Kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Sesaot semakin ramai saat musim hujan ini.
Pengelola menerapkan pengamanan ekstra demi mengantisipasi datangnya belabur hingga banjir bandang.
Tim keamanan disebar dan stand by di sepanjang sungai.
--------------------------
Kepanikan terjadi di tempat wisata air Pusat Rekreasi Masyarakat (Purekmas) Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Sabtu sore (18/1).
Air sungai yang awalnya jernih tiba-tiba berubah menjadi keruh kecoklatan.
Alirannya yang deras menghanyutkan sejumlah batang pohon dan sampah dari hulu.
”Belabur. Belabur. Ayo semua naik,” teriak petugas melalui pengeras suara.
Pengunjung yang sedang asyik bermain air pun cepat-cepat naik ke darat. Anak-anak digendong ke tempat yang lebih aman.
Itu untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan.
”Kalau hujan sering belabur (banjir,Red). Air jadi keruh dan membawa banyak sampah,” tutur Ketua Pengelola Wisata Air Bawak Goak Sesaot Doni Suwandana Ade Putra.
Sebelumnya, pengelola sudah melakukan antisipasi karena kondisi cuaca yang kurang baik.
Hujan turun sejak siang.
Meskipun tidak hujan di daerah sekitar, tapi kalau hujan deras di bagian hulu pasti terjadi banjir. Seperti di Desa Pakuan, Lebah Sempaga dan Desa Buwun Sejati.
Sebab air hujan dari ketiga desa dan wilayah lainnya mengalir ke sungai Sesaot.
Ujung-ujungnya akan mempengaruhi kondisi wisata air Sesaot.
”Tanda-tanda alam itu sudah kami antisipasi. Kalau mendung di bagian timur dan selatan, alamat akan terjadi belabur,” ujar Doni.
Sebanyak 35 petugas keamanan pun disebar di sepanjang sungai.
Mereka stand by sejak siang. Petugas mengawasi setiap pengunjung. Khususnya anak-anak.
Itu sebagai antisipasi kalau-kalau banjir kiriman datang. Bahkan termasuk banjir bandang.
Saat musim hujan seperti saat ini, pengelola memberikan pengamanan ekstra. Seperti mengikat sejumlah ban pada tali tambang di beberapa titik rawan.
Tujuannya jika ada pengunjung yang tiba-tiba hanyut bisa memegang ban tersebut.
”Pokoknya kalau muncul tanda-tanda debit air naik apalagi air jadi keruh, kami minta pengunjung mentas. Karena ini sangat bahaya,” kata pria 27 tahun itu.
Penjabat (Pj) Kepala Desa (Kades) Sesaot Sarbini mengatakan jumlah pengunjung pada musim hujan memang lebih banyak dibanding kemarau. Kunjungan per hari bisa mencapai ribuan orang.
”Kalau waktu akhir minggu lebih banyak lagi. Tempat pemandian sampai sesak oleh pengunjung,” ujar Sarbini.
Debit air yang berlimpah memberi daya tarik berupa spot foto yang Instagramable. Salah satunya deburan air yang jatuh di tangga sungai.
Itu menjadi objek daya tarik pengunjung untuk berswafoto.
Tapi jika kemarau, debit air sungai Sesaot sangat kecil. Bahkan pada puncak kemarau, air sungai cendrung kering karena hanya muncul dari mata air.
”Makanya saya minta pengelola untuk meningkatkan pengamanan. Tim keamanan ditambah untuk mengawasi aktivitas pengunjung di sungai. Khususnya anak-anak,” imbuhnya.
Pemerintah Desa (Pemdes) Sesaot berkomitmen untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan pengunjung. Termasuk kebersihan tempat wisata.
Desa Sesaot pernah meraih penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Sesaot meraih juara 4 pada katagori penerapan Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) dan diberikan langsung Menparekraf Sandiaga Uno kala itu.
”Prestasi ini akan terus kami pertahankan. Alhamdulillah selama ini juga tidak ada insiden,” tandasnya. (Umar Wirahadi/r12)
Editor : Kimda Farida