Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Beasiswa untuk Mahasiswa NTB dari Malaysia

Administrator • Rabu, 27 Februari 2019 | 10:12 WIB
DUKUNGAN BESAR: Gubernur NTB H Zulkieflimansyah didampingi istri Hj Niken Saptarini Widwayati saat disambut Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Rusdi Kirana di Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, Senin (25/2).
DUKUNGAN BESAR: Gubernur NTB H Zulkieflimansyah didampingi istri Hj Niken Saptarini Widwayati saat disambut Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Rusdi Kirana di Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, Senin (25/2).

KUALA LUMPUR-Gubernur NTB H Zulkieflimansyah melakukan kunjungan kerja ke Malaysia.  Di hari pertama kunjungan, orang nomor satu di NTB tersebut menggelar pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Rusdi Kirana di Kantor Kedutaan Besar di Kuala Lumpur pada Senin (25/2).


Dengan Dubes Rusdi Kirana, Gubernur Zulkieflimansyah mendiskusikan sejumlah hal. Terutama yang terkait dengan upaya Gubernur untuk membuka pintu kerja sama bidang pendidikan antara NTB dan Malaysia. Ini terkait dengan program beasiswa 1.000 pelajar NTB ke luar negeri.


"Pendidikan menjadi perhatian utama kami saat ini,” kata Gubernur dalam diskusi dengan Dubes tersebut. Gubernur didampingi Ketua PKK NTB Hj Niken Saptarini Widyawati dan sejumlah kepala ODP lingkup Pemprov NTB.


Gubernur mengatakan, NTB telah mengirimkan 46 mahasiswa S2 ke tiga universitas di Polandia pada bulan Oktober 2018. Kemudian disusul mahasiswa gelombang kedua yang berangkat pada Februari 2019.


“Setelah ini, kami juga ingin mengirimkan pelajar melanjutkan jenjang S2 di Malaysia," katanya.


Ikatan kesamaan dan kedekatan antara Malaysia dan Indonesia, menjadi salah satu dasar kerja sama bidang pendidikan yang hendak dibuka antara NTB dan Malaysia. Di samping tentu pertimbangan fasilitas pendidikan seperti perpustakaan dan laboratorium yang lengkap di sejumlah kampus ternama di Malaysia.


Terkait rencana Gubernur NTB ini, Dubes Rusdi Kirana menyambut baik niat tersebut. KBRI di Malaysia pun memastikan akan menjembatani program Pemprov NTB dengan kampus-kampus di Malaysia yang potensial menyediakan kuota beasiswa bagi mahasiswa dari luar Malaysia.


"Saya sangat gembira dan mendukung program beasiswa 1.000 mahasiswa NTB ke luar negeri,” katanya.


“Kami akan memfasilitasi dan menghubungkan antara universitas di sini dengan Pemprov NTB, " lanjutnya.


Menurut Dubes Rusdi, selain beasiswa di kampus-kampus Malaysia, program yang bisa direalisasikan  adalah pendidikan aviasi atau penerbangan. Rusdi yang merupakan pendiri dan pemilik maskapai Lion Air Group tersebut bersedia memfasilitasi putra-putri terbaik NTB terkait hal ini.


"Akan kami bantu supaya bisa sekolah di Malaysia setahun untuk teorinya. Kemudian lanjut 2 tahun kerja praktik di pusat perawatan pesawat dan fasitas penerbangan Lion Group di Batam,” katanya.


Saat ini kata dia, sudah ada anak TKI yang berprestasi. Disekolahkan pihaknya dengan model seperti ini hingga akhirnya saat ini telah menjadi seorang pilot.


Pada saat yang sama, terkait kepentingan Pemprov NTB dalam menggeliatkan kembali kunjungan wisatawan pascabencana gempa bumi, Gubernur Zul juga meminta bantuan Rusdi untuk memperbanyak frekuensi dan rute penerbangan Lion Group dari dan menuju Lombok. Sekaligus untuk menurunkan harga tiket.


"Harga tiket yang mahal ini jelas memukul upaya pariwisata NTB untuk bangkit dari keterpurukan pascagempa,” kata Gubernur.


Begitu juga dengan makin berkurangnya direct flight ke Lombok. Karena itu, Gubernur berharap Lion Group bisa membantu NTB dengan memperbanyak penerbangan langsung dari luar negeri atau dalam negeri ke Lombok.


Dubes Rusdi Kirana menekankan, jika melambungnya harga tiket memang jadi persoalan baru di dunia transportasi udara. Menurutnya, butuh kerja sama yang baik dan terpadu antara maskapai dengan pemerintah daerah dan juga PT Angkasa Pura sebagai pengelola bandara-bandara di berbagai wilayah.


Diungkapkan, maskapai Lion Group tadinya beroperasi 11 jam perharinya sebagai salah satu strategi mengejar tiket murah. Tapi dengan 11 jam, menyebabkan jadwal sering tidak on time. Akhirnya publik protes. Lion sering diomelin karena telat atau delay melulu.


Karena itu, sekarang, Lion Air Group beroperasi 7 jam sehari. Supaya bisa tepat waktu. “Tapi konsekuensinya tiket nggak lagi bisa murah," jelas Rusdi.


Untuk mengakomodir kebutuhan  seperti yang diungkapkan Gubernur NTB, Rusdi menjelaskan perlunya subsidi atau insentif kebijakan dari pemerintah daerah setempat. Misalnya, pemeirntah daerah menyediakan lahan untuk dijadikan tempat parkir atau hanggar tambahan bagi pesawat sehingga mengurangi anggaran maskapai.


Gubernur Zul menyatakan bakal mempertimbangkan masukan dari owner Lion Group itu. Keberadaan bandara lama Selaparang di Mataram yang bisa digunakan sebagai hanggar atau lahan parkir pesawat, bisa menjadi salah satu solusi alternatif untuk memberikan insentif kebijakan pada maskapai.


Pada akhirnya, diharapkan relasi ini bisa berdampak pada penurunan harga tiket dan juga memperbanyak frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok. termasuk rute-rute direct flight. (kus/r8/ADV)

Editor : Administrator
#nasional