Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pelaku UMKM Kembang Gili Mas Panen Dolar Saat Kapal Pesiar Tiba, Mahir Berbahasa Inggris Jadi Daya Tarik Wisatawan

Umar Wirahadi • Rabu, 18 Desember 2024 | 15:24 WIB

 

RAMAH: Ketua UMKM Kembang Gili Mas Khairun (kiri) berbincang dengan turis yang belanja ke stannya, Senin (16/12).
RAMAH: Ketua UMKM Kembang Gili Mas Khairun (kiri) berbincang dengan turis yang belanja ke stannya, Senin (16/12).
 

Kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Gili Mas adalah sumber cuan bagi pelaku UMKM.

Dibeli dengan mata uang dolar, mereka untung berlipat-lipat dari modal awal.

Agar pembeli makin senang, para pedagang  aktif meng-upgrade kemampuan bahasa Inggris dengan mendatangkan guru privat.

-----------------

Saat pintu kedatangan pelabuhan dibuka pukul 10.00, para turis langsung berhamburan keluar halaman Pelabuhan Gili Mas, Senin (16/12).

Beberapa turis langsung naik kendaraan milik travel agent yang sudah menunggu dari tadi.

Tapi tidak sedikit yang menuju tenant UMKM yang berjejer di sisi kiri pintu kedatangan.

Di sana, sudah berjejer berbagai souvenir. Mulai dari kaos khas Lombok, tenun, sarung, tas rajut dan kerajinan tangan serta aneka asesoris dari mutiara.

Semua itu memanjakan para pengunjung.

Momen itu pun tidak disia-siakan pedagang tergabung dalam perkumpulan UMKM Kembang Gili Mas.

Mereka mulai pasang jurus agar wisatawan mancanegara itu masuk ke stannya.

”Hello Sir. Look it is beautiful,” kata Lukman sambil membentangkan kaos khas Lombok kepada seorang turis.

Turis bernama Michael Beard asal Australia itu pun berhenti. Dia langsung tertarik dan membeli dua kaos.

Harganya 14 dolar AS. Jika 1 dolar AS nilainya Rp 15 ribu, maka harga dua kaos itu sekitar Rp 210 ribu.

Padahal kalau pembeli lokal bisa dihargai maksimal Rp 50 ribu.

”Saya jual harganya dua kali lipat dari harga lokal,” ujar Lukman.

Di stan yang lain, Sumiati dengan telaten merayu seorang turis untuk membeli dagangnya. Awalnya, turis asal Jerman itu ogah-ogahan menawar.

Sumiati lalu membuka bungkusan sarung. Dia membentangkan kain itu lalu memeragakan cara memakainya.

”Look. It has many functions,” kata Sumiati.

Pertama, dia menggunakan sarung untuk selimut seperti orang kedinginan. Berikutnya, dia menggunakan sarung seperti orang hendak salat. ”You can put same dolar inside,” cetusnya.

Hal itu kontan memancing gelak tawa si turis.

”Yes, I buy it. I like it,” ujarnya lalu membuka dompet berisi dolar AS.

Tidak tanggung-tanggung turis bernama Suzan itu memborong 10 sarung sekaligus. Dia membayar 100 dolar AS.

Itu setara dengan Rp 1,5 juta atau Rp 150 ribu per sarung.

”Saya ambil untung Rp 50 ribu per sarung. Nggak terlalu banyak sih,” ujar perempuan asal Desa Babussalam, Gerung itu.

Ketua UMKM Kembang Gili Mas Khairun mengatakan total ada 19 anggota yang berjualan di sana. Itu sudah dilakukan sejak pelabuhan beroperasi sejak 2019.

Mereka hanya berjualan ketika kapal pesiar bersandar di Pelabuhan Gili Mas.

”Kalau nggak ada kapal pesiar sandar, ya jualan di tempat masing-masing,” tutur Khairun.

Mayoritas berjualan di Pelabuhan Lembar. Ada juga yang membuka stan di Senggigi hingga berjualan asongan di Gili Trawangan.

Namun ketika ada kapal pesiar sandar di Gili Mas, mereka libur jualan di tempat semula.

”Karena di sini untungnya lumayan,” ujar pria asal Desa Kebon Ayu, Gerung itu.

Menurutnya, para turis yang menumpangi kapal pesiar cukup royal ke UMKM.

Selain membeli barang-barang, tidak jarang turis juga sengaja memberikan uang secara cuma-cuma. Yang dibagi adalah uang dalam mata uang rupiah.

”Mungkin mereka mikir kalau dibawa ke negaranya nggak bisa pakai belanja. Makanya dikasih ke kami,” tutur Khairun lalu tertawa.

Branch Manager (BM) Pelindo Lembar Kunto Wibisono menyampaikan sudah tiga kapal pesiar bersandar selama Desember ini.

Kapal pesiar yang berlabuh kemarin bernama Noordam. Kapal itu mengangkut 1.887 wisatawan.

Mereka berasal dari berbagai negara. Seperti Belanda, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang dan Singapura.

”Kami selalu menyampaikan informasi jadwal sandar kapal ke pedagang. Agar mereka bisa berjualan produk khas Lombok,” papar Kunto. (Umar Wirahadi/r12)

Editor : Kimda Farida
#UMKM #kaos #Gili Mas #turis #Pedagang #Kapal Pesiar #dolar #Gerung #lokal