Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hasil Otopsi Jenazah Nurul Izzati Belum Keluar, Tim Forensik Masih Cek Penyakit yang Diderita Sebelum Meninggal

Marthadi • Senin, 8 Juli 2024 | 10:26 WIB

Jenazah Nurul Izzati, santriwati Ponpes Al-Aziziyah dipulangkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan setelah dilakukan otopsi di RS Bhayangkara Mataram, Sabtu (29/6).
Jenazah Nurul Izzati, santriwati Ponpes Al-Aziziyah dipulangkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan setelah dilakukan otopsi di RS Bhayangkara Mataram, Sabtu (29/6).
LombokPost-Hasil otopsi jenazah Nurul Izzati belum keluar.

Hasil otopsi itu diyakini akan menjadi kunci untuk mengungkap penyebab meninggalnya santriwati Ponpes Al-Aziziyah Kapek, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, tersebut.

“Hasil pemeriksaan sampel PA (patologi anatomi) tambahan belum keluar,” kata Kepala Instalasi Forensik RS Bhayangkara Mataram Iptu I Nyoman Madiasa.

Untuk sampel tambahan ini, pihak RS Bhayangkara mengirimnya ke laboratorium RSUD Kota Mataram.

Pengecekan sampel ini untuk mengetahui penyakit yang diderita Nurul Izzati sebelum meninggal.

“PA itu untuk mengidentifikasi penyakit yang korban alami sebelum meninggal. Jadi belum bisa disimpulkan hasil otopsinya,” jelas dia.

Madiasa berjanji akan mengusahakan secepatnya hasil otopsi keluar pekan ini agar penanganan kasus dugaan penganiayaan di ponpes tersebut bisa terang benderang. 

 

Pengacara Bantah Korban Sehat

 

Kuasa hukum Nurul Izzati Yan Mangandar menyoroti pernyataan pihak ponpes mengenai adanya bukti CCTV yang memperlihatkan Nurul Izzati baik-baik saja. Dalam rekaman CCTV, Nurul Izzati keluar dari ponpes, Jumat (14/6).

“Baiknya pihak pengurus ponpes berulang kali nonton rekaman CCTV tersebut baru akan melihat kebenaran bahwa anak tersebut dengan hidung luka dan mata bengkak keluar dari pondok menuju ke arah mobil,” jelas Yan Mangandar.

Nurul Izzati juga disebutnya berjalan sendirian dengan badan membungkuk.

Dia menahan rasa sakit sambil membawa ransel warna hijau dan satu goodie bag kecil. Tas tersebut berisi beberapa pakaian. Dia tidak didampingi satu pun pe­ngurus ponpes.

“Kami pun justru meminta pihak kepolisian meminta rekaman CCTV lantai dasar hingga lantai tiga asrama putri utama agar dibuka dari hari Rabu 12 Juni lalu,” pintanya.

Ini untuk melihat ba­gaimana santriwati  me­ngurus, memberi tahu mudabirroh, bahkan memapah Nurul Izzati ke kamar kecil.

“Biar pengurus ponpes sadar kalau mereka abai dengan santriwati yang mestinya menjadi tanggung jawab mereka dalam kondisi sakit parah tanpa dibantu sama sekali,” tudingnya.

Mengenai pernyataan pihak ponpes pernah mengantar Nurul Izzati yang sedang sakit parah ke klinik ponpes, Yan mengaku belum menemukan informasi itu dari siapa pun. Kecuali pengakuan pengurus Ponpes di media pada 24 Juni itu.

“Kami yakin, seandainya pihak ponpes peduli dan tidak abai tanggung jawabnya, maka tidak akan terjadi hal buruk ini,” sesalnya.

Yan menyampaikan, dari keterangan pihak dokter di RSUD R. Soedjono Selong, Lombok Timur, Rabu 26 Juni, ada benturan benda tumpul di kepala bagian kiri Nurul Izzati.

Ini menurutnya mengindikasikan terjadi kekerasan terhadap korban yang kesehariannya hidup di asrama dan sekolah di Ponpes Al-Aziziyah.

Hasil itu, kata Yan, sekali­gus membantah keterang­an awal pengurus ponpes yang menyebutkan wajah Nurul Izzati bengkak bukan karena kekerasan. Tetapi dipicu infeksi jerawat di hidungnya yang dikorek memakai jarum pentul.

“Dengan fakta-fakta tersebut, kami meminta jangan sampai ada pihak tertentu mengarahkan kasus kekerasan ini terjadi luar ponpes,” tandasnya. (ton/r8)

 

 

Editor : Marthadi
#Meninggal #Ponpes #Al Aziziah #santriwati #otopsi #Penganiayaan