GIRI MENANG-Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam sebuah acara di Lombok Barat (Lobar) beberapa waktu lalu meminta kepada para petani untuk berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Yaitu dengan mengatur pola tanam.
Waktu itu, Mentan Syahrul mengatakan, sebaiknya jarak antara masa tanam ke masa tanam berikutnya tidak terlalu jauh. Misalnya, petani menanam pada lagi seminggu atau dua minggu setelah panen.
Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Lobar Lalu Winengan mengatakan, petani Lobar masih belum siap mengatur tanam dengan pola demikian. Sebab, dengan jarak sekitar satu atau dua minggu berarti bisa tanam empat kali dalam setahun. Sementara di Lobar paling banyak tiga kali tanam.
Winengan mengatakan, empat kali tanam dalam setahun disebut dengan istilah IP400. Sementara di Lobar saat ini baru berjalan program IP300 atau tiga kali tanam. Itupun baru berjalan di beberapa desa saja.
"Apa yang diharapkan menteri itu maksudnya empat kali tanam. Kita tidak siap IP400, baru siap IP300," jelas mantan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Lobar itu.
Sebenarnya, dari sisi ketersediaan air, di beberapa tempat sangat memungkinkan empat kali tanam. Dia mencontohkan di Desa Tempos, Kecamatan Gerung serta beberapa desa di Kecamatan Lingsar dan Narmada. "Ketersediaan alat untuk mendukung IP400 belum," katanya.
Di samping itu, kebutuhan bibit harus terjamin. Winengan menerangkan, saat ini ketersediaan bibit masih mencukupi untuk mendukung pola tanam tiga kali. "Sangat memungkinkan (empat kali tanam) cuma kesiapan petani, bibit dan alat belum mendukung," tambahnya.
Akan tetapi dengan pola tanam padi tiga kali setahun, Lobar sudah mampu berkontribusi dalam menyumbang ketahanan pangan negara. Sebab, saat ini saja padi Lobar surplus 30 ribu ton dalam setahun. "Tetapi kita upayakan bisa menerapkan IP400," tutupnya. (bib/r3)
Editor : Galih Mps