Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penyaluran MBG di Lobar Belum Merata, Sekolah Dekat Dapur SPPG Belum Kebagian MBG

Hamdani Wathoni • Sabtu, 24 Mei 2025 | 10:28 WIB

 

BELUM TERIMA MBG: Sejumlah murid Yayasan Pendidikan Islam Fityatul Ulum saat sedang belajar di ruang kelas mereka.
BELUM TERIMA MBG: Sejumlah murid Yayasan Pendidikan Islam Fityatul Ulum saat sedang belajar di ruang kelas mereka.

LombokPost - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Mesanggok, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat belum dipahami secara merata.

Sejumlah sekolah baik di bawah naungan Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan Lombok Barat sampai saat ini belum menerima paket MBG. Hal ini membuat mereka berpikir mengapa mereka belum menyentuh program ini. 

“Harapan terbesar kami, program MBG ini harus rata dan adil. Di Desa Mesanggok yang terdiri dari lima dusun seharusnya lembaga pendidikan kami juga diberikan supaya ada keadilan program MBG ini. Dari lima dusun ini, hanya dusun kami yang tidak dapat,” jelas Baiq Citra Handayani, pengelola YPI Fityatul Ulum. 

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Belum Merata, DPRD NTB Dewan Dorong Pemprov Perkuat Pengawasan MBG

Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Fityatul Ulum di Dusun Pelepok, Desa Mesanggok hingga kini belum menerima manfaat MBG.

Padahal lokasinya tidak jauh dari dapur umum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Hal ini membuat pihak sekolah tak bisa mengecewakannya. 

Baiq Citra menyebut program MBG ini tidak adil, mengingat seharusnya program ini dapat dinikmati secara merata oleh seluruh sekolah di Desa Mesanggok. 

Baca Juga: Penyaluran MBG di Lombok Barat Dapat Sorotan, Pihak SPPG Siap Berbenah

Citra menambahkan salah satu alasan yang sering disebut mengapa Fityatul Ulum belum mendapatkan MBG adalah karena statusnya sebagai sekolah swasta. Namun, argumen ini terasa janggal.

Sebab di dusun lain, ada lembaga pendidikan swasta yang justru telah menjadi penerima program MBG. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kriteria dan transparansi dalam penetapan penerima manfaat program.

Baca Juga: Jangkau Semua Sekolah, NTB Butuh 450 Dapur MBG, Ini Langkah BGN

”Kita ingin pemerataan agar anak-anak didikan kami yang PAUD maupun MI mendapatkan program MBG dari presiden Prabowo Subianto ini,” cetusnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pihak yayasan telah berulang kali mengusulkan data santri dan santriwati untuk ditunjuk sebagai penerima program ini.

Apalagi proses pendataan telah dilakukan sebanyak dua kali.

”Kami sudah menerima data, tapi kenyataannya sekarang kami tidak menerima program MBG ini,” ujarnya.

YPI Fityatul Ulum sendiri bukanlah lembaga pendidikan kemarin sore.

Yayasan ini telah dirintis sejak 2008 dan memiliki izin lengkap.

Sekolah tingkat PAUD telah berizin sejak tahun 2011, sementara MI yang berdiri pada tahun 2015, izinnya keluar setahun kemudian, yakni 2016. 

”Yayasan pendidikan kami terakreditasi C tahun 2018 dan sudah meluluskan peserta didik sebanyak empat kali,” papar Citra.

Baca Juga: Jangkau Semua Sekolah, NTB Butuh 450 Dapur MBG, Ini Langkah BGN

Jumlah santri MI berjumlah 71 orang, sementara untuk PAUD terdapat 64 anak didik.

Ketiadaan program MBG ini juga dirasakan langsung santri. Salah satu murid MI, Zofran, secara polos mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan makan gratis.

”Saya ingin mendapatkan program makan gratis, karena kalau teman-teman saya di sekolah lain dapat,” akunya.

Terpisah, Kepala SPPG Desa Mesanggok Made Febri Hariyadyana memberikan klarifikasi mengenai belum mendaftarkannya sekolah-sekolah sebagai penerima MBG.

Ia menjelaskan bahwa permasalahan ini telah dibicarakan dan akan diatasi pada tahap berikutnya.

”Nantinya, sekolah yang belum bisa ini pada tahap berikutnya. Setelah pengajuan proposal, bulan ini,” ujarnya.

Baca Juga: Lima Siswa SD Keracunan Usai Santap MBG, Tanggul Lombok Tengah Sebut Akibat Ini

Febri menambahkan bahwa program MBG sendiri baru dimulai pada 19-30 Mei 2025 untuk pengajuan proposal pertama.

Nantinya, pengajuan proposal tahap kedua akan dilakukan untuk menambah jumlah penerima manfaat.

Khususnya, sekolah-sekolah yang belum mendapatkan program ini akan diakomodasi dalam tahap kedua.

Berdasarkan data yang ada, target program MBG tahap pertama di wilayah tersebut mencapai 3.480 anak.

Namun, setelah berjalan, terdapat pengurangan siswa kelas III karena kelulusan ujian, sehingga data riil di lapangan yang hilang sekitar 3.256 siswa di tiga Desa.

”Jumlah sekolah yang disasar 25 sekolah.Terdiri dari 3 TK, 9 SD, 6 SMP, dan 7 SMA sederajat,” katanya.

Baca Juga: MTsN 2 Mataram Apresiasi Program MBG, Ini Loh Manfaatnya MBG Yang Dirasakan Sekolah

Di dalam jumlah tersebut, terdapat juga lima pondok pesantren.

Sasaran sekolah ini mencakup di beberapa desa, yakni Desa Mesanggok, Gapuk, dan Suka Makmur.

Bahkan, layanan MBG yang dilakukan tidak hanya berlokasi di wilayah Gerung, tetapi juga menyasar satu sekolah di Kecamatan Kediri. (***)

Editor : Kimda Farida
#Lombok Barat #Mbg