LombokPost - Jembatan gantung di Gerung-Lembar menyimpan sejarah panjang. Infrastruktur kuno ini membentang megah melintasi Sungai antara kedua kecamatan yang ada di Lombok Barat. Pembangunannya berlangsung sangat lama pada era kolonial.
Deru mesin sepeda motor mendadak senyap di ujung jalur. Beberapa pengendara memilih menarik tuas rem, mengalah sabar di pinggir jalan. Dari arah berlawanan, sebuah motor melaju perlahan meniti bilah-bilah lantai jembatan.
Jembatan Gantung Lembar ini memang tidak luas. Lebarnya yang terbatas memaksa setiap pengguna jalan dari arah Lembar maupun Gerung untuk saling bertoleransi, bergantian melintas satu per satu.
Baca Juga: Cegah Banjir Lumpur, Irigasi Mandalika Mulai Dibenahi
Namun di balik kesederhanaan dan ukurannya yang sempit, jembatan gantung ini menyimpan rekam sejarah luar biasa. Infrastruktur ikonik ini merupakan karya fisik masa penjajahan Belanda yang mulai digarap sejak tahun 1936 dan rampung total pada 1938.
Lewat keringat dan tetesan air mata masyarakat lokal melalui sistem kerja rodi paksa, jembatan gantung megah berdiri sebagai urat nadi yang menyambungkan Pelabuhan Lembar menuju jantung Kota Mataram.
Kekuatan konstruksi jembatan gantung ini terbukti sangat tangguh melintasi zaman. Hingga detik ini, fisik jembatan peninggalan kolonial itu tetap berdiri presisi tanpa goyah sedikit pun. Ketahanan luar biasa tak lepas dari standar pembangunan ekstra ketat yang diterapkan Belanda pada era tersebut, di mana kebersihan material bangunan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Baca Juga: KLU Dapat Bantuan Irigasi Rp 7,9 Miliar dari Pusat
Budayawan Lombok, Lalu Sajim Sastrawan, menceritakan rahasia keawetan Jembatan Gantung Lembar. Menurutnya, seluruh bahan baku batu dan pasir yang digunakan wajib dibersihkan total dari unsur tanah. ”Batunya disikat sampai benar-benar bersih tanpa ada lumpur yang menempel,” kata Sajim.
Sapuan lumpur pada material saat itu diyakini bakal memicu proses korosi dini yang merusak kawat baja utama jembatan gantung.
Berkat kecermatan pengolahan pasir, kapur, dan batu tersebut, daya tahan jembatan belum tertandingi oleh bangunan modern. Detail pengerjaan yang nyaris sempurna membuat fisik jembatan tua ini terbebas dari karat mematikan. ”Bahkan satu biji batu pun belum pernah lepas dari struktur bangunan kalau saya lihat sampai saat ini,” puji Sajim.
Baca Juga: Hadapi Kemarau, Lombok Tengah Andalkan Irigasi Pompa
Menariknya, rancangan teknik jembatan gantung sengaja didesain elastis dan fleksibel. Saking peka dan elastisnya bentangan rantai baja tersebut, derap langkah seekor anjing yang melintas saja sanggup membangkitkan getaran lembut di sepanjang gelagar. Sistem penguat jembatan dirancang saling menopang secara mekanis untuk meredam tekanan beban kendaraan yang melintas.
Selain menjadi sarana penyeberangan warga, jembatan gantung ini memikul fungsi ganda yang tak kalah krusial bagi kehidupan masyarakat setempat. Struktur fisik dirancang sekaligus sebagai penopang talang air irigasi utama. Pasokan air kaya nutrisi yang bersumber dari Gebong dialirkan melalui bentangan talang jembatan ini guna menyuburkan ribuan hektar lahan pertanian di wilayah sekitarnya.
Sayangnya, keberadaan jembatan yang sangat bernilai sejarah dan vital ini mulai dibayangi kekhawatiran. Ritual perawatan berkala seperti pengolesan oli gemuk pada engsel baja kini mulai terabaikan. ”Sangat disayangkan, perawatan rutin terhadap aset berharga ini justru terkesan diabaikan oleh pemerintah daerah,” keluh Sajim.
Padahal, semangat kerja dan standar perawatan tingkat tinggi ala Belanda sepatutnya diserap pemda dalam merawat jembatan gantung. Komponen utama serta suku cadang asli talang air penopang jembatan bahkan diketahui masih diproduksi pabrikan di Belanda. Sentuhan perbaikan berkala sangat mendesak agar umur bangunan tidak tergerus oleh korosi dan usia.
Keberadaan Jembatan Gantung Lembar bukan sekadar bentangan besi dan batu peninggalan masa lalu, melainkan warisan peradaban yang menghidupi sektor pertanian dan mobilitas warga Lombok Barat. ”Kami sangat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata melakukan perawatan terpadu agar Jembatan Gantung Lembar Gerung ini tidak rusak dimakan waktu,” tutupnya. (NURUL HIDAYATI, Lombok Barat/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Liputan Berita Lombok Post