Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tak Punya Pompa, Ratusan Hektare Sawah di Lobar Terancam Gagal Panen

Sanchia Vaneka • Selasa, 11 Juni 2024 | 11:10 WIB
MERANA: Seorang petani sedang duduk diatas sawah yang terdampak kekeringan di Kuripan, beberapa waktu lalu. (CHIA/LOMBOK POST)
MERANA: Seorang petani sedang duduk diatas sawah yang terdampak kekeringan di Kuripan, beberapa waktu lalu. (CHIA/LOMBOK POST)

LombokPost-Anomali cuaca yang terjadi beberapa waktu terakhir menyebabkan ratusan hektare persawahan di Kuripan, Lombok Barat (Lobar) terdampak kekeringan.

Para petani kalang kabut mencari air untuk mengairi sawah mereka agar sawahnya masih bisa menghasilkan butir-butir beras berkualitas.

Ratusan hektare hamparan sawah yang mengering akibat musim kemarau itu masih terlihat di Dusun Buntage, Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan, Lobar.

Junaedi, Ketua Kelompok Tani Beriuq Pade Mele, Dusun Buntage, Kuripan berjuang menyelamatkan padi yang disebutnya masih bisa tertolong jika pengairan segera dilakukan. 

”Namanya petani, kekeringan itu takdir,” ucap Junaedi sambil memperlihatkan tanah tandus yang gersang dan pecah-pecah sudah ditanami padi. 

Ada dua sumber air yang menjadi penyangga irigasi untuk areal persawahan ini.

Yakni, bendungan Batu Jai dan bendungan Pengga yang keduanya berada di Lombok Tengah (Loteng).

Jelas saja, jarak dari dua bendungan tersebut ke area persawahan sangat jauh. Sehingga membutuhkan bantuan alat untuk mengairi. Ditambah lagi dengan area sawah yang berada di dataran tinggi Gunung Sasak ini. 

Perjalanan air dari bendungan Batu Jai ke area persawahan di Desa Buntage, Kuripan ini selama 12 jam.

Namun, air tersebut tak mengalir sampai pada petakan sawah milik Junaedi. 

”Tapi airnya tidak sampek ke sawah saya. Saya paling selatan sawahnya,” ucapnya menunjukkan lokasi sawah miliknya. 

Daerah dataran tinggi persawahan membuat sulitnya pengairan.

Sehingga sangat membutuhkan alat bantu untuk menyedot air. Seperti selang atau pompa. 

”Karena lebih tinggi sawahnya, daripada salurannya,” jelasnya. 

Bukan tidak ada air.

Air ada, namun untuk membawanya ke area persawahan membutuhkan selang besar dan panjang.

Selama ini, kelompok tani yang diketuainya tidak pernah mendapatkan bantuan pompanisasi dari pemerintah.

 ”Kita cuma pinjam selangnya. Butuh bantuan itu. Karena ini kita membutuhkan dua mesin,” terangnya.

Pria berusia 35 tahun ini mengatakan kondisi seperti ini sudah sering dihadapinya dan para petani lain di Dusun Buntage.

Bahkan dirinya memprediksi, jika sampai kondisi ini berkepanjangan akan mengeluarkan lebih banyak biaya.

Kalau kekurangan air seperti ini, modal membeli pompa itu sama seperti membeli padi. 

”55 are hanya mendapatkan untung Rp 400 ribu. Belum dikurangi biaya tenaga kami sendiri selaku pemilik. Biaya traktor, tanam, pupuk, obat-obatan, minyak, dan ongkos mesin pompa,” rincinya. 

Bagi Junaedi, menjadi petani adalah warisan turun temurun dari nenek moyangnya. Ia menjadi petani sejak kecil, kemudian menjadi kelompok tani sejak 2013 silam.

Akhir buruk dari kondisi ini jika tak tertangani dengan segera, maka akan gagal panen.

Kerugian seperti gagal panen sudah biasa dihadapi. Jika hendak ingin beralih profesi, keahliannya hanya sebagai petani. 

”Saya dari lahir memang petani, saya bukan pejabat. Tidak ada keahlian yang lain,” cetusnya.

Hidup menjadi petani adalah suatu yang sangat disyukurkan Junaedi. Menurutnya, hasil keringat menjadi petani lebih berkah. 

”Kalau orang sini bilang, kalau kita sudah punya padi maka sudah aman kehidupan kita. Kalau kita punya uang, cepat habis. Kalau punya padi, satu dua tahun masih aman hidup kita,” tandasnya. (chi/r12) 

Editor : Kimda Farida
#sawah #panen #Kekeringan