LombokPost - Penurunan drastis alokasi Dana Desa (DD) dari APBN berdampak besar bagi Pemdes Tamansari.
Anggaran DD Tamansari yang semula mencapai Rp 1 miliar lebih, kini merosot tajam menjadi hanya sekitar Rp 300 jutaan.
Sekretaris Desa Tamansari Mutawalli mengungkapkan pemangkasan ekstrem tersebut melumpuhkan program pemberdayaan dan pembinaan masyarakat.
Baca Juga: Jurus Jemput Bola Camat Gunungsari dan Kuripan Tangani Stunting
”Istilah Pak Kades ini bukan lagi terpotong, tapi terjun bebas,” ungkapnya.
Mutawalli menjelaskan sisa anggaran DD yang ada kini terfokus total untuk penanganan stunting dan sektor kesehatan.
”Terfokus untuk program nasional,” tegasnya.
Baca Juga: Dewan Dapil Gunungsari-Batulayar Desak Pemkab Lobar Lanjutkan RTH Gunungsari
Menyiasati keterbatasan anggaran, Pemdes Tamansari mengandalkan pendanaan alternatif melalui alokasi dana aspirasi (pokir) anggota DPRD.
Hasilnya, saat ini berjalan pengerjaan talud pemakaman umum Medas Bedugul, pembuatan batu sikat, hingga pembangunan MCK/HTS.
Selain itu, aula desa dirawat agar bisa digunakan sebagai lapangan bulutangkis warga.
Baca Juga: Kasat Pol PP NTB Buka Sosialisasi Ketentuan Cukai di Gunungsari, Edukasi Pedagang Cegah Rokok Ilegal
Keterbatasan alokasi dana juga sempat menghentikan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk bayi dan ibu hamil, sehingga angka stunting di Desa Tamansari tergolong tinggi.
Guna mengatasinya, Pemdes Tamansari menggelar Rembuk Stunting dan mendorong kolaborasi dengan pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Diharapkan menu MBG khusus bagi anak berisiko stunting dapat disesuaikan dengan formula nutrisi tinggi dari puskesmas atau Dikes agar program prioritas nasional tersebut langsung berdampak pada penanganan gizi anak dan ibu hamil di desa,” harap Mutawalli. (nur/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post