LombokPost - Setelah sempat tak dilaksanakan tahun 2025, program Mudik Gratis Kemenhub kembali diadakan tahun 2026 ini. Program ini pun mendapat antusias ratusan warga Lombok yang rindu pulang ke kampung halamannya di Pulau Jawa.
Jarum jam baru menunjukkan pukul 11.30 WITA di Pelabuhan Pelindo Lembar, Lombok Barat. Panas menyengat tak menyurutkan langkah Kasmen. Pria asal Sragen, Jawa Tengah, ini sudah berdiri antre di depan gerbang keberangkatan. Di sampingnya ada beberapa warga lainnya yang terlihat bersama keluarga besarnya tampak sumringah.
Bagi Kasmen dan ratusan warga lainnya, Minggu (15/3) itu bukan sekadar perjalanan pulang kampung biasa. Mereka adalah rombongan peserta program mudik gratis lintas laut Lombok–Surabaya yang diselen
"Ini adalah program yang sangat kami tunggu karena besar sekali manfaatnya bagi masyarakat," ujar Kasmen dengan logat Jawanya.
Wajahnya tak menunjukkan lelah meski harus bersiap berangkat di bawah terik matahari. Bagi pria yang menetap di Sandubaya, Mataram ini, program mudik gratis adalah berkah menjelang Idul Fitri.
Senada dengan Kasmen, Siti Mulyani warga lainnya mengaku sangat terbantu. Tahun lalu, dia dan keluarganya harus merogoh kocek cukup dalam untuk tiket kapal reguler. Namun tahun ini, anggaran tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan lain di kampung halaman. "Senang sekali, jauh lebih irit. Apalagi kami sekeluarga besar," katanya sambil tertawa.
Namun, yang membuat para pemudik ini makin antusias bukan sekadar gratisnya, melainkan fasilitas yang mereka dapatkan. Mereka diberangkatkan menggunakan KM Kirana VII, kapal yang dikenal sebagai "hotel terapung" di rute Lombok–Surabaya.
Fasilitas yang disediakan tak main-main. Selama kurang lebih 20 jam perjalanan, pemudik mendapatkan dua kali jatah makan. Bagi pengemudi truk logistik yang ikut serta, mereka bahkan dimanjakan dengan fasilitas pijat dan laundry gratis agar tetap bugar saat tiba di tujuan.
"Kami tidak membedakan pelayanan penumpang gratis dengan reguler. Semua bisa menikmati hiburan live music, kafetaria, ruang gym, hingga area bermain anak," ujar Manajer Cabang DLU Lembar Firman Dandi.
Salah satu keunggulan unik Kirana VII adalah rute costal atau menyisir tepian pulau. Hal ini membuat sinyal telepon seluler tetap stabil sepanjang perjalanan. "Paling hanya hilang sinyal sekitar 2-3 jam saja di tengah, selebihnya lancar. Jadi bisa sambil kerja atau tetap komunikasi dengan keluarga di Jawa," tambahnya.
Bagi pemudik seperti Pak Yanto, kenyamanan adalah kunci. Ia memuji fasilitas tempat tidur yang bersih dan pendingin ruangan (AC) yang sejuk. "Gak kerasa capeknya kalau kapalnya begini. Ada TV, musik, bahkan organ tunggal juga ada buat hiburan," ungkapnya.
Saat jangkar mulai diangkat dan kapal perlahan meninggalkan pelabuhan, lambaian tangan para pemudik menjadi pemandangan yang menyentuh. Di balik riak ombak Selat Lombok, ada ribuan rindu yang sedang diantar menuju pelukan keluarga di tanah Jawa dengan cara yang nyaman, aman, dan tanpa beban biaya. (*)
Editor : Redaksi Lombok Post