LombokPost - Suara gelak tawa riang memecah kesunyian kawasan pesisir Bagek Kembar, Kecamatan Sekotong, pagi itu.
Di tempat inilah gerakan Sekolah Alam Anak Pesisir mewadahi semangat generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus merawat ekosistem mangrove sebagai jalur benteng alami pelindung ruang hidup mereka.
Bagi warga lokal, Sekolah Alam Anak Pesisir bukan sekadar ruang kelas formal yang kaku, melainkan wahana bermain sekaligus menuntut ilmu ekologi secara terbuka.
Baca Juga: Perbaikan Jalan dan Wisata Mangrove di Sekotong Tengah Tertunda
Setiap akhir pekan, anak-anak kawasan bahari diajak menyusuri area konservasi mangrove untuk memahami secara mendalam betapa krusialnya keberadaan pelestarian lingkungan pesisir bagi keberlangsungan hidup masyarakat lokal di masa mendatang.
Pengenalan fungsi ekologis menjadi materi inti yang disusun dalam kurikulum Sekolah Alam Anak Pesisir guna membentengi kawasan pesisir dari bahaya erosi.
Anak-anak diajak memegang langsung akar-akar bakau yang kokoh menghujam tanah, sembari mempelajari bagaimana kawasan mangrove bekerja tanpa henti menahan laju ombak besar serta menekan risiko mitigasi bencana abrasi yang mengancam pemukiman warga.
Baca Juga: Mangrove Pesisir Lombok Barat Kritis
Tak hanya menjadi penghalang gelombang pasang, kerapatan vegetasi di kawasan mangrove terbukti ampuh mencegah masuknya intrusi air laut ke sumur-sumur warga daratan.
Melalui bimbingan intensif Sekolah Alam Anak Pesisir, para siswa menyadari bahwa pelestarian lingkungan pesisir memiliki peran vital sebagai penyaring alami limbah pencemar sekaligus penjaga kualitas air bersih bagi kawasan pemukiman di sekitarnya.
Sektor perikanan lokal pun sangat bergantung pada keberadaan ekosistem bakau yang sehat di wilayah ini.
Baca Juga: Belajar dari Mangrove, Unram Ajak Siswa SMKN 2 Gerung Jadi Penjaga Pesisir
Lewat materi lapangan Sekolah Alam Anak Pesisir, generasi muda diajarkan bahwa kawasan mangrove Bagek Kembar merupakan rumah aman bagi pemijahan berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting, sehingga kegiatan pelestarian lingkungan pesisir secara langsung menjamin ketersediaan sumber daya pangan dan perekonomian para nelayan.
Di samping itu, vegetasi bakau memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap serta menyimpan cadangan gas karbon dioksida dalam jumlah teramat besar. Pembelajaran membuka wawasan anak-anak bahwa menjaga kawasan mangrove sama artinya dengan berkontribusi aktif dalam aksi iklim global melalui pelestarian lingkungan pesisir yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.
”Edukasi mangrove diajarkan agar anak paham potensi lingkungan tempat tinggalnya,” kata Guru Ekologi Sekolah Alam Anak Pesisir M Zulkurniawan.
Sebagai alumni Fakultas Kehutanan Unram, M Zulkurniawan memilih mengabdikan keahliannya secara penuh untuk mendidik anak-anak pesisir. Bersama tim relawan, ia secara konsisten memanfaatkan waktu libur Sabtu dan Minggu untuk melatih ketajaman observasi anak-anak dalam mengenali keanekaragaman jenis pohon bakau serta kerumitan ekosistem di kawasan mangrove Bagek Kembar.
Pemahaman mengenai aspek keselamatan lingkungan dan mitigasi bencana abrasi ditanamkan secara aplikatif lewat simulasi sederhana di tepi pantai. M Zulkurniawan bersama pengajar lainnya memperlihatkan secara langsung bagaimana rumpun mangrove yang lebat mampu memecah energi gelombang laut, sehingga terjangan air tidak merusak struktur garis pantai.
Dampak positif dari kegiatan edukasi hijau ini mulai membuahkan hasil nyata pada perubahan perilaku harian anak-anak di pemukiman. Berkat konsistensi pembelajaran di Sekolah Alam Anak Pesisir, kepedulian anak-anak terhadap kawasan mangrove meningkat drastis, terbukti dari aksi spontan mereka yang kini rajin mengutip sampah plastik di sekitar pantai demi mendukung pelestarian lingkungan pesisir.
Pendidikan ekologi berbasis pengalaman lapangan ini menjadi investasi sosial jangka panjang yang sangat bernilai bagi wilayah Sekotong. Sinergi antara dedikasi dan partisipasi aktif anak-anak telah membuktikan bahwa penyelamatan kawasan mangrove adalah langkah konkret mitigasi bencana abrasi sekaligus wujud nyata pelestarian lingkungan pesisir yang diwariskan dari generasi ke generasi. (NURUL HIDAYATI, Lombok Barat/r8)
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post