LombokPost-Direktur Utama PT Air Minum (PTAM) Giri Menang Sudirman langsung tancap gas. Mendapat amanah sebagai pimpinan perusahaan daerah milik Pemkab Lombok Barat dan Mataram, sejumlah inovasi telah disiapkannya untuk membuat PT Air Minum Giri Menang terus bertumbuh.
”Yang pertama, kami targetkan kenaikan 4.500 sambungan baru tahun ini,” ucapnya.
Tambahan sambungan baru ini dibutuhkan agar perusahaan bisa memperluas cakupan sambungan yang saat ini baru kisaran 46 persen. Dia menargetkan agar cakupan ini bisa di atas 50 persen seiring bertumbuhnya angka penduduk Lombok Barat dan Mataram.
Selain menargetkan tambahan sambungan baru, Sudirman juga merencanakan sejumlah sumber air baku baru bagi PTAM Giri Menang. ”Tahun depan kami sudah mengurus izin SPAM Dodokan untuk meningkatkan cakupan layanan di Gerung, Lembar dan Sekotong,” ucapnya.
Jika SPAM Dodokan bisa terealisasi, cakupan layanan kebutuhan air bersih masyarakat Lobar di wilayah selatan bisa lebih besar dari saat ini. Apalagi, SPAM Dodokan memungkinkan ketersediaan air baku mencapai 100 liter per detik. Artinya, ini bisa melayani untuk kebutuhan 10 ribu sambungan baru.
Di tahun 2026 mendatang, PTAM Giri Menang berharap tidak ada kendala untuk SPAM Dodokan. ”Kami akan sesuaikan RTRW Lobar. Proyeksi potensi consumen sekitar 100 liter per detik,” sambungnya.
Kemudian untuk PTAM Giri Menang juga mendapatkan sumber air baku dari Bendungan Meninting. ”Kami juga dapat kuota 150 liter per detik. Itu bisa untuk 15 ribu sambungan baru, Insya Allah di tahun 2027,” paparnya.
Selain mencari sumber air baku baru, Sudirman mengatakan pihaknya berupaya menekan atau meminimilisi kehilangan air. Beberapa tahun terakhir, dia mengungkapkan pihaknya mengalami kehilangan air akibat kebocoran atau berkurangnya debit air. Secara teknis, akan ada beberapa solusi yang disiapkan.
Mulai dari merawat dan melakukan tanggung jawab sosial di sumber mata air, hingga menyiapkan layanan 24 jam. Sehingga angka kehilangan air akibat kebocoran pipa akan ditangani dengan menurunkan tim respons cepat.
”Laporan masyarat misal ada malam hari, itu tidak lagi harus menunggu ditindaklanjuti pagi. Tidak kami jawab menggunakan mesin tetapi benar-benar ada petugas yang siaga 24 jam,” tuturnya.
Sehingga pihaknya tidak butuh waktu lama menyelesaikan kebocoran. Mengingat saat ini usia teknis sebagian pipa yang ada sudah di atas 40 tahun. Sehingga dibutuhkan respons cepat untuk mengatasi masalah kebocoran. (ton/r8)
Editor : Pujo Nugroho