LombokPost – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung program kesejahteraan santri dan masyarakat melalui penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah pusat.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) NU di Ponpes Darul Qur'a Bengkel Lombok Barat, Sabtu (21/2).
"SPPG di Lombok yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel Nusa Tenggara Barat (NTB) ini merupakan yang ke SPPG yang ke-41 yang kami resmikan bersamaan dengan beberada daerah lain," jelas Gus Yahya, sapaannya.
Langkah ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis antara Tim Konsultasi dan Akselerasi Program Makan Bergizi (MBG) yang dibentuk PBNU dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Gus Yahya menjelaskan bahwa kehadiran 41 satuan pelayanan baru ini menambah daftar panjang titik distribusi yang sudah berjalan.
"Hingga saat ini, sudah ada sekitar 200-an SPPG NU yang telah beroperasi di seluruh Indonesia. Selain itu, terdapat ratusan titik lainnya yang saat ini masih dalam proses integrasi di dalam sistem BGN," ujar Gus Yahya di sela-sela kunjungannya.
Gus Yahya optimis bahwa target yang telah dicanangkan bersama Kepala Badan Gizi Nasional akan segera terealisasi. PBNU menargetkan pembangunan hingga 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia guna memastikan jangkauan program makan bergizi gratis ini lebih merata dan tepat sasaran.
Adapun 41 SPPBG yang baru diresmikan ini mencakup wilayah yang cukup luas. Selain di NTB, titik-titik tersebut tersebar di beberapa provinsi kunci di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Peresmian di Lombok ini sendiri merupakan gelaran keempat setelah sebelumnya dilakukan di Cirebon, Jember, dan Batang. Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya memberikan penekanan terkait kualitas layanan.
Dia mengingatkan seluruh tim pelaksana, baik dari tenaga kerja maupun jaringan SPPG NU, untuk bekerja dengan hati dan penuh ketelitian.
Baginya, keamanan dan kualitas gizi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
"Murid, santri, dan para penerima manfaat dari program MBG ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah anak-anak kita. Kita tidak boleh membiarkan satu pun di antara mereka mengalami hal yang tidak diinginkan dalam menerima manfaat program ini," tegas Gus Yahya.
Dia menyerukan agar seluruh pihak menjaga betul jalannya program ini, mengingat kesehatan para santri adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Komitmen PBNU dalam mengawal program Makan Bergizi ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagaimana organisasi keagamaan dapat berperan aktif dalam program strategis nasional demi menciptakan generasi emas yang sehat dan kompetitif.
Sementara Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal yang hadir dalam peresmian SPPG tersebut menekankan pentingnya peran pesantren dalam mengelola program MBG.
Dia melihat peluang besar bagi pesantren untuk mencapai kemandirian finansial dan menciptakan ekosistem ekonomi tertutup.
"Pesantren tidak perlu lagi bergantung pada bantuan luar karena punya penghasilan tetap (fixed income) dari SPPG. Jika jamaah diberdayakan untuk memelihara ayam petelur atau menanam cabai, maka kebutuhan dapur SPPG bisa terpenuhi dari internal mereka sendiri," jelasnya.
Ia berharap ke depannya pesantren tidak hanya mengelola dapur, tetapi juga merambah ke industri derivatif seperti pabrik roti hingga peternakan sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu.
"Jika target seribu dapur tercapai, bayangkan kekuatan ekonomi keumatan yang tercipta. Ini adalah awal yang baik untuk penguatan ekonomi berbasis pesantren," pungkasnya.
Editor : Kimda Farida