LombokPost--Paket kuliner "mewah" alias mepet sawah yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tempos, Kecamatan Gerung, menawarkan pengalaman kuliner yang unik dan menarik.
Sambil menyantap aneka makanan tradisional khas Lombok, pengunjung bisa menikmati pemandangan indah dari sawah yang hijau dan bukit-bukit yang diselimuti kabut di pagi hari.
--------------------
Kabut masih menyelimuti Gunung Sasak dan pegunungan lain di sekitarnya, pagi, Minggu (16/2).
Sawah-sawah yang ditanami padi menghampar hijau. Seluas mata memandang. Tidak berselang lama, matahari muncul dari balik bukit menyinari sawah dan pegunungan.
Di waktu yang masih pagi itu, keramaian terlihat di area seluas 4.000 meter persegi itu.
Para pengunjung antre di setiap lapak yang menyajikan aneka makanan tradisional khas Lombok. Kurang lebih ada 34 tenan yang menyiapkan berbagai makanan.
Mulai dari serabi, kue lupis, kelepon, celilong, hingga cucur. Kudapan itu disantap dengan hidangan kopi atau teh.
”Ini baru kita buka sudah antre-antre,” kata Ernawati, salah seorang pemilik lapak.
Selain aneka makanan tradisional, perempuan asal Karang Barat, Desa Tempos, itu juga menjual berbagai macam menu berat. Seperti nasi pecel, urap-urap hingga sate bulayak untuk sarapan para pengunjung.
Menariknya, selain memenuhi area utama seluas 4.000 meter persegi, para pengunjung juga berjejer di pinggir jalan raya.
Mereka menyantap hidangan sambil menikmati pemandangan indah di pagi hari.
”Saya baru pertama kali sini. Saya takjub dengan view yang indah ini,” kata Lutfi Kurniawan, salah seorang pengunjung dari Praya, Lombok Tengah.
Pria 35 tahun itu datang bersama anak dan istrinya.
Dia mengetahui wisata kuliner "Mepet Sawah" itu dari rekan kerjanya. Karena penasaran dia pun datang dengan mengendari sepeda motor.
Mereka sangat menikmati pemandangan hijau di sepanjang perjalanan ke lokasi.
”Ternyata nggak rugi jauh-jauh ke sini. Pemandangan alam di lagi hari sangat indah. Harga makanannya juga murah,” ujar karyawan swasta itu.
Hal serupa diungkapkan Muhamamd Reza. Pria asal Kelurahan Karang Pule, Mataram itu mengaku penasaran dengan wisata kuliner "Mewah" Desa Tempos.
Dia sudah mendengar tempat wisata itu sejak setahun lalu.
”Tapi baru hari ini saya ke sini. View yang indah ini membuat saya kecanduan,” ujar Reza.
Tempat wisata kuliner ini memang sudah lama berdiri. Yaitu sejak awal 2020.
Saat itu baru merebak pandemi Covid-19. Kala itu area sekitar yang terletak di Jalan Raya Gunung Sasak, Tempos, banyak didatangi warga untuk berswafoto.
Daya tarik terletak pada pemandangan yang hijau dengan latar belakang pegunungan.
Area itu memang dikelilingi banyak gunung dan perbukitan. Mulai dari sisi timur, selatan dan sisi barat.
”Pemandangan paling indah memang terutama saat pagi hari. Kalau pagi gunung-gunung dikelilingi kabut,” kata Ketua Pokdarwis Pesona Alam Desa Tempos Mujiburrahman.
Karena memiliki view yang indah, mulailah mereka berfikir untuk mendirikan tempat wisata. Maka dibuatlah tempat wisata dengan nama wisata kuliner "Mewah" atau Mepet Sawah.
Itu karena area itu berdampingan langsung sawah.
”Masak hanya sekedar untuk selfie saja. Kan pengunjung bisa sambil makan-makan. Akhirnya dibikin wisata kuliner ini,” tutur Mujib.
Hingga kini wisata kuliner itu terus berkembang.
Pengunjung pun datang dari berbagai tempat. Bukan hanya dari Lombok Barat, tapi juga meluas ke Kota Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur hingga luar daerah.
”Saya pernah menemukan rombongan pengunjung dari Bali. Katanya penasaran setelah tahu dari media sosial,” tuturnya.
Kepala Desa Tempos Sudirman mengatakan pihak desa mendukung penuh operasional tempat wisata kuliner yang dikendalikan Pokdarwis Pesona Alam Desa Tempos.
Selain mengangkat potensi wisata, perekonomian warga sekitar juga menjadi sangat terbantu. Khususnya para pelaku UMKM.
”Dari sisi ekonomi sangat terbantu. Omzet omzet pedagang cukup besar,” kata Sudirman.
Satu pedagang bisa mengantongi Rp 1 juta sampai Rp 2 juta.
Padahal hanya buka beberapa jam. Yaitu mulai beroperasi pukul 06.00 hingga pukul 10.00 Wita. Dengan omzet yang cukup besar itu, tidak sedikit pelaku usaha lainnya yang antre ingin masuk ikut berjualan.
”Tapi kami masih terkendala luas lahan. Ada rencana untuk diperluas,” ungkapnya.
Pengelola berencana untuk menambah 1.000 meter persegi lagi. Sehingga ke depan total akan menjadi 5.000 meter persegi. (Umar Wirahadi/r8)
Editor : Kimda Farida