Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wafat Hari Jumat, Legenda Wayang Sasak Lalu Nasib Dimakamkan di Gerung Sabtu Besok

Hamdani Wathoni • Jumat, 29 Agustus 2025 | 14:16 WIB
Sejumlah warga datang melayat ke rumah duka keluarga Lalu Nasib AR di Lingkungan Perigi, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, Jumat (29/8).
Sejumlah warga datang melayat ke rumah duka keluarga Lalu Nasib AR di Lingkungan Perigi, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, Jumat (29/8).

LombokPost – Dunia seni dan budaya Lombok kembali kehilangan salah satu maestro terbaiknya.

Dalang kondang sekaligus legenda Wayang Sasak, Lalu Nasib AR, wafat pada Jumat (29/8) sekitar pukul 12.30 Wita, bertepatan dengan waktu Salat Jumat.

Rencana keluarga, jenazah almarhum akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gerung pada Sabtu (30/8) selepas Salat Asar.

“Beliau wafat tadi saat waktu Salat Jumat. Sekarang jenazahnya disemayamkan di rumah keluarga di Gerung,” jelas keluarga Lalu Sajim Sastrawan sekaligus Ketua Majelis Adat Sasak, kepada Lombok Post.

Lalu Nasib dikenal luas sebagai sosok seniman paripurna.

Lelaki kelahiran 1941 ini mengabdikan hampir seluruh hidupnya di dunia pedalangan.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni, ia merupakan dalang otodidak yang jenius.

Sejak 1968, ia mulai aktif menekuni Wayang Sasak.

Hampir 60 tahun penuh, ia berkhidmat menjaga dan melestarikan seni pedalangan khas Lombok.

Tidak hanya piawai memainkan wayang, Lalu Nasib juga menguasai seni musik, seni rupa, bahkan seni peran.

Suaranya juga kerap mewarnai drama radio pada era keemasan siaran budaya di NTB.

“Beliau ini sosok yang lengkap. Dalang, seniman musik, seniman rupa, sekaligus seniman tutur. Sulit sekali mencari yang sebanding dengan beliau,” tambah Sajim.

Lalu Nasib menghembuskan napas terakhir di usia 84 tahun.

Beberapa waktu sebelumnya, almarhum sempat menjalani perawatan di RSUD Tripat Gerung akibat sakit yang dideritanya.

Namun, takdir berkata lain, ia wafat di rumahnya di Gerung dalam suasana yang tenang.

Almarhum meninggalkan dua istri, masing-masing berdomisili di Gerung dan Kebon Ayu, serta enam orang anak, dua laki-laki dan empat perempuan.

Bagi keluarga, Lalu Nasib adalah ayah sekaligus suami yang penuh kasih. Bagi masyarakat Lombok, ia adalah teladan dan panutan.

“Beliau bukan hanya milik keluarga, tetapi milik seluruh masyarakat NTB. Sosoknya akan selalu dikenang,” kata Sajim.

Kiprah panjang Lalu Nasib di dunia seni membuatnya dijuluki legenda Wayang Sasak.

Banyak generasi muda yang belajar langsung darinya.

Namun, Sajim berharap kepergian maestro ini menjadi momentum bagi lahirnya penerus.

“Harapannya ada Lalu Nasib baru di dunia budaya Lombok. Minimal lewat anak atau cucu beliau, Rino, yang bisa melanjutkan tradisi pedalangan. Idealnya, ada sekolah pedalangan khusus agar warisan budaya ini tidak punah,” ujarnya.

Bagi masyarakat Sasak, Wayang bukan sekadar hiburan.

Ia adalah media dakwah, pendidikan, sekaligus penguat identitas budaya.

Lalu Nasib adalah contoh nyata bagaimana seorang seniman mampu menjaga tradisi sambil terus menginspirasi lintas generasi.

Ratusan pelayat sudah mulai berdatangan ke rumah duka sebelum almarhum diantarkan ke peristirahatan terakhir di TPU Gerung.

Usai Salat Asar besok, prosesi pemakaman akan digelar secara sederhana namun khidmat.

Kepergian Lalu Nasib menjadi kehilangan besar, namun juga meninggalkan warisan abadi bagi Lombok dan NTB.

“Sosok beliau tidak akan tergantikan. Tapi semangat dan karyanya akan terus hidup dalam hati masyarakat,” tutup Sajim.

Editor : Kimda Farida
#wafat #Lombok Barat #seniman #wayang #Sasak