LombokPost - Aroma kopi yang mengepul dari sebuah rumah sederhana di Dusun Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, seolah menyimpan cerita panjang tentang potensi yang selama ini belum banyak dikenal.
Di balik hijaunya kaki Gunung Rinjani, masyarakat setempat menjaga tradisi meracik kopi yang bukan sekadar menawarkan cita rasa, tetapi juga sarat nilai budaya dan spiritual.
Hal itu dirasakan langsung Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Adha saat berkunjung ke Dusun Kumbi, Minggu (28/6). Sambil menyeruput secangkir kopi robusta hasil kebun warga, ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Ini asli kopi enaknya," ucapnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Ummi Nurul itu, keunikan Kopi Kumbi bukan hanya berasal dari kondisi alam yang berada di kawasan kaki Rinjani.
Baca Juga: Arabika Lunaco Sembalun, Kopi Lombok Berkualitas Tinggi
Proses pengolahannya juga diyakini memiliki nilai tersendiri karena diracik dengan tradisi membaca selawat. Nilai tersebut, kata dia, menjadi pembeda yang sulit ditemukan pada kopi dari daerah lain.
"Membuat kopi ini dengan membaca selawat. Ini tempat bedanya dengan yang lain," katanya.
Berangkat dari potensi tersebut, Pemkab Lombok Barat mulai menyiapkan langkah pengembangan yang lebih serius. Salah satunya dengan menggagas festival kopi yang direncanakan digelar pada Agustus 2027. Festival itu diproyeksikan menjadi panggung promosi sekaligus memperkenalkan Kopi Kumbi kepada pasar yang lebih luas.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak seribu gelas kopi disiapkan untuk dinikmati masyarakat secara gratis pada agenda tersebut.
Namun, mimpi besar Kumbi tidak berhenti pada secangkir kopi. Pemerintah daerah juga ingin mengangkat kawasan ini sebagai destinasi ekowisata berbasis perkebunan kopi.
Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati seduhan kopi, tetapi juga diajak menyusuri jalur trekking sekitar satu jam menuju hamparan kebun kopi yang berada di kawasan hutan.
Baca Juga: Nina Pacu, Kopi Berkualitas dari Lombok Utara
Perjalanan itu menawarkan pengalaman menikmati udara pegunungan, rimbunnya pepohonan, hingga melihat langsung proses budidaya kopi di lereng kawasan hutan yang masih alami.
Kepala Desa Pakuan Mardan Haris mengatakan potensi tersebut sebenarnya telah lama dimiliki masyarakat. Hanya saja, pengembangannya masih dilakukan secara tradisional sehingga membutuhkan dukungan pemerintah.
Ia mengungkapkan, wilayah Dusun Kumbi berada pada ketinggian sekitar 600–700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi tersebut dinilai ideal untuk pengembangan kopi arabika maupun robusta, terutama di kawasan Tahura Nuraksa yang masuk wilayah KPH Rinjani Barat.
"Dulu sempat ada ekspor kopi, tetapi kebun kopinya belum berkembang. Karena itu kami berharap ada dorongan pemerintah agar masyarakat semakin serius membudidayakan kopi," ujarnya pada Lombok Post.
Ia menambahkan, pengembangan kopi berbasis ekowisata juga diharapkan menjadi solusi menjaga kelestarian kawasan hutan. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari budidaya kopi, ancaman perambahan hutan maupun praktik penebangan liar diyakini dapat ditekan.
Di Dusun Kumbi, secangkir kopi bukan lagi sekadar minuman penghangat tubuh. Ia sedang disiapkan menjadi pintu masuk lahirnya destinasi wisata baru yang memadukan alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat di kaki Rinjani.
Editor : Redaksi Lombok Post Online