Salah satu hotel yang tumbang itu adalah Hotel Santosa. Salah satu hotel terbesar di Senggigi itu kini terlihat seperti rumah hantu. Kolam renangnya yang dulu sempat jadi favorit wisatawan, kini berubah jadi sarang nyamuk.
Anggota Komunitas Lombok Ocean Care pun angkat suara melihat kondisi ini. Ketuanya, Sakinah mengaku kecewa melihat Senggigi tak terurus lagi. "Persoalan sampah, dermaga yang tak tuntas, pantai yang dipadati perahu nelayan, hingga masalah eks Hotel Santosa yang kumuh menjadi fakta yang tak terbantahkan.
Hal itu, menurutnya sangat mengganggu wisatawan. "Sejak tahun lalu bangunan Hotel Santosa tidak terurus. Ketika musim hujan, air menggenang dan menjadi sarang nyamuk," kata Sakinah kepada Lombok Post, kemarin (11/2).
Bangunan eks hotel tersebut dikatakannya layaknya eks bangunan lokasi perang. Sangat mengganggu pemadangan Senggigi yang menjadi ikon pariwisata Lobar.
Beberapa wisatawan asing yang datang mengeluhkan kondisi bangunan tersebut. Kondisinya yang tak terurus dan terkesan kumuh membuat Senggigi seperti bukan destinasi wisata.
"Sering sekali keluhan dari wisatawan kami terima. Setiap tamu hotel yang ada di sana pasti akan melintas karena bangunan itu berada di area utama Pantai Senggigi," ungkap perempuan yang juga pengelola E-One Tour and Travel tersebut.
Ia bersama sejumlah anggota komunitas pencinta lingkungan beberapa kali melakukan aksi bersih pantai di Senggigi. Sayang, upaya ini terkesan tidak mendapat dukungan dari pemerintah daerah.
Padahal ia berharap pemerintah punya inisiatif bergerak. Tidak membiarkan kondisi Senggigi seperti ini. "Memang bangun hotel itu milik pribadi. Dia (pemilik Hotel) di Jakarta tapi kita yang merasakan dampaknya. Kami berharap Pemda Lobar menegur dan bersurat kepada mereka," pintanya.
Minimal keberadaan eks bangunan hotel tersebut tidak merusak pemandangan Senggigi. Terlebih memberi dampak yang kurang baik terhadap kesehatan masyarakat. "Coba turun cek ke sana, bangunanannya kumuh kolamnya dipenuhi sampah dan jadi sarang nyamuk," bebernya.
Ia merasa, jika Pemda Lobar terus diam seperti saat ini, maka Senggigi bukan tidak mungkin akan ditinggalkan. Seiring dengan keberadaan KEK Mandalika di Lombok Tengah.
Senada dengan itu, Kepala UPT Dermaga Senggigi Noor Fazli juga mengaku jika kolam eks Hotel Santosa memang sudah lama dipenuhi sampah dan menjadi sarang nyamuk. Hanya saja pihaknya tidak memiliki kewenangan masuk ke kolam maupun area eks Hotel Santosa.
"Meski kantor kami dekat, tapi tidak ada kewenangan kami ke sana," ucapnya.
Sedangkan Pemerintah Desa Senggigi melalui Sekdes mengaku belum menerima laporan jika kolam eks Hotel Santosa menjadi sarang nyamuk. Masyarakat memang dikatakannya dilarang masuk karena area ini merupakan milik pribadi.
Namun ia berjanji setelah mendapat informasi ini akan turun bersama Bhabinkamtibas untuk mengecek lokasi. "Nanti akan menindaklanjutinya untuk bersama-sama mekakukan pembersihan untuk mencegah terjadinya dampak gangguan kesehatan bagi warga maupun wisatawan," jelasnya.
Pantauan Lombok Post, kondisi Pantai Senggigi kemarin memang sangat memprihatinkan. Banguan eks Hotel Santosa terlihat menyeramkan. Sementara bibir Pantai Senggigi yang ada di depannya dipadati perahu nelayan dan bahan bangunan milik rekanan proyek Dermaga Senggigi yang tak tuntas.
Belum lagi ruang tunggu dermaga yang rusak akibat ponton pihak rekanan hingga kemarin belum juga diperbaiki. (ton/r3)
Editor : Baiq Farida