LombokPost - Geliat pariwisata di kawasan Senggigi menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Kendati demikian, terbatasnya akses penerbangan langsung internasional masih menjadi batu sandungan utama bagi pertumbuhan ekonomi di sektor perhotelan.
Para pelaku usaha mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk lebih agresif membuka keran konektivitas udara. ”Pilihan penerbangan internasional kita saat ini masih sangat terbatas, praktis hanya ada dari Kuala Lumpur dan Singapura, itu pun frekuensinya tidak setiap hari,” ujar GM Sheraton Senggigi Beach Resort Peter The.
Dia mengungkapkan, salah satu kendala terbesar bagi wisatawan mancanegara (wisman) saat ini adalah rumitnya akses menuju Lombok. Wisatawan asal Eropa, misalnya, harus melalui transit di Bali sebelum bisa mendarat di Lombok.
Kondisi ini dinilai menghambat potensi masa tinggal tamu. Menurutnya, jika pintu masuk bisa dipermudah melalui penambahan international flight, dampaknya akan sangat signifikan bagi ekosistem pariwisata lokal.
Baca Juga: Rinjani 100 Tingkatkan Okupansi Hotel Senggigi
Meski ada kenaikan harga tiket pesawat domestik sekitar 20 hingga 30 persen saat ini, ia berharap pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pariwisata, dapat segera memberikan solusi konkret.
Beruntung, di tengah kendala akses tersebut, performa bisnis perhotelan di Senggigi masih cukup tangguh. Sepanjang bulan Ramadan hingga Idul Fitri lalu, tingkat kunjungan justru melampaui capaian tahun 2025. Hal ini membuktikan bahwa minat wisatawan terhadap Lombok tetap tinggi, baik dari segmen domestik maupun mancanegara.
”Trennya sangat bagus. Jika dibandingkan dengan tahun lalu (2025), bisnis kita sekarang berada jauh di atas itu. Komposisinya saat ini sekitar 60 persen wisatawan domestik dan 40 persen wisatawan asing,” jelasnya.
Selain isu penerbangan, ia juga menyoroti pentingnya penataan kawasan Senggigi secara menyeluruh. Ia melihat perlunya variasi fasilitas pendukung di luar hotel, seperti ketersediaan restoran dan tempat hiburan yang lebih beragam agar wisatawan tidak cepat bosan.
”Di Bali, pilihannya sangat banyak antara hotel dan restoran. Di Senggigi, kita punya banyak hotel bagus, tapi restoran masih minim. Jika kita ingin tamu tinggal lebih lama, kita harus menawarkan variasi pengalaman di luar hotel,” tambahnya.
Baca Juga: Bangkai Kapal Karatan Hantui Pantai Senggigi
Penataan infrastruktur dan kemudahan akses penerbangan internasional menjadi kunci agar Senggigi tidak hanya menjadi destinasi persinggahan, tetapi menjadi tujuan utama bagi wisatawan dunia. Para pelaku usaha berharap, sinergi antara pemda dan kementerian terkait dapat segera merealisasikan penambahan rute internasional dalam waktu dekat.
Editor : Kimda Farida