Poltekkes Mataram Latih Kader Pantau Bayi BBLR

Kimda Farida • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:24 WIB
FOTO BERSAMA: Tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram bersama kader posyandu dan peserta usai pelatihan pengukuran antropometri dan pemantauan pertumbuhan bayi BBLR di Desa Taman Ayu, Lombok Barat.
FOTO BERSAMA: Tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram bersama kader posyandu dan peserta usai pelatihan pengukuran antropometri dan pemantauan pertumbuhan bayi BBLR di Desa Taman Ayu, Lombok Barat.

 

LombokPost--Poltekkes Kemenkes Mataram melatih 40 kader dari delapan dusun di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Mereka dilatih untuk melakukan pengukuran antropometri dan pemantauan pertumbuhan bayi berat lahir rendah (BBLR) dalam rangka memperkuat peran kader posyandu dalam mencegah stunting sejak dini.

Pelatihan dan pendampingan tersebut digelar selama dua hari, 25–26 Juni 2025.

Kegiatan merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang dilaksanakan tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram.

Tim pengabdi terdiri dari Ati Sulianty, Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti, dan Mutiara Rachmawati Suseno.

Pelatihan ini dilatarbelakangi masih terbatasnya pengetahuan kader dalam menganalisis hasil pengukuran pertumbuhan bayi, khususnya bayi dengan berat badan lahir rendah.

Baca Juga: Unram Hilirisasi Kepiting Bakau Jadi Produk Krispi

Para kader tidak hanya dibekali teori.

Mereka juga mendapatkan praktik pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi.

Hasil pengukuran selanjutnya dicatat dan dianalisis menggunakan Kurva Fenton.

Kurva Fenton menjadi salah satu alat penting untuk memantau pertumbuhan bayi kecil, terutama bayi prematur atau BBLR, berdasarkan usia gestasi dan perkembangan pertumbuhannya.

“Studi awal menunjukkan sebagian besar kader tidak mengetahui alat pantau pertumbuhan untuk berat bayi lahir rendah adalah menggunakan Kurva Fenton. Kurva ini membantu kader mengetahui apakah pertumbuhan bayi sesuai dengan usia lahir bayi,” jelas Ati Sulianty.

Pada hari kedua, kader diberikan sejumlah kasus untuk diselesaikan secara mandiri.

Mereka diminta memasukkan data hasil pengukuran ke dalam Kurva Fenton dan menentukan gambaran pertumbuhan bayi.

Poltekkes Kemenkes Mataram juga mendorong kader tidak berhenti pada pelatihan.

Setelah kegiatan, kader akan melakukan pendampingan terhadap ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi BBLR di wilayah masing-masing.

Baca Juga: Gandeng Kader PKK Bonjeruk, Poltekkes Mataram Kembangkan Herbal Berbasis Wisata

Pendampingan dilakukan sejak masa kehamilan hingga persalinan.

Setelah bayi lahir, kader turut membantu keluarga memantau pertumbuhan bayi secara berkala.

“Kader sebagai lini terdepan dalam pemantauan kesehatan bayi dan balita diharapkan mampu membantu deteksi awal adanya gangguan pertumbuhan dan mendampingi keluarga sehingga lebih siap dalam mengasuh bayi dengan berat lahir rendah,” kata Mutiara Rachmawati Suseno.

Desa Taman Ayu dipilih sebagai lokasi kegiatan lantaran masih menjadi salah satu lokus stunting di Kabupaten Lombok Barat.

Berdasarkan data yang disampaikan tim, kasus stunting di desa tersebut meningkat dari 52 kasus pada 2022 menjadi 56 kasus pada 2025.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim pengabdi untuk meningkatkan kemampuan kader dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan sejak dini.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim Poltekkes Kemenkes Mataram membentuk kelompok kader penyuluh mandiri di Desa Taman Ayu.

Kader akan terus mendampingi bayi BBLR hingga pertumbuhannya lebih stabil.

Setelah kondisi bayi sesuai, pemantauan dapat dilanjutkan menggunakan KMS bayi sesuai standar pemantauan pertumbuhan.

“Kegiatan ini dijadikan program pendampingan yang berlanjut sampai bayi yang lahir dengan berat badan kurang mencapai pertumbuhan dan usia yang stabil, sehingga pemantauannya bisa berlanjut menggunakan KMS bayi yang normal,” ujar Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti.

Selain meningkatkan keterampilan kader, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menghasilkan sejumlah luaran.

Di antaranya jurnal ilmiah, video dokumentasi kegiatan, serta pengajuan HAKI atas video edukasi yang diproduksi.

Baca Juga: Siswi SMAN 1 Labuapi Raih Juara II FLS3N Cipta Puisi, Benda Mati Jadi Inspirasi Puisi

Kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Mataram, pemerintah desa, dan kader posyandu diharapkan semakin memperkuat upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan bayi.

Langkah tersebut sekaligus mendukung pencegahan stunting berbasis masyarakat di Desa Taman Ayu. (ida/*)

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
Kurva Fenton Desa Taman Ayu Lombok Barat Poltekkes Mataram Cegah Stunting