Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Puluhan Tahun Tinggal di Rumah Lapuk, Warga Taman Ayu Bersyukur Dapat Bantuan Mahyani dari Baznas Lobar

Hamdani Wathoni • Rabu, 5 November 2025 | 16:32 WIB
SALURKAN BANTUAN: Ketua Baznas Lombok Barat TGH Taisir Al Azhar secara simbolis menyalurkan bantuan Mahyani kepada warga Desa Taman Ayu, Selasa (4/11).
SALURKAN BANTUAN: Ketua Baznas Lombok Barat TGH Taisir Al Azhar secara simbolis menyalurkan bantuan Mahyani kepada warga Desa Taman Ayu, Selasa (4/11).

LombokPost - Bantuan perbaikan rumah layak huni (Mahyani) Baznas Lombok Barat memberikan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat penerima. Hal tersebut terlihat ketika penyaluran dilakukan di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung.

Sahrun, 56 tahun, warga Dusun Bongor, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, tak mampu perasaan bahagia ketika beberapa orang dari Baznas Lombok Barat daatang ke Kantor Desa Taman Ayu, Selasa (4/11).

Setelah puluhan tahun tinggal di rumah miring berdinding anyaman bambu yang lapuk dimakan usia, kini harapannya untuk memiliki rumah layak huni bersama beberapa warga lainnya akhirnya terwujud.

"Sekitar 30 tahun sejak baru menikah saya menempati rumah yang saya tempati sampai sekarang belum pernah diperbaiki," akunya kepada wartawan. Dinding bambunya sudah rapuh dan hampir roboh. Meski sudah terlihat tak layak ditempati, tak ada pilihan lain. Sahrun dan keluarganya tetap tinggal di rumah tersebut.

"Alhamdulillah hari ini saya mendapat bantuan rumah layak huni dari Baznas Lombok Barat. Terima kasih atas kepeduliannya, semoga semua yang terlibat diberi keberkahan oleh Allah SWT," ujar Sahrun dengan mata berkaca-kaca.

Sahrun sehari-hari bekerja sebagai buruh batu. Penghasilannya yang tak menentu membuatnya mustahil memperbaiki rumah warisan orang tuanya. Kini, dengan bantuan Mahyani (Rumah Layak Huni) dari Baznas, ia bisa menatap masa depan yang lebih baik bersama keluarganya. Bagi Sahrun, bantuan yang diterima menjadi awal babak baru kehidupan.

"Sekarang saya tidak perlu khawatir rumah roboh lagi. Anak cucu saya bisa tinggal dengan aman," katanya. Ketua Baznas Lombok Barat TGH Taisir Al Azhar menjelaskan, pada tahun 2025 pihaknya menargetkan pembangunan 55 unit rumah layak huni di berbagai wilayah. Nilai rata-rata bantuan mencapai Rp 25 juta per unit.

"Ada juga rumah dengan nilai pembangunan Rp 35 juta per unit yang merupakan hasil kerja sama dengan Islamic Relief. Total nilainya menjadi Rp 70 juta per rumah termasuk perabotan dasar senilai Rp 6 juta lebih," jelasnya.

Kerja sama antara Baznas Lombok Barat dan Islamic Relief ini telah berlangsung setahun terakhir. Masing-masing lembaga berkontribusi dana sebesar Rp 35 juta dalam skema sharing fund.

Sementara itu, khusus di Desa Taman Ayu dan Desa Mareje, terdapat 20 unit rumah yang pembangunannya merupakan hasil kerja sama Baznas Lombok Barat dengan Baznas Provinsi NTB. Masing-masing unit mendapat alokasi Rp 25 juta.

"Proses penentuan lokasi dilakukan melalui Rakernis Baznas se-NTB, di mana Baznas Provinsi menetapkan desa penerima," tambah TGH Taisir.

Penerima bantuan merupakan warga kategori miskin ekstrem, masuk desil I Data Dinas Sosial Lombok Barat.

"Kalau bahasa agamanya penerima adalah mereka yang memang berhak karena masuk kategori fakir," jelasnya.

Kepala Desa Taman Ayu M Tajudin menyampaikan rasa syukur atas perhatian Baznas terhadap warganya.

Meski demikian, ia berharap bantuan tidak berhenti pada 10 unit rumah saja.

"Desa kami sebenarnya mengajukan 25 unit, tapi baru mendapat 10. Kami akan terus berjuang untuk sisanya, baik melalui Baznas maupun donatur lain," katanya.

Tajudin juga menyoroti kurangnya perhatian dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Lobar.

"Kami sudah beberapa kali mengajukan bantuan RTLH, tetapi dari program Desa Taman Ayu tidak mendapat satu pun alokasi," keluhnya.

Menurutnya, setengah dari persoalan kemiskinan di desanya bersumber dari kondisi rumah warga yang tidak layak huni.

"Kalau masalah rumah bisa diselesaikan, maka kemiskinan pun akan berkurang," ujarnya.

Pemerintah desa kini tengah melakukan pendataan mandiri rumah tidak layak huni.

Pendataan versi desa dinilai lebih detail dan ketat, bahkan rumah tembok kecil 2x3 meter tanpa kelengkapan dasar pun bisa masuk kategori RTLH.

Data ini akan dijadikan dasar untuk pengajuan program 2026 mendatang. (*)

Editor : Kimda Farida
#Baznas #rumah layak huni #Lombok Barat #PEDULI