LombokPost - Di Pondok Pesantren Al Muslimun NWDI, Dusun Tegal, Desa Meninting, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, para santri menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan RI dengan cara yang unik dan penuh makna.
Mereka melukis dan menghias sekolahnya dengan aneka gambar bertema kemerdekaan.
Cat dan kuas berserakan.
Tawa dan celoteh anak-anak berbaur dengan kesibukan memulas warna-warni di atas sebuah kanvas yang tak biasa.
Bukan di atas kertas gambar atau selembar kain, tapi di atas kotak-kotak semen alias bok bunga yang selama ini hanya berfungsi sebagai wadah tanaman.
Kegiatan menghias dan melukis bagi para santri itu menjadi sebuah festival kreativitas dadakan.
Sebuah pesta warna yang melibatkan seluruh murid, dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) hingga Madrasah Aliyah (setara SMA).
Ketua Yayasan Ponpes Al Muslimun Afgan Kusumanegara menjelaskan, ide ini muncul sebagai alternatif dari perayaan kemerdekaan yang selama ini cenderung monoton.
”Menghias kampung menjadi hal yang lumrah dan sudah terlalu mainstream saat perayaan HUT Kemerdekaan. Maka, kami ingin membuat sesuatu yang berbeda, menghias sekolah dengan nuansa kemerdekaan,” ujar Afgan, sapaannya.
Bukan sekadar menggambar biasa, setiap kelompok siswa ditugaskan untuk menghias satu unit bok bunga berukuran jumbo, mulai dari satu hingga dua meter.
Aturannya sederhana, setiap tim diperbolehkan menggambar apa saja, dari imajinasi liar hingga tokoh pahlawan, asalkan ada satu larangan unik yang membuat para siswa tersenyum geli.
”Kami persilakan mereka menggambar apa saja asal jangan gambar bule berjemur,” ucapnya tersenyum.
Baca Juga: Sambut HUT ke-80 RI, Kanwil Kemenkum NTB Ikuti Jalan Santai Kerukunan
Kegiatan yang dilaksanakan sejak Jumat (15/8) dan berlanjut hingga Sabtu (16/8) itu langsung disambut antusias oleh para santri.
Mereka bergotong royong, bahkan urunan untuk membeli cat dan kuas demi menyulap bok-bok semen menjadi karya seni.
Selama proses pengerjaan, para guru mendampingi dan sesekali memberikan masukan, namun ide dan eksekusi sepenuhnya diserahkan kepada para siswa.
Ada yang sibuk membuat sketsa pemandangan alam, lengkap dengan gunung dan sawah.
Sebagian lagi asyik dengan karakter-karakter kartun favorit.
Sementara yang lain memilih tema-tema kebangsaan, seperti gambar para pejuang kemerdekaan yang gagah berani.
Uniknya, beberapa santri terlihat mengambil buku pelajaran mereka sebagai referensi. Mereka ‘mencontek’ dari buku biologi untuk menggambar anatomi binatang atau bahkan tengkorak.
Mengenai pilihan tema yang beragam, Afgan Kusumanegara tidak membatasi.
Dia bahkan menyebut salah satu contoh unik yang digambar siswa.
”Gambar apapun boleh, termasuk bendera One Piece. Tengkorak itu kan bagian dari biologi karena ada tengkoraknya,” cetusnya seraya terkekeh, menunjukkan betapa fleksibelnya batas-batas kreativitas di pondok tersebut.
Tujuan dari lomba ini pun jauh lebih dalam dari sekadar memeriahkan hari ulang tahun RI.
”Tujuannya agar bakat mereka tersalurkan. Daripada mereka menggambar di meja, tembok dan yang lainnya. Di sini, bakat mereka diarahkan ke hal-hal positif yang bisa dilihat banyak orang,” kata pria yang juga menjabat Kabag Kesra Setda Lombok Barat tersebut.
Dia menambahkan, kegiatan ini juga memiliki dampak ganda, yakni melatih kreativitas dan gotong royong anak, sekaligus memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal karena mereka membeli perlengkapan dari toko di sekitar.
Baca Juga: Cegah Bullying, Kemenag Mataram Bentuk Satgas di Ponpes
Antusiasme juga diungkapkan oleh salah satu peserta, Lena Itqiana, pelajar Madrasah Aliyah. Menurutnya, lomba ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan, melainkan kesempatan emas untuk berekspresi.
”Tentu sangat senang dengan ada lomba seperti ini. Kami dan santri lainnya bisa mengekspresikan diri, menuangkan imajinasi kami dalam corak warna-warni yang bisa dilihat banyak orang. Ini cara kami merayakan kemerdekaan, dengan melahirkan sesuatu yang indah,” ungkap Lena, sapaannya.
Lena dan beberapa rekannya memilih tema lukisan pemandangan pegunungan dekat perkotaan yang di atasnya bekibar bendera merah putih dengan nuansa senja.
Membuat mata yang memandang terpesona seketika seolah berada langsung di dalam lukisannya.
Di akhir perlombaan, Afgan Kusumanegara berjanji akan memberikan hadiah spesial bagi lima karya terbaik.
”Juaranya lima terbaik akan kami beri hadiah,” pungkasnya.
Dengan adanya lomba ini, semangat kemerdekaan yang meluap dari setiap sapuan kuas para santri di Ponpes Al Muslimun akan terus terpancar, membuktikan bahwa kemerdekaan sejatinya adalah ruang bagi setiap individu untuk berkarya, berkreasi, dan menyalurkan imajinasi mereka tanpa batas. (*)
Editor : Kimda Farida