Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dinas Ketapang Lobar Gandeng PKK Desa Kembangkan Dapur B2SA Tangani Stunting

Hamdani Wathoni • Kamis, 20 November 2025 | 08:45 WIB
BERI EDUKASI: Pihak dari Dinas Ketapang Lobar bersmaa PKK Desa saat mensosialisasikan dapur B2SA untuk menangani stunting.
BERI EDUKASI: Pihak dari Dinas Ketapang Lobar bersmaa PKK Desa saat mensosialisasikan dapur B2SA untuk menangani stunting.

LombokPost - Di tengah gempuran makanan instan yang makin merajalela, Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Lombok Barat terus berupaya mengubah pola konsumsi masyarakat menuju pangan yang B2SA—Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman.

Pola konsumsi ini dinilai menjadi kunci peningkatan kualitas gizi masyarakat sekaligus strategi penting dalam percepatan penanganan stunting di daerah.

Untuk memperkuat edukasi dan implementasi program, Dinas Ketapang menggandeng kader PKK desa melalui program Dapur B2SA. Kolaborasi ini menekankan pemanfaatan bahan pangan lokal yang murah, mudah didapat, dan tersedia melimpah di lingkungan sekitar.

Kepala Dinas Ketapang Lombok Barat Afgan Kusumanegara menjelaskan, program Dapur B2SA dilaksanakan di tujuh desa sasaran. “Ada tujuh desa kami sasar. Di antaranya Rumak, Dasan Baru, Ombe Baru, Dasan Geres, dan beberapa desa lain,” ungkapnya, Rabu (19/11).

Program ini memanfaatkan anggaran DBHCHT dan menyasar wilayah yang dikenal sebagai sentra pertanian tembakau.

Menurut Afgan, salah satu tantangan besar adalah anggapan masyarakat bahwa makanan bergizi harus mahal. Padahal, imbuhnya, banyak bahan pangan lokal yang bergizi tersedia di sekitar rumah. “Sayur-sayuran, umbi, hingga tanaman pekarangan sebenarnya sangat bergizi. Hanya saja masyarakat belum terbiasa mengolahnya menjadi makanan yang menarik dan enak,” ujarnya.

Melalui Dapur B2SA, PKK desa diminta mengembangkan menu lauk pauk dan pangan olahan lain berbahan dasar pangan lokal. Sebagian besar bahan dapat diperoleh tanpa biaya besar, sehingga cocok untuk keluarga ekonomi menengah ke bawah. Pengolahan dilakukan dengan teknik sederhana namun menghasilkan makanan bernutrisi tinggi.

Afgan mencontohkan pemanfaatan daun tanaman bebele serta olahan tahu campur sayur sebagai menu sehat. Ia menyebut, banyak anak kurang menyukai sayur, sehingga perlu inovasi agar gizi tetap terpenuhi.

“Tahu dan sayur diremas lalu dicampur, sehingga tidak terlihat oleh anak-anak. Dibungkus daun, tampilannya bagus, rasanya enak, dan bergizi,” jelasnya.

Tak hanya sayur, sejumlah bahan pangan lain yang selama ini kurang dimanfaatkan, seperti siput sawah, ikan teri, dan buah labu, juga diajarkan pengolahannya. Bahan-bahan tersebut diketahui memiliki kandungan gizi tinggi dan dapat diolah menjadi makanan yang bukan hanya sehat, tetapi juga bernilai ekonomi.

“Kami ajarkan cara mengolah pangan lokal tanpa biaya besar. Kalau hasilnya lebih, bisa dijual. Ini bisa menambah pemasukan keluarga,” ujarnya. Ia berharap inovasi pangan tersebut dapat menjadi alternatif menu harian keluarga kurang mampu, sementara keluarga ekonomi menengah ke atas tetap memiliki pilihan untuk mengonsumsi pangan bernilai lebih mahal.

Sebagai bagian dari edukasi, Dinas Ketapang juga aktif memproduksi video tutorial masak B2SA. Video tersebut menampilkan staf ahli masak pada dinas serta kader PKK yang menunjukkan langkah pembuatan makanan lokal bergizi. Seluruh konten kemudian disebarkan melalui media sosial untuk menjangkau lebih banyak warga, terutama ibu hamil, menyusui, dan keluarga dengan balita.

Di sisi lain, dinas juga mendorong masyarakat memanfaatkan tomat saat harga anjlok. Tomat diolah menjadi manisan maupun produk kukusan B2SA. “Kami punya tagline ‘Kenyang Tidak Harus Makan Nasi’. Ini untuk mengajak masyarakat lebih kreatif mengolah pangan lokal,” kata Afgan.

Melalui gerakan ini, Dinas Ketapang optimistis edukasi B2SA dapat membentuk pola konsumsi baru yang lebih sehat, murah, dan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka stunting di Lombok Barat serta meningkatkan ketahanan pangan keluarga dari tingkat desa.

Editor : Akbar Sirinawa
#bergizi #seimbang dan aman #Lombok Barat #dinas ketahanan pangan #PKK