Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TGH Surur Sebut Baju Lebaran Dianjurkan, Tapi Jangan Sampai Menghilangkan Makna Idul Fitri

Hamdani Wathoni • Minggu, 15 Maret 2026 | 12:10 WIB

TGH Moh Surur Ibrahim
TGH Moh Surur Ibrahim

LombokPost – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Lombok, mulai disibukkan dengan tradisi berburu baju lebaran.

Fenomena tersebut dinilai sebagai sesuatu yang wajar selama tidak menggeser makna utama dari perayaan Idul Fitri sebagai momentum kemenangan spiritual setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan.

Pembina Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat, TGH Moh Surur Ibrahim, mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga esensi ibadah di penghujung Ramadan. Ia menilai, mengenakan pakaian terbaik saat hari raya memang dianjurkan dalam syariat Islam sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

“Dalam syariat Islam, memakai pakaian terbaik pada hari raya merupakan bagian dari menampakkan nikmat atau tahadduts bin ni’mah. Itu adalah bentuk kegembiraan yang dianjurkan sebagai wujud syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh,” ujarnya.

Baca Juga: MGPA Bagikan Bingkisan Lebaran untuk Warga Desa Kuta dan Buka Puasa Bersama di Sirkuit Mandalika

Namun demikian, ia menegaskan bahwa semangat untuk tampil rapi dan mengenakan pakaian baru hendaknya tidak sampai mengaburkan makna Idul Fitri itu sendiri. Menurutnya, membeli pakaian baru diperbolehkan, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomi, selama tetap berada dalam koridor kesederhanaan dan tidak berlebihan.

Fenomena berburu diskon atau berbelanja secara berlebihan menjelang akhir Ramadan, lanjutnya, sering kali menyita waktu dan perhatian masyarakat. Padahal, sisa hari dan malam terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat berharga untuk memperbanyak ibadah.

“Jangan sampai hiruk-pikuk berburu baju lebaran justru membuat kita lalai dari malam-malam terakhir Ramadan yang penuh kemuliaan. Seharusnya waktu tersebut dimanfaatkan untuk memperbanyak tilawah Alquran, doa, dan munajat kepada Allah SWT,” jelasnya.

Ia menambahkan, hakikat Idul Fitri bukan sekadar perayaan lahiriah yang ditandai dengan pakaian baru atau hidangan istimewa. Lebih dari itu, Idul Fitri merupakan simbol kemenangan batin setelah umat Islam berhasil menahan hawa nafsu selama Ramadan.

Menurutnya, pakaian terbaik yang seharusnya dimiliki setiap muslim adalah pakaian takwa. Hal tersebut tercermin dari hati yang damai, akhlak yang mulia, serta hubungan yang baik dengan sesama manusia.

“Pakaian terbaik yang sesungguhnya adalah pakaian takwa. Itu tercermin dari hati yang bersih, akhlak yang baik, serta hubungan yang harmonis dengan sesama,” tambahnya.

Selain tradisi berburu baju lebaran, kemeriahan menyambut Idul Fitri di Lombok Barat juga identik dengan pawai takbiran yang digelar masyarakat pada malam hari raya. Tradisi tersebut dinilai sebagai bentuk syiar Islam yang positif selama tetap dijalankan sesuai dengan nilai-nilai syariat.

TGH Surur menilai gema takbir yang dikumandangkan bersama dalam pawai takbiran merupakan ekspresi kegembiraan umat Islam setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan.

“Kemeriahan takbiran yang kita lihat setiap tahun di Lombok Barat adalah bentuk syiar yang sangat baik. Gema takbir yang dikumandangkan merupakan ungkapan rasa syukur atas kemenangan iman setelah menjalani ibadah Ramadan,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga ketertiban, adab, serta keselamatan selama mengikuti kegiatan tersebut. Pawai takbiran hendaknya tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi tetap menjaga nilai ibadah yang menjadi tujuan utama.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara semangat merayakan malam takbiran dengan kewajiban ibadah lainnya, termasuk menunaikan shalat Subuh pada pagi hari Idul Fitri.

“Jangan sampai semangat mengagungkan nama Allah pada malam hari justru membuat kita kecolongan dan melewatkan shalat Subuh. Padahal, shalat Subuh pada hari raya merupakan pintu awal keberkahan sebelum kita melaksanakan shalat Id,” tegasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga keseimbangan antara tradisi budaya dan tuntunan agama agar perayaan Idul Fitri benar-benar membawa keberkahan.

“Mari kita jaga agar budaya yang indah ini tetap berjalan seiring dengan tuntunan syariat. Dengan begitu, hari kemenangan yang kita rayakan benar-benar sempurna, baik secara lahir maupun batin,” pungkasnya.

Editor : Kimda Farida
#lebaran #baju baru #idul fitri #NTB #ulama #Lombok