Di Narmada terdapat varietas durian langka. Namanya durian Peresak. Pohon ini juga dikenal dengan sebutan durian raja karena konon ditanam langsung oleh pendiri Taman Narmada Raja Anak Agung Gde Ngurah Karang Asem tahun 1727. Artinya, umur pohon durian itu sama dengan usia Taman Narmada.
Ukuran buah durian ini tidak seberapa. Hampir sama dengan durian pada umumnya.
Tapi bedanya terlihat saat kulitnya dibelah. Aromanya yang tajam langsung menusuk hidung.
Menggoda para penggemar durian untuk segera mencicipinya.
"Silakan dicoba," kata Wayan, penjaga kebun itu.
Saat dicicip, daging durian terasa sangat manis. Selain itu, dagingnya yang tebal terasa halus dan empuk.
Selain itu biji durian juga lebih kecil dari rata-rata durian lainnya.
"Ini salah satu kelebihan durian Peresak," tutur Wayan.
Lombok Post juga diajak mengelilingi kebun pohon durian Peresak. Lokasi kebun itu berada di sisi kanan Taman Narmada.
Dari area taman, pengunjung harus melewati jalan menurun dan jembatan kecil.
Nah, setelah melintasi jembatan, kebun itu berada di sisi kanan.
Suasana sejuk sangat terasa ketika masuk ke lokasi kebun. Belasan pohon durian terlihat rimbun menjulang.
Hanya saja, dari tampilan pohonnya terlihat kalau pohon itu sudah sangat tua. Tidak jarang bibit pohon beringin juga tumbuh di batang pohon.
"Ini saking tuanya pohon ini. Usia pohon ini sama dengan Taman Narmada," jelas Manajer Taman Narmada Ahmad Taufik.
Disampaikan, Taman Narmada dibangun oleh Raja Anak Agung Gde Ngurah Karang Asem tahun 1727.
Sejak saat itu, sang raja sudah mulai menanam pohon durian.
Selain itu juga ada pohon manggis di sekitar kebun. Artinya pohon itu sudah berusia 297 tahun.
"Dari batang pohonnya saja memang sudah sangat tua," kata Taufik.
Meski demikian, pohon durian yang berusia nyaris 300 tahun itu selalu menghasilkan buah yang manis.
Menariknya, penggemar durian hanya bisa mendapati dan mencicipi durian raja jika berkunjung langsung ke lokasi.
"Sebab durian ini tidak dijual bebas di luar kebun ini," ujar Ahmad.
Hingga kini masih tersisa 12 pohon durian tua peninggalan raja.
Menariknya, setiap pohon punya sensasi rasa yang berbeda. Sebut saja varietas Si gula. Rasanya sangat manis walau aroma kurang tajam.
Ada juga Si Tongmedaye. Dalam bahasa Sasak berarti tidak disangka. Dagingnya tebal dengan biji yang kecil.
Dari 12 pohon, empat di antaranya pernah menang dalam lomba durian tingkat nasional pada 2004.
"Saat ini memang ada upaya kami untuk lakukan pembibitan. Supaya varietas durian ini tidak punah," tandas Taufik. (umar wirahadi/r12)
Editor : Marthadi