Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jadi Daya Tarik Wisatawan, Desa Adat Karang Bayan Tawarkan Bale Beleq

Sanchia Vaneka • Selasa, 9 Juli 2024 | 15:45 WIB
SEPI: Bale Beleq yang ada di Desa Karang Bayan, Lingsar, Lombok Barat  menjadi satu-satunya daya tarik di desa wisata tersebut.(CHIA/LOMBOK POST)
SEPI: Bale Beleq yang ada di Desa Karang Bayan, Lingsar, Lombok Barat menjadi satu-satunya daya tarik di desa wisata tersebut.(CHIA/LOMBOK POST)

LombokPost-Desa Adat Karang Bayan, Lingsar, Lombok Barat adalah salah satu peninggalan sejarah hasil akulturasi kerukunan antar agama.

Dulunya, Desa Adat Karang Bayan sangat populer, namun saat pamornya mulai meredup.  

Desa Adat Karang Bayan saat ini seperti sudah terlupakan sebagai salah satu objek wisata adat.

Dulunya, pamor Desa Adat Karang Bayan ini sangat tinggi.

Hingga para turis mancanegara datang berbondong-bondong mengunjungi peninggalan sejarah ini. 

”Itu dulu, sekarang meskipun ada turis datang itu mereka jalan sendiri,” kata Kepala Desa Karang Bayan Sudirati. 

Hal tersebut terjadi setelah tragedi Bom Bali mengguncang pada tahun 2000-an, desa ini kehilangan pesona wisatawan asing yang pernah ramai.

Meskipun demikian, upaya gigih dilakukan untuk menghidupkan kembali pariwisata, walaupun Desa Adat Karang Bayan menawarkan daya tarik yang berbeda yakni kelestarian budaya yang kuat dan unik.

 Salah satunya Bale Beleq yang menjadi hunian asli penduduk.

Sudirati menjelaskan Bale Beleq atau Bale Balaq awalnya masih menjadi pilihan utama para penduduk setempat.

Namun, saat ini arus modernitas sudah mulai menggeser bangunan bersejarah tersebut.

Deretan rumah beralas keramik dengan atap seng mulai terlihat saat memasuki gang kecil untuk memasuki Bale Beleq yang masih bertahan. 

Tetapi seiring berjalannya waktu timbul banyak pertimbangan dari sisi kesehatan sehingga mau tidak mau juga sedikit menggeser poin unik dari pariwisata tersebut. 

”Misalnya lihat satu rumah tradisional terus dibilang, ini tidak ada ventilasinya. Tapi beda lagi kalau pariwisata bilangnya, ini dipertahankan,” terangnya. 

Hal tersebut yang membuat beberapa rumah adat di daerah ini habis. Namun Bale Beleq tetap masih ada. Dengan budaya dan adatnya yang masih kental sampai sekarang.

Meski tantangan seperti standar kesehatan telah mengubah beberapa aspek, Bale Beleq tetap berdiri sebagai penjaga keaslian dan keindahan warisan budaya mereka.

”Dalam Bale Beleq, tradisi masih hidup,” cetusnya.

Bak rumah yang lama tak terjamah, rumah adat karang bayan pun mengikuti usianya yang terlihat semakin tua dan rapuh.

Ada empat bangunan yang masih tersisa, dua Bale Beleq atau masjid kuno. Yang di sisi sebelah barat, sebuah langgar kuno berdiri kokoh sebagai tempat ibadah, sementara di sebelah timur, sebagai dapur menunggu dengan kehangatan untuk para perempuan.

Beranjak ke bawah, ada sebuah dapur yang berada di dalam pagar kayu dan sekenem atau berugak dengan kaki enam sebagai tempat pertemuan.

Segala yang terkait dengan Bale Beleq diurus dengan ketat oleh pengurusnya, dari perbaikan hingga pengaturan kunjungan turis.

”Itu ada pengurusnya, jadi apapun yang terkait bale beleq tersebut adalah kewenangan pengurus. Posisi saya hanya kalau ada yang rusak diperbaiki. Kalau sudah, ya pulang,” terangnya. 

Sudiarti berharap ada campur tangan pemerintah daerah terkait upaya menghidupkan kembali pariwisata berbasis budaya ini.

Beberapa memang sudah upaya sudah dilakukan seperti perbaikan dalam hal pemberian paving blok.

Dirinya menyebutkan masih mencoba melakukan inovasi untuk menarik wisatawan kembali dengan judul sehari bersama wisatawan.

Nantinya, wisatawan akan mengikuti kegiatan masyarakat sehari penuh. Seperti kegiatan berkebun dengan anyaman ketak atau panjat pohon dan sebagainya. 

”Ya kembali seperti kejayaan pada tahun 2000-an itulah,” harapnya. (chi/r12)

Editor : Kimda Farida
#Karang Bayan #Adat