Pokdarwis Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, berhasil mengumpulkan harta karun berupa ratusan benda pusaka milik warga desa. Mereka mendapatkannya dari warga setalah dikunjungi secara door to door. Mereka ingin membuat museum desa sebagai tepat wisata sejarah.
Alquran yang ditulis tangan itu terlihat lusuh karena dimakan usia. Lembar demi lembarnya tampak sudah kusam dan rapuh. Bagaimana tidak. Kitab suci itu diyakini sudah berusia lebih dari 200 tahun. Namun yang bikin bangga, Alquran itu masih terjaga dengan baik hingga sekarang.
"Alquran ini masih tersimpan di rumah salah seorang ahli waris di desa kami," kata Muhamadun kepada Lombok Post, Jumat (20/12).
Menariknya, Alquran itu berisi lengkap 30 juz. Ditulis tangan di atas lembar kulit unta. Selain Alquran 30 juz, ada juga manuskrip kuno lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab. Yaitu berupa kitan khotbah Idul Fitri.
Dalam keterangannya, kitab itu ditulis dengan tangan yang sangat suci oleh orang alim atau wali dari Lombok. Ketika khutbah Idul Fitri dibacakan, sang khotib harus dikawal oleh dua orang karena kitab ini sering membawa huru hara.
Berikutnya kitab Idul Adha. Sesuai namanya, kitab ini dibacakan khotib saat Idul Adha. Semua tulisan Arab ini ditulis di atas kulit unta.
"Sampai sekarang ketiganya masih tersimpan dengan baik di rumah warga. Nama pemiliknya Haji Muhibbin," tuturnya.
Muhamadun adalah ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sigerongan. Tidak mudah bagi Muhamadun dan anggota Pokdarwis lainnya mendapatkan benda kuno itu. Perlu kerja keras. Awalnya, tutur dia, warga tidak mau mengeluarkan benda itu. Karena dianggap sebagai benda pusaka yang sakral.
"Kami mendatangani rumahnya berkali-kali. Baru kami dikasih. Itu pun hanya bisa difoto saja," akunya.
Pokdarwis harus datang door to door turun ke rumah-rumah warga. Tujuannya mencari benda-benda pusaka yang disimpan warga. Tidak jarang warga menolak memberikan "Setelah beberapa kali kami datang dan meyakinkan bahwa benda itu akan tetap aman baru dikasih," katanya.
Selain manuskrip, ada juga benda kuno berupa kepeng jamak atau uang bolong. Uang ini dipakai pada zaman dahulu. Di koin mata uang ada gambar raja Arab.
Dalam bahasa pewayangan Sasak disebut Wong Menak atau orang sakti mandraguna. Benda lainnya berupa cincin dengan wajah Gajah Mada ukuran besar.
Selain itu ada juga berupa senjata. Seperti tombak, pedang dan keris. Salah satunya bernama keris Semar Mesem. Keris kembar berukuran kecil itu diyakini punya kesaktian seperti bisa menjadi sumber guna-guna agar disayangi lawan jenis.
"Kegunaannya sebagai pengasih-asih. Orang yang bawa keris ini diyakini mudah mendapatkan jodoh. Karena salah satu kegunaannya mudah dikasihi dan disayangi orang lain," tuturnya.
Beberapa tombak dan pedang juga diyakini pernah dipakai prajurit dari zaman kerajaan di Lombok. Seperti kerajaan Selaparang dan Kerajaan Pejanggik. Nah, benda-benda pusaka hanya dikeluarkan saat event pameran saja. Baik yang digelar oleh Museum NTB dan event kabupaten serta kegiatan desa lainnya.
"Suatu saat kami ingin membangun museum khusus Desa Sigerongan. Ini untuk menampung begitu banyak benda pusaka yang harus dilestarikan," tandas pria 54 tahun itu.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Agus Gunawan memberi apresiasi atas kiprah Pokdarwis Sigerongan. Disampaikan, upaya mengumpulkan benda-benda bersejarah merupakan inisiatif yang baik. Itu bertujuan untuk menunjukkan kekayaan budaya, sejarah, dan tradisi yang dimiliki oleh desa setempat.
"Lombok Barat adalah daerah yang kaya akan warisan budaya. Maka kiprah Pokdarwis Sigerongan ini sangat baik untuk melestarikan kekayaan desa," papar Agus.
Dia memersilakan desa lainnya di Lombok Barat untuk mengumpulkan koleksi dan artefak yang ada di setiap desa. Itu sebagai bentuk identitas budaya masing-masing desa. Sehingga masyarakat dapat lebih mengenal kekayaan lokal.
"Khususnya menjadi pengetahuan yang sangat berharga bagi generasi muda saat ini," tandasnya. (UMAR WIRAHADI/r12)