Sawah di Kuripan Mulai Mengering

Nurul Hidayati • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 09:13 WIB
MINIM AIR: Kondisi lahan pertanian yang ada di Desa Kuripan Timur kondisi tanahnya pecah karena tidak ada pasokan air irigasi yang masuk, Senin (28/9). (NURUL/LOMBOK POST )
MINIM AIR: Kondisi lahan pertanian yang ada di Desa Kuripan Timur kondisi tanahnya pecah karena tidak ada pasokan air irigasi yang masuk, Senin (28/9). (NURUL/LOMBOK POST )

LombokPost - Ancaman kekeringan mulai membayangi areal persawahan di Kecamatan Kuripan.

Sekitar empat hektare tanaman padi dan jagung terancam kekurangan pasokan air akibat musim kemarau yang makin panjang. 

”Belum ada yang sampai gagal panen di wilayah Kuripan,” kata Kepala Dinas Pertanian Lobar Lalu Moh Hakam saat dikonfirmasi Lombok Post, Senin (28/9).

Baca Juga: Temukan Sawah Kekeringan 7 Bulan di Bekasi, Menteri PU Ancam Copot Pejabat Ditjen SDA 

Dinas Pertanian langsung menerjunkan tim teknis untuk memetakan kondisi persawahan yang terdampak krisis air.

Sebagai langkah penanganan cepat, pemda menerjunkan fasilitas irigasi perpompaan (Irpom) untuk mendistribusikan air ke petakan sawah warga. 

Langkah darurat ini diharapkan mampu menyelamatkan tanaman petani hingga masa panen tiba.

Baca Juga: Kekeringan Mulai Mengancam Lahan Pertanian Lombok Utara. Pemerintah Dorong Pengaturan Distribusi Air

Penanganan difokuskan pada titik-titik yang paling rawan kehilangan pasokan air irigasi teknis.

”Dua kelompok penerima bantuan Irpom siap memfasilitasi kebutuhan air,” ujar Hakam. 

Meski demikian, ancaman gagal panen tetap membayangi desa-desa di wilayah Kuripan, salah satunya desa Kuripan Timur.

KeBaca Juga: Tanggap Darurat Kekeringan di Lombok Barat, LAZISKU NTB salurkan bantuan 50.000 liter air bersih

Tanaman jagung dan padi usia muda menjadi komoditas yang paling rentan rusak bila pasokan air terputus total. 

Kades Kuripan Timur Anwar Efendi menyebutkan kawasan rawan krisis air salah satunya terkonsentrasi di Dusun Batu Banteng.

Di lokasi tersebut, luas lahan yang berada dalam kondisi kritis mendekati angka sepuluh hectare.

”Lahan terancam di Dusun Batu Banteng berada di bawah sepuluh hektare,” ungkapnya. 

Menurut Anwar, program optimalisasi lahan (Oplah) yang masuk ke desanya belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh area persawahan.

Terbatasnya diameter dan kapasitas pipa penyaluran air membuat pasokan ke sawah paling ujung sering tak mengalir. 

Pemdes berharap ada intervensi program yang lebih permanen.

Penambahan sarana fisik seperti jaringan sumur bor di tiap dusun pertanian dinilai menjadi solusi jangka panjang paling realistis. 

”Pemdes memohon fasilitasi bantuan sumur bor tiap dusun pertanian. Petani sangat membutuhkan dukungan sarana air demi keberlanjutan panen,” pungkas Anwar. 
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
air Pertanian panen Kuripan Kekeringan