LombokPost - Di mata penyandang disabilitas dan keluarganya di Lombok Barat, nama Mindie Schreurs bukanlah sosok asing. Kehadirannya kerap disebut sebagai malaikat tanpa sayap yang mendedikasikan hidup untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus di Pulau Lombok.
Mindie terlihat anggun dan ramah. Sekilas banyak yang mengira dia keturunan Arab. Beberapa orang ada yang terkecoh dengan wajah perempuan asal Belanda ini setelah dibalut dengan hijab. Namu yang sudah lama mengenalnya, pasti paham dengan latar belakang Mindie.
Melalui LombokCare Foundation, Mindie menjadi penggerak berbagai layanan terapi, edukasi, hingga pendampingan keluarga dengan perhatian yang nyaris tanpa batas. Belum lama ini, Mindie menggelar sebuah workshop di Puskesmas Sekotong.
Kegiatan tersebut melibatkan bidan, koordinator bidan, kepala puskesmas, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta relawan Entry Foundation. Fokusnya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini berbagai kondisi disabilitas pada anak.
"Tujuan utama kami adalah memastikan deteksi dini bisa dilakukan di tingkat layanan kesehatan pertama. Semakin dini ditemukan, semakin besar peluang anak untuk pulih tanpa operasi besar," ujar Mindie menegaskan.
Perjalanan Mindie bersama Lombok ternyata tidak terjadi secara kebetulan. Perempuan asal Belanda itu pertama kali menginjakkan kaki di Lombok pada tahun 1995 saat berlibur bersama keluarga. Sejak itu, ia mengaku jatuh cinta pada keramahan masyarakat, keindahan alam, dan energi positif yang ia rasakan selama berada di pulau ini.
"Saya senang dengan Lombok. Orang-orangnya familiar dan ramah,” kenangnya. Kini ia tinggal di Dusun Kerandangan, Desa Senggigi, bersama suaminya dan tiga anak yang semuanya lahir di Lombok Barat.
Sebelum mendirikan yayasan, Mindie dan keluarganya rutin menyalurkan sembako kepada warga kurang mampu. Perhatian itu terus tumbuh hingga pada 2008 mereka resmi mendirikan LombokCare di Belanda, sebelum akhirnya hadir secara resmi di Lombok pada 2012.
Selama lebih dari satu dekade mendampingi keluarga disabilitas, Mindie melihat masih banyak tantangan besar, terutama terkait penanganan disabilitas fisik. "Banyak anak datang dalam kondisi fisik berat," ujarnya. Ia mencontohkan kasus anak dengan epilepsi dan pembesaran kepala yang terlambat mendapat perawatan.
"Kami mendorong agar penanganan dilakukan sedini mungkin sehingga hasilnya jauh lebih baik," imbuhnya.
Melalui edukasi, pendampingan keluarga, dan pelatihan tenaga kesehatan, LombokCare berusaha memutus rantai keterlambatan penanganan tersebut. Tak hanya layanan kesehatan, LombokCare juga mengelola Sekolah Luar Biasa swasta yang menampung siswa dari Lombok Barat, Lombok Tengah, Kota Mataram, hingga Lombok Utara.
Di pusat kegiatan yayasan yang berada di Dusun Aik Are, Desa Tunjung Are, Kecamatan Batulayar, anak-anak bisa mendapatkan layanan fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara, hingga kegiatan belajar-mengajar yang ramah kebutuhan khusus.
"Visi LombokCare adalah memperjuangkan hak-hak anak berkebutuhan khusus, terutama mereka yang miskin dan tidak mampu, agar mendapatkan masa depan yang lebih baik sesuai potensinya," jelas Mindie.
Upaya tersebut membawa LombokCare meraih Juara I Creative Disabilities Award 2020 tingkat nasional, sebuah pengakuan atas dedikasi mereka untuk dunia disabilitas. Dalam kesederhanaannya, Mindie selalu menyebut apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang besar.
Namun bagi ratusan anak disabilitas di Lombok, perempuan bermata teduh itu adalah harapan. Harapan bahwa mereka tidak sendiri, dan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan dengan kasih, perhatian, dan kesempatan. (*)
Editor : Jelo Sangaji