LombokPost-Kerusakan fasilitas jalan kembali menjadi sorotan.
Khususnya setelah beredar di media sosial, warga Dusun Landungan, Desa Guntur Macan, mengangkat seorang wanita yang sedang sakit menggunakan tandu dengan sarung seadanya.
”Disaat orang bilang merdeka, tapi warga kita ada yang digotong pakai tandu begitu. Itu bukan miris lagi, sedih saya,” kata Kepala Desa Guntur Macan Najamudin, Senin (19/8).
Najamudin menjelaskan beberapa kades sebelumnya sudah sering melakukan permohonan perbaikan jalan ke pemkab.
Tidak hanya Dusun Landungan, dua dusun di Desa Guntur Macan ini juga seakan terisolir dengan akses jalan yang sangat terbatas.
Seperti Dusun Poan Utara dan Dusun Poan Selatan.
”Kita sering evakuasi masyarakat yang sakit. Pakai linmas dan satpam untuk jaga kalau ada motor yang akan naik untuk di stop,” terangnya.
Pemdes berharap jalan desa dengan kondisi seperti itu bisa ditingkatkan statusnya menjadi jalan kabupaten.
Karena melihat kondisi dan keadaan desa yang tidak bisa menangani perbaikan jalan tersebut.
Namun pemkab beralasan jalan itu merupakan jalan buntu yang juga menjadi perbatasan dengan hutan lindung.
”Kalau buntu itu jauh dia. Banyak hal lah yang kita pikirkan, ini ada dua dusun,” ujarnya.
Menurut Najamudin, jalan yang membutuhkan perbaikan sepanjang 10 kilometer.
Belum lagi ditambah dengan jalan gang untuk akses sepeda motor.
Ini diharapkan dapat tercover menggunakan anggaran desa atau dana desa (DD).
Tetapi, DD yang didapatkan Desa Guntur Macan hanya Rp 940 juta lebih.
”Itu kan butuh anggaran juga. Tapi tidak bisa, dengan anggaran kita minim betul,” cetusnya.
Mantan Kepala Dusun Apit Aik ini juga mengatakan akses jalan menuju ke Dusun Ladungan tersebut sebelumnya pernah diukur untuk diperbaiki pada 2021.
Bahkan sudah dilakukan pembebasan lahan selebar 2 meter.
Diperkirakan jalan tersebut sepanjang 300 meter lebih untuk menuju pemukiman warga.
Sementara itu, salah satu warga Dusun Landungan Misbah mengatakan warga yang digotong memang berasal dari Dusun Landungan. Warga tersebut sakit perut beberapa hari pasca melahirkan. Karena situasi darurat dan membutuhkan penanganan cepat, maka menggunakan tandu dengan akses panjang jalan sekitar 300 meter.
Muhsan tinggal di pemukiman terpencil tersebut dengan 12 kepala keluarga (KK) lainnya. Diakuinya, air sungai yang melintasi dusun kecil itu terkadang meluap. Jembatan kecil untuk menyebrang yang dibuat masyarakat dari bambu juga hampir lapuk.
”Anak sekolah, ngaji juga lewat jembatan ini,” tandasnya. (chi/r12)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post