LombokPost - Riuh rendah suara tabuh gending mengiringi sabetan rotan penjalin. Di tengah arena, dua pepadu bertelanjang dada mengadu ketangkasan dalam tradisi Peresean yang melegenda. Namun, pemandangan kali ini terasa berbeda.
Tak ada lagi penonton yang harus bersusah payah memanjat pohon atau meniti pagar tembok demi mengintip jalannya laga. Kini, tradisi kebanggaan masyarakat Sasak itu memiliki rumah yang lebih megah dan representatif yakni Koloseum Lombok Barat yang telah diperluas. Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha yang hadir langsung menyaksikan geliat budaya tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.
Menurutnya, perluasan fasilitas ini bukan sekadar urusan fisik bangunan, melainkan upaya meningkatkan martabat dan kenyamanan penonton serta pelaku seni.
"Perluasan Koloseum ini memang mendesak untuk memperluas daya tampungnya. Kita ingin kapasitasnya lebih banyak, namun dengan keamanan yang jauh lebih terjaga dibandingkan sebelumnya," ujar Ummi Nurul, sapaan akrabnya sambil tersenyum melihat tertibnya arus penonton.
Mengingat ke belakang, setiap gelaran besar di lokasi ini seringkali diwarnai oleh aksi nekat warga yang ingin menonton. Karena terbatasnya tribun, banyak yang rela memanjat tembok hingga naik ke dahan pohon yang berisiko tinggi. Kondisi itu kini mulai terkikis seiring dengan penataan ruang yang lebih modern.
"Dulu kita sering lihat ada yang naik tembok, naik pohon, dan sebagainya. Sekarang jauh lebih representatif untuk menampung lebih banyak lagi penonton," imbuhnya.
Dengan tata letak yang lebih luas, alur keluar-masuk pengunjung pun menjadi lebih tertib dan terkendali. Menariknya, visi Pemkab Lombok Barat terhadap Koloseum ini tidak berhenti pada urusan olahraga tradisional semata. Lokasi ini diproyeksikan menjadi pusat ekosistem kreatif di Lombok Barat. Ruang yang kini lebih lapang memungkinkan berbagai kegiatan lintas sektor digelar di sini.
"Ini bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk Peresean, tetapi juga atraksi atau pagelaran apapun. Konser musik pun bisa dilakukan di sini. Suasananya lebih aman, tertib, dan lebih terjaga," jelas sosok pemimpin perempuan yang dikenal dekat dengan masyarakat ini.
Di tengah riuhnya laga Peresean, terutama saat anak-anak ikut unjuk gigi mencari pepadu baru, Ummi Nurul memberikan catatan penting. Baginya, Peresean adalah sarana edukasi sportivitas, bukan ajang kekerasan.
"Peresean untuk mencari pepadu dari anak-anak ini saya kira hiburan saja. Ini bukan permainan yang membuat anak-anak bermusuhan, sama sekali tidak," tegasnya.
Peresean justru menjadi ajang bagi generasi muda untuk mengenal jati diri budayanya sejak dini dalam koridor sportivitas yang sehat. Kini, dengan wajah baru Koloseum, Lombok Barat siap menyambut mata dunia. Bukan hanya melalui pariwisata alamnya, tetapi juga lewat kemegahan panggung budayanya yang lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi semua kalangan. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam