LombokPost — Kelangkaan Gas LPG 3 kilogram yang terjadi belakangan ini mulai berdampak signifikan terhadap kondusivitas masyarakat di tingkat desa. Di Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, keterbatasan pasokan gas bersubsidi ini dilaporkan mulai memicu sensitivitas hingga gesekan sosial antarwarga.
Kepala Desa Kekeri Sultan mengungkapkan, minimnya kuota LPG yang diterima desa menjadi akar masalah. Saat ini, pihak desa hanya mendapatkan jatah sebanyak 100 tabung per dua minggu, atau setara dengan 200 tabung per bulan.
"Kalau kita bilang cukup, ya jelas tidak. Di sini pangkalan setahu saya cuma satu. Sementara warga terus keliling mencari gas kalau di sedang kosong," ujar Sultan.
Sultan menambahkan, keterbatasan pasokan ini sangat rawan memicu kesalahpahaman. Seperti insiden komunikasi antara salah seorang warga dengan karyawan pangkalan.
Warga tersebut tersulut emosi lantaran menduga ada tabung gas yang sengaja ditahan atau disembunyikan untuk pihak tertentu. Masalah tersebut bahkan sempat viral dan melebar ke media sosial sebelum akhirnya ditangani oleh pihak pemerintah desa.
Baca Juga: Puting Beliung Terjang Kekeri Timur, Tujuh Rumah Warga Dilaporkan Rusak
Menurut Sultan, masalah LPG ini menjadi sangat sensitif karena menyangkut kebutuhan mendasar dapur masyarakat. Berbeda dengan minyak goreng yang memiliki banyak alternatif komersial meskipun harganya lebih mahal, opsi untuk pengganti LPG 3 kg dinilai sangat terbatas.
"Masyarakat saat ini hampir mustahil diminta kembali menggunakan kayu bakar karena keterbatasan lahan pemukiman yang padat, serta potensi protes dari tetangga akibat asap yang ditimbulkan," paparnya.
Di sisi lain, penggunaan kompor minyak tanah juga sudah tidak relevan karena sarana kompornya yang sudah langka dan harga minyak tanah yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga: Lonjakan Harga LPG di Bima Dinilai Tidak Wajar, Tembus Dua Kali HET
Pemerintah Desa Kekeri berharap ada perhatian mendalam dari pihak terkait mengenai penambahan kuota distribusi gas di wilayahnya agar polemik ini tidak terus berlarut.