LombokPost - Warga Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, mulai menata kembali rumah adat yang terdampak kebakaran.
Semangat gotong royong terlihat di kawasan tersebut, Rabu (30/9). Warga bahu-membahu merangkai kerangka bambu dan memasang atap ilalang.
Tahapan itu menjadi bagian dari rekonstruksi rumah adat. Warga berupaya mempertahankan bentuk asli bangunan warisan leluhur.
Awan, salah seorang warga Sade, mengatakan selain atap, warga juga membenahi lantai rumah. Lantai dibuat menggunakan tanah liat.
Baca Juga: Warga Sade Percepat Bangun Hunian, Begini Tanggapan Bupati Loteng
Pengerjaan lantai membutuhkan waktu dua minggu. Sebab permukaannya harus dibuat rata mulai bagian dalam hingga halaman rumah.
“Pengerjaan ini kami lakukan secara gotong royong dan bergantian,” ujar Awan.
Saat ini, pemasangan atap menjadi prioritas. Material ilalang bantuan donatur harus segera digunakan agar tidak rusak karena terlalu lama disimpan.
Baca Juga: Butuh Rp 250 Juta untuk Display Museum Sade
Jumlah bantuan ilalang yang diterima setiap warga berbeda-beda. Menyesuaikan dengan ukuran rumah masing-masing. “Bisa dibilang sekitar 40 persen rumah warga atapnya sudah terpasang,” tambahnya.
Setelah atap selesai, warga melanjutkan pemasangan dinding. Material yang digunakan berupa bedek atau anyaman bambu. Bedek dibeli menggunakan dana bantuan donatur.
Harga bedek berkisar Rp 250 ribu per lembar. Satu rumah membutuhkan sekitar 20 lembar. Sementara biaya pembangunan satu unit rumah berkisar Rp 25 juta hingga Rp 30 juta.
Biaya tersebut belum termasuk pintu dan jendela. Harganya menyesuaikanjenis bahan kayu yang digunakan.
Warga sadar pembangunan rumah belum tentu selesai sebelum gelaran MotoGP. Masih banyak tahapan yang harus dikerjakan.
Baca Juga: Sukseskan MotoGP Mandalika 2026, Bupati Loteng Ajak Perangi Praktik Pungli
Target terdekat adalah menyelesaikan atap. Terutama sebelum musim hujan datang.
“Kami lakuka pengiritan. Beli bedek sudah, tapi pintu dan jendela belum,” tutur Awan.
Menurut dia, warga saat ini lebih banyak berkonsentrasi membangun kembali rumah. Aktivitas mencari pekerjaan sampingan belum bisa dilakukan secara maksimal.
Warga berharap rekonstruksi segera rampung. Dengan begitu aktivitas masyarakat dan perekonomian di kawasan wisata tersebut kembali berjalan.
Baca Juga: Wali Kota Bima Pasang "Pagar" Integritas, Cegah ASN Terjerat Korupsi hingga Pungli
Hal senada disampaikan Kabul Sangaji, warga Sade lainnya. Dia mengatakan pembangunan rumah mengikuti bentuk asli rumah adat.
Desain yang disiapkan pemerintah juga tidak mengganggu fondasi lama. Pembangunan berjalan sesuai kesepakatan bersama.
“Semua berjalan sesuai kesepakatan dan petunjuk dari pemerintah,” pungkasnya.
Master Plan Dimatangkan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah (Loteng) mendukung langkah gotong royong warga. Wakil Bupati Loteng M Nursiah mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi intensif dengan Pemprov NTB.
Nursiah memastikan master plan tidak mengganggu fondasi rumah warga. Karena itu, warga dipersilakan melanjutkan pembangunan.
“Jadi silakan gotong royong jalan terus,” ujar Nursiah.
Menurut Nursiah, kolaborasi antara Pemkab Loteng dan Pemprov NTB akan dilakukan setelah master plan selesai. Nantinya, seluruh bangunan akan dikaji secara menyeluruh.
Baca Juga: Polda NTB dan Polres Tingkatkan Patroli Jelang MotoGP Mandalika
Mulai dariarsitektur rumah adat hingga struktur lantai. Hasil kajian menentukan kebutuhan revitalisasi.
“Kalau dari kami (Pemkab Loteng), desain ini sekalian saja kita lakukan revitalisasi,” tegas Nursiah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhammad Ihwan memastikan pengerjaan yang dilakukan warga tidak akan mubazir.
Menurut dia, pemasangan atap lebih dulu adalah langkah tepat. Tujuannya melindungi material dari hujan.
“Warga membangun mengikuti fondasi lama dan sesuai petunjuk serta kesepakatan bersama. Jadi pengerjaan ini tidak akan sia-sia,” terang Ihwan.
Dia menegaskan, karakter asli bangunan Sasak harus dipertahankan. Termasuk penggunaan material seperti ilalang dan bedek.
Master plan disusun Pemprov NTB, Pemkab Loteng dan Universitas Mataram (Unram). Penataan tidak hanya menyasar rumah adat.
Baca Juga: Potensi Penerimaan Sektor Kelautan Dialihkan ke Item Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
Infrastruktur kawasan turut menjadi perhatian. Diantaranya, sanitasi, air bersih, sistem penanggulangan kebakaran, hingga mitigasi bencana.
“Rekonstruksi tidak sebatas mengembalikan bangunan fisik rumah adat, tetapi juga menjaga ekosistem kebudayaan yang hidup di dalamnya,” pungkas Ihwan.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post