Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Derita Warga Taman Ayu Gerung Langganan Banjir Rob, Kehidupan Bergantung dengan Laut

Sanchia Vaneka • Jumat, 7 Juni 2024 | 15:25 WIB
BENCANA: Kondisi rumah warga di Desa Taman Ayu terendam banjir rob, beberapa hari lalu.(CHIA/LOMBOK POST)
BENCANA: Kondisi rumah warga di Desa Taman Ayu terendam banjir rob, beberapa hari lalu.(CHIA/LOMBOK POST)

LombokPost-Ombak menghantam pesisir pantai. Banjir rob melanda pemukiman warga.

Itulah yang tiap tahunnya dirasakan warga yang bermukim di pesisir Pantai Induk di Desa Taman Ayu Kecamatan Gerung, Lombok Barat. 

Beberapa hari lalu, banjir rob kembali menimpa warga Dusun Taman dan Jeranjang, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat (Lobar).

Banjir rob merendam rumah ratusan kepala keluarga (KK) yang ada di dua dusun tersebut.

Saat penyerahan bantuan kepada warga terdampak anomali cuaca oleh Pemkab Lobar,  Kades Taman Ayu Tajuddin berkesempatan menyuarakan bencana yang melanda desa yang dipimpinnya itu. 

”Sudah semingguan ini banjir rob. kali ini yang terbesar ada 178 KK terdampak,” seru Tajuddin agar semua pejabat yang hadir mendengar apa yang disampaikannya. 

Banjir rob memang menjadi tamu langganan tiap tahunnya.

Terlepas dari letak geografis yang dekat dengan laut, akhir-akhir ini juga terjadi anomali cuaca.

Kadang hujan, kadang terik. Didukung dengan ketinggian gelombang lebih dari satu meter, sehingga saat air laut pasang, air laut merambah masuk kedalam rumah warga. 

Tajuddin menjelaskan banjir rob ini tentu tidak ingin terus menggerus pemukiman warga tiap tahunnya.

Tentu rasa cemas dan was-was tiap kondisi cuaca buruk akan menghantui warga. Sehingga butuh campur tangan pemkab sebagai pemangku kekuasaan.

”Harapan kami ini harus segera ada solusi taktis dari pemerintah, perlu dibangun pemecah gelombang yang telah lama kami usulkan,” pintanya. 

Kenaikan air laut telah mengikis bibir pantai sekitar 50 meter sejak beberapa tahun terakhir.

Kalau dibiarkan terus-menerus, tidak ditangani dengan serius, maka dampaknya akan semakin parah.

Kemudian menggerus rumah warga.

Bahkan bencana yang terjadi saat ini pun, ada rumah warga yang harus dilakukan relokasi karena rumah untuk terlalu dekat dengan pantai.

”Satu rumah warga harus kita relokasi, itu rumah anak yatim,” ucapnya. 

Kondisi ini menambah beban Desa Taman Ayu yang sudah memiliki SK sebagai desa wisata.

Namun bagaimana bisa, desa wisata dikembangkan dalam keadaan bencana yang tidak dapat ditangani.

Pemerintah desa dan masyarakat berharap ada kebijakan dari pemerintah daerah maupun pusat segera membangun pemecah gelombang dan dilakukan penataan kawasan pantai.

 ”Untuk membangun pariwisata dengan lahan yang tidak ada itu kan susah,” tegasnya.

Ini akan menjadi efek domino jika dibiarkan terus. Dampaknya tidak hanya pada kerusakan alam.

Namun secara sosial dan kebutuhan manusia, warga yang sangat merasakan dampaknya.

Karena kehidupan mereka, bergantung pada laut dengan mata pencaharian nelayan. 

”Tentu ketika laut terganggu seperti ini ada ekonomi nelayan  yang kemudian terhenti, ekonomi yang terhenti sehingga, harus dirumuskan kebijakan kebijakan yang seperti yang kita laksanakan,” cetusnya. 

Sedangkan untuk rumah warga yang akan direlokasi, sekarang ini  sedang diusahakan agar ada lahan untuk direlokasi.

”Upaya begini ini penting agar kemudian masyarakat kita yang ada di Dusun Taman ini bisa lebih menikmati hidup mereka,” imbuhnya.

Menjawab keluhan warga, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lobar Tohri mengatakan banjir rob di daerah Taman Ayu ini memang kerap terjadi tiap tahunnya.

Untuk penanganan kedepannya memang dari 2014 direncanakan akan membuat talud.

Tetapi tidak jadi dilakukan. 

”Ketika kita membuat talud seperti di Kuranji, masalah  baru timbul, nelayan tidak bisa menyandarkan perahu di sana, sehingga rencana itu hilang sampai saat ini belum ada lagi,” pungkasnya. (cia/r12) 

 

Editor : Kimda Farida
#Banjir #pantai