LombokPost - Sejarah terukir kala PMI Lombok Barat meresmikan dan melantik Palang Merah Remaja (PMR) dan Korps Sukarela (KSR) di lingkungan Pondok Pesantren Al-Islahuddiny Kediri.
Riuh rendah suara santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlahuddiny Kediri, Lombok Barat, siang itu terasa berbeda. Di tengah kekhidmatan rangkaian Haul Majemuk ke-33, sebuah sejarah baru bagi gerakan kepalangmerahan di Nusa Tenggara Barat resmi terukir.
Untuk kali pertama, unit Palang Merah di tingkat pesantren dikukuhkan secara kolektif, membawa semangat kemanusiaan ke dalam kurikulum kehidupan para santri. Bagi Ketua PMI Kabupaten Lombok Barat Haris Karnaen, momen ini bukan sekadar seremoni pelantikan pengurus. Ini adalah langkah besar menuju inklusivitas gerakan kemanusiaan.
Di Aula Terbuka Ponpes Al-Islahuddiny, PMI Lobar enyapa Kediri. Haris Karnaen tampak antusias menjelaskan visi di balik pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) dan Korps Sukarela (KSR) di lingkungan pesantren.
"Kami ingin PMI ini lebih eksklusif dalam artian menyentuh seluruh lapisan, termasuk menyiapkan generasi penerus dari kalangan santri," ujar Haris dengan nada optimistis.
Menurutnya, inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan PMI Pusat dan Provinsi untuk memperluas jejaring relawan. Haris tak menampik bahwa keterlibatan pesantren dalam struktur resmi PMI adalah hal baru yang luar biasa.
"Ini baru pertama kali kita adakan di pondok pesantren. Harapannya, Al-Ishlahuddiny menjadi role model bagi pesantren-pesantren lain untuk membentuk kepengurusan serupa," tambahnya.
Senada dengan Haris, Ketua Panitia Haul Majemuk ke-33 H Hambali menyambut hangat kolaborasi ini. Pria yang juga alumni Ponpes Al-Ishlahuddiny angkatan 1994 ini melihat bahwa nilai-nilai kepalangmerahan sangat selaras dengan ajaran agama yang selama ini dipelajari santri.
"Kita ingin santri ke depan punya empati kemanusiaan yang tinggi. Menjadi santri yang selalu siap ketika dibutuhkan, menjadi Khoirunnas Anfauhum Linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama)," ungkap Hambali dengan penuh semangat.
Bagi Hambali, santri masa kini tidak boleh hanya terpaku pada peran tradisional sebagai calon ustaz atau ustazah di mimbar. Mereka harus mampu turun ke lapangan, sigap melakukan pertolongan pertama, dan memiliki jiwa sosial yang tangguh. Kehadiran PMI di dalam pesantren dianggap sebagai instrumen yang tepat untuk mengasah kepekaan sosial tersebut.
"Insya Allah, pola ini akan kita sampaikan juga ke wilayah lain seperti Lombok Tengah. Kita ingin alumni pesantren tidak hanya ahli dalam agama, tapi juga menjadi pionir kemanusiaan di masyarakat," pungkas Hambali.
Editor : Akbar Sirinawa