LombokPost - Seorang perempuan berinisial YI, 22 tahun, asal Lombok Barat, tega menjerumuskan adik kandungnya ke dunia hitam.
Korban yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dijual ke lelaki hidung belang. Bahkan, sang adik kini sudah melahirkan.
Kasus tersebut kini ditangani Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram.
Baca Juga: Diduga Perkosa Mahasiswi hingga Hamil, Mantan Staf LPPM Salah Satu Kampus di Mataram Ditahan
”Ya, benar ada kita tangani kasus itu,” kata Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi, Rabu (14/5).
Peristiwa itu terjadi di wilayah Kota Mataram. Adiknya dijual untuk melayani laki-laki.
”Adiknya masih SD. Sudah melahirkan secara prematur beberapa minggu lalu,” jelasnya.
Baca Juga: Dokter Kandungan Cuti, Ibu Hamil di Bima Keguguran Setelah Dua Hari Alami Pendarahan
Bayi yang dilahirkan tersebut masih menjalani perawatan di rumah sakit.
”Lahir prematur beratnya 1,7 kilogram. Masih di ruangan NICU,” ujarnya.
Dari pengakuan korban, ungkap Joko, kakaknya menjual adiknya melayani laki-laki di harga kisaran jutaan rupiah. ”Dijual harganya satu digit,” kata dia.
Baca Juga: Hendak Pesta Sabu, Seorang Wanita Hamil bersama Dua Pria dan Rekan Wanita Diangkut Polisi
Langkah LPA saat ini memberikan perlindungan dan pendampingan terhadap korban. LPA juga sudah memasukkan laporan ke Polresta Mataram.
”Kami sudah laporkan kasus ini ke APH (Aparat Penegak Hukum),” bebernya.
Saat ini, APH masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut. ”Masih memburu pelaku yang booking korban,” ungkapnya.
Joko menerangkan, kasus penjualan orang untuk melayani lelaki hidung belang di Kota Mataram cukup menghawatirkan.
Baca Juga: Tanggapan RSUD Kota Bima soal Ibu Hamil Keguguran Usai Tak Ditangani Dokter Kandungan
Tercatat, pada tahun 2025 ini saja sudah ada lima kasus yang dilaporkan ke LPA. ”Empat kasus sudah berproses di kepolisian,” terang Joko.
Dibandingkan tahun sebelumnya, tidak ada kasus yang harus sampai melayani hubungan badan. Hanya muncul sebagai ladies companion (LC).
”Kalau LC kan hanya menemani minum di kafe. Kalau sekarang sudah lebih ekstrem,” kata dia.
Menurutnya, penyebab muncul fenomena tersebut dikarenakan dari keluarga yang bermasalah. Ditambah lagi, gaya hidup dengan pendapatan yang tidak sesuai.
”Para remaja sekarang terlihat pergaulannya agak lebih gengsi. Baru lihat temannya punya handphone bagus saja, mau ikut-ikutan,” tutur Joko.
Baca Juga: Terobsesi Hamil dan Ingin Miliki Anak, Seorang Perempuan Asal Sakra Barat Diduga Nekat Culik Balita
Ditambah lagi, pengawasan pemerintah masih lemah atas persoalan isu di lingkungan. Buktinya, muncul sejumlah penginapan tanpa pengawasan.
“Hal ini yang perlu diawasi pemerintah dan masyarakat,” tutupnya. (arl/r5)
Editor : Jelo Sangaji