LombokPost - Kawasan pariwisata Senggigi kini berada di ambang transformasi besar.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) tengah merancang kebijakan strategis.
Ini untuk menjadikan Pelabuhan Senggigi sebagai satu-satunya pintu masuk utama bagi kapal cepat (fast boat) dari Bali menuju Pulau Lombok.
Baca Juga: Digitalisasi Pelabuhan Senggigi Dimulai, Pemkab Lobar Gandeng Easybook untuk Tiketing Online
Dorong "Length of Stay" Wisatawan
Rencana ambisius ini diungkapkan oleh Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ). Berdasarkan hasil koordinasi dengan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, pelabuhan yang baru diresmikan awal tahun 2026 tersebut dirancang sebagai filter utama arus masuk wisatawan mancanegara maupun domestik dari Pulau Dewata.
"Gubernur merancang Pelabuhan Senggigi itu supaya menjadi pintu masuk pariwisata dari Bali. Kedepan, seluruh penumpang akan turun di sini terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain," ujar LAZ.
Baca Juga: Penyeberangan Kapal Cepat di Dermaga Senggigi Bertambah Jadi Enam Trip Per Hari
Kebijakan ini diyakini tidak hanya mempermudah pendataan wisatawan, tetapi juga secara otomatis meningkatkan durasi kunjungan (length of stay) di kawasan Lombok Barat. Wisatawan yang hendak menuju Gili Trawangan, Meno, atau Air (Gili Indah) nantinya akan diarahkan menggunakan transportasi darat dari Senggigi menuju Pelabuhan Bangsal, Lombok Utara.
Bupati LAZ menegaskan kesiapan pemerintah daerah untuk segera mengeksekusi rencana tersebut. "Kalau saya silakan saja diterapkan, yang penting cepat implementasinya," imbuhnya.
Angin Segar Bagi Industri Perhotelan
Baca Juga: Pelaku Wisata Senggigi Pertanyakan Kalender Event Pemprov NTB
Kabar ini disambut antusias oleh para pelaku industri perhotelan yang selama ini berjuang mengembalikan kejayaan Senggigi. General Manager Aruna Senggigi Resort & Convention Yeyen Heryawan, menilai akses langsung ini memberikan dampak instan pada kenyamanan dan efisiensi waktu wisatawan.
“Tamu yang ingin ke Bali atau sebaliknya tidak perlu lagi jauh-jauh ke Bangsal. Sekarang bisa langsung dari Senggigi, lebih dekat dan lebih terjangkau. Jika benar dijadikan satu-satunya pintu masuk, ini akan menghidupkan kembali denyut nadi kawasan ini,” kata Yeyen.
Ia menambahkan, meskipun selama ini sudah ada wisatawan yang memilih menginap di Senggigi sebagai persinggahan sebelum atau sesudah dari Gili, kebijakan satu pintu ini akan memperluas pasar secara signifikan dan mendorong okupansi hotel secara merata di sepanjang pesisir Batu Layar.
Butuh Kolaborasi Penjemputan
Meski disambut baik, implementasi kebijakan ini menuntut kesiapan infrastruktur dan manajemen transportasi darat yang matang. Kolaborasi antarpihak, mulai dari penyedia jasa transportasi lokal hingga pengelola pelabuhan, sangat krusial terutama dalam proses penjemputan wisatawan di dermaga agar tidak terjadi penumpukan atau kendala teknis di lapangan.
Dengan beroperasinya dermaga baru ini sejak awal 2026, wajah pariwisata Senggigi kini mulai menunjukkan geliat positif. Jika kebijakan satu pintu ini resmi diberlakukan dalam waktu dekat, Senggigi diprediksi akan kembali menjadi pusat gravitasi pariwisata Lombok mengalahkan popularitas jalur-jalur tikus lainnya.
Editor : Redaksi