LombokPost--Sebanyak 20 kader posyandu di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, kini telah dibekali keterampilan vital dalam perawatan bayi baru lahir (BBL).
Pelatihan intensif ini merupakan inisiatif tim dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Mataram sebagai bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra, yang berfokus pada percepatan penurunan angka stunting dan kematian bayi di wilayah tersebut.
Kegiatan yang berlangsung 13-14 Juni 2025 ini dirancang untuk menjawab tantangan kesehatan dasar di tingkat masyarakat, di mana banyak ibu masih mengandalkan cara tradisional yang berisiko bagi kesehatan neonatal.
“Perawatan bayi baru lahir yang tepat, terutama dalam minggu-minggu pertama kehidupan, adalah fondasi utama pencegahan stunting dan infeksi. Kader posyandu yang terlatih menjadi ujung tombak perubahan perilaku di masyarakat,” papar Mutiara Rachmawati Suseno, selaku Ketua Tim Pengabdi Poltekkes Mataram, dalam rilis resminya.
Para kader tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga melakukan simulasi dan praktik langsung dengan pendampingan ketat dari para ahli. Modul pelatihan kader posyandu mencakup beberapa topik kritis:
-Cara memandikan bayi baru lahir yang aman dan benar.
-Perawatan tali pusat untuk mencegah infeksi.
-Teknik pemberian ASI eksklusif yang efektif.
-Strategi menjaga kehangatan bayi (termoregulasi).
-Mengenali tanda bahaya pada bayi baru lahir yang perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Metode pelatihan yang digunakan pun beragam, mulai dari video tutorial, demonstrasi, hingga studi kasus, untuk memastikan pemahaman yang komprehensif.
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan praktis para kader.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Desa Taman Ayu dan Puskesmas Gerung.
Kepala Desa Taman Ayu menyambut baik inisiatif ini dan berkomitmen untuk menjadikannya program berkelanjutan dalam strategi penurunan stunting di tingkat desa.
"Kemitraan yang kuat antara akademisi (Poltekkes Mataram), pemerintah desa, dan tenaga kesehatan lapangan (Puskesmas dan bidan desa) adalah kunci keberhasilan intervensi kesehatan berbasis masyarakat,” tambah Mutiara.
Sebagai tindak lanjut, para kader juga dilibatkan dalam kunjungan rumah ke ibu hamil trimester akhir dan ibu nifas untuk mempraktikkan langsung ilmu yang didapat sekaligus memberikan edukasi one-on-one.
Sebagai bentuk keberlanjutan, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pelatihan.
Tim menghasilkan beberapa luaran konkret:
-Modul pembelajaran perawatan BBL yang akan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).
-Video edukasi yang dapat diakses oleh kader dan masyarakat luas.
-Publikasi artikel di media massa dan jurnal ilmiah.
Dengan langkah strategis ini, diharapkan terjadi peningkatan berkelanjutan dalam pengetahuan dan praktik perawatan bayi baru lahir di Lombok Barat, yang pada akhirnya akan mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dalam menurunkan angka kematian bayi dan prevalensi stunting.
Editor : Kimda Farida