LombokPost - Namanya mungkin tak segarang Gili Trawangan yang selalu bising dengan pesta. Namun, bagi mereka yang memburu hening dan dekapan alam yang murni, Gili Nanggu adalah jawaban.
Pulau mungil di sekujur perairan Sekotong, Lombok Barat ini, perlahan menjelma menjadi pelarian favorit. Tak hanya bagi pelancong mancanegara, tapi juga deretan pesohor tanah air.
Sebut saja Ariel Noah, Raffi Ahmad, hingga Wulan Guritno. Nama-nama besar ini pernah menjejakkan kaki di atas pasir putihnya yang lembut.
Baca Juga: Safari Ramadan Perdana, LAZ Tegaskan Komitmen Bangun Sekotong
Mereka datang bukan untuk tampil di panggung, melainkan untuk menghilang sejenak dari sorot lampu kamera dan hiruk pikuk perkotaan.
”Gili Nanggu itu tempat untuk menyegarkan pikiran. Benar-benar untuk healing,” ujar
Ben Eang Samudera, salah seorang pengusaha transportasi laut yang menyeberangkan wisatawan dari Dermaga Tawun menuju pulau tersebut.
Tak hanya artis ibu kota, daya tarik Gili Nanggu telah merambah benua biru. Ben mengungkapkan, hampir setiap hari wisatawan mancanegara hilir mudik di sini.
”Yang paling dominan itu dari Eropa, terutama turis-turis dari Italia,” tambahnya.
Apa yang mereka cari? Jawabannya adalah eksklusivitas. Berbeda dengan gili-gili lain yang padat pemukiman dan penginapan, Gili Nanggu menawarkan nuansa yang lebih privat dan menyatu dengan alam.
Baca Juga: Peringati Bulan K3 2026, Pertamina IT Ampenan Tanam 1.000 Mangrove di Sekotong
Kejernihan airnya bahkan memungkinkan pengunjung untuk bercengkerama dengan kawanan ikan tanpa harus berenang jauh ke tengah laut. Semuanya bisa dinikmati langsung di bibir pantai.
Satu hal yang membuat Gili Nanggu terasa istimewa sekaligus menantang adalah statusnya yang tak berpenghuni.
Di pulau ini, Anda tidak akan menemukan perkampungan warga seperti di Gili Gede Sekotong atau Gili Trawangan Lombok Utara. Karena itulah, akses transportasi publik seperti boat reguler tidak tersedia.
”Di sini tidak ada warga yang menetap, jadi memang hanya untuk berwisata saja. Karena itu, transportasi umumnya belum disediakan pemerintah seperti di tempat lain,” jelas Ben.
Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi pulau pribadi ini, satu-satunya cara adalah dengan menyewa perahu nelayan atau charter boat.
Tarifnya pun cukup kompetitif. Untuk perjalanan pulang-pergi dari Dermaga Tawun ke Gili Nanggu, wisatawan merogoh kocek antara Rp 350.000 hingga Rp 400.000.
Bagi mereka yang belum puas hanya dengan satu pulau, Ben dan para penyedia jasa transportasi di Dermaga Tawun juga menawarkan paket jelajah pulau.
Dengan menambah biaya sekitar Rp 100.000, wisatawan bisa melanjutkan petualangan ke pulau-pulau tetangga yang tak kalah eksotis, seperti Gili Kedis, Gili Sudak, Gili Tangkong, hingga Gili Lontar.
Fasilitas penunjang seperti alat snorkeling hingga pakan ikan pun sudah disiapkan oleh para pengelola perahu.
Jadi, pengunjung cukup membawa diri dan kesiapan untuk jatuh cinta pada ketenangan yang ditawarkan Gili Nanggu. (HAMDANI WATHONI, Lombok Barat/r8)
Editor : Pujo Nugroho