam yang ada.


“Sejauh ini memang kita utamakan keberdayaan masyarakat, setau saya dampak untuk pendapatan desa secara signifikan masih belum ada,” kata Rasimin. “Tetapi dampak yang tidak terlihat seperti kenaikan harga tanah di sekitaran wisata itu memang ada,” lanjutnya.


Selain itu juga, wisata kuliner ini dibuat bertujuan untuk menarik masyarakat agar melihat potensi yang ada di Desa Kebon Ayu. Disebutkan, bahwa desa ini memiliki budaya tenun yang masih sangat kental. Dengan adanya wisata ini penenun juga merasakan dampaknya. Seperti saat terjadi kunjungan pasti ada order an yang masuk.


Sayangnya memang penenun daerah ini masih belum dikomersilkan dengan luas. Alat tenun yang digunakan masih tradisional. “Karena memang ini sudah menjadi tradisi dari dulu. Penenun juga masih di rumah masing-masing. Dan kita belum masuk ke arah komersil,” jelasnya.


Berjalannya waktu, pengunjung wisata kuliner desa wisata Kebon Ayu perlahan menurun. Seperti yang dirasakan Inak Tani salah satu penjual makanan khas Lombok di Kebon Ayu.


“Tidak seramai dulu. Sekarang sudah mulai berkurang, kalau Sabtu Minggu pagi lumayan ramai,” katanya.


Salah satu penjual juga mengatakan bahwa pernah ia menghabiskan 20 trai telur untuk dimasak dan habis semua. Sekarang empat trai telur saja sudah cukup.


Ia berjualan setiap hari dari pagi sampai maghrib. Ia merasa terbantu dengan adanya pasar kuliner. “Dulu saya jualan di pinggir jalan. Tapi sekarang ada tempat dan banyak yang tau,” kata Inaq Tani mantan TKI ini. (cr-chi/r3)

Editor : Galih Mps
#Lobar