LombokPost - Penyidik belum menyimpulkan siapa tersangka dalam kasus kematian Brigadir Esco Faska Rely.
Mereka masih mendalami penyebab kematian anggota yang bertugas di Unit Intelijen Polsek Sekotong, Lombok Barat (Lobar) tersebut.
Salah satu yang dilakukan adalah meretas sejumlah handphone. Tujuannya untuk mencari bukti petunjuk.
"Kita ekstrak handphone milik istrinya, handphone korban (Brigadir Esco), dan handphone lainnya," kata Kasubdit III Ditreskrimum Polda NTB AKBP Catur Erwin Setiawan.
Untuk meretas handphone tersebut, penyidik menggandeng tim DVI Mabes Polri. Hasil peretasan handphone tersebut sudah diterima.
"Namun, kita masih analisa segala isinya," ujarnya.
Dia berharap, dengan adanya analisa tersebut bisa memberikan petunjuk yang lebih jelas.
Sehingga gambaran kasusnya bisa semakin terang dan jelas.
"Jangan sampai kita salah melangkah," kata Catur.
Baca Juga: Keluarga Brigadir Esco Tunjuk Lalu Anton Jadi Kuasa Hukum, Desak Gelar Perkara Dilakukan
Sejauh ini, puluhan saksi sudah diperiksa. Mulai dari keluarga korban, teman, dan istri.
"Total ada 50 saksi yang sudah kita periksa. Istrinya juga sudah beberapa kali kita periksa," ungkapnya.
Kasus tersebut sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Artinya, polisi sudah mengantongi minimal dua alat bukti.
Saat ditanyakan mengenai alat buktinya, Catur enggan membeberkan. "Itu rahasia," kelitnya.
Dia menegaskan, alat bukti tidak bisa disampaikan ke publik. Karena masuk materi penyidikan. "Tunggu saja," ujarnya.
Dia memastikan, tidak ada kendala dalam proses penyidikannya.
Hanya saja, dia meminta waktu mendalami kasus tersebut agar bisa membuat kasus itu terang benderang.
"Mohon kesabaran dari masyarakat. Kami meminta waktu, semua masih berproses," kata dia.
Pengusutan kasus kematian Brigadir Esco dinilai lambat. Isunya dikarenakan istrinya juga merupakan anggota polisi.
Catur membantah isu tersebut. Tidak ada hubungannya antara istrinya sebagai anggota polisi dengan kasus yang tengah diusutnya.
"Percayakan kepada kami. Kami mengusut kasus ini secara profesional. Istrinya sudah beberapa kali juga kami periksa. Hanya butuh waktu saja," tegasnya.
Penasihat Hukum Keluarga Brigadir Esco, Lalu Anton Hariawan mendesak kepolisian untuk membongkar kasus tersebut. Dia meminta segera menetapkan tersangka siapapun yang terlibat.
"Kami bersama pihak keluarga meminta kejelasan penyebab kematian Brigadir Esco," kata Anton.
Menurutnya, diduga kuat kematian Brigadir Esco karena dibunuh.
Itu merujuk pada hasil otopsi yang menyebut ada bekas benda tumpul dan pihak keluarga juga mengaku menemukan beberapa luka di tubuh korban.
"Ada keluarga yang turut serta saat otopsi itu, ada beberapa luka yang mereka lihat di beberapa bagian tangan serta tubuh Korban," bebernya.
Dia berharap dengan kedatangan keluarga Brigadir Esco ke Polda NTB bisa mendorong proses penyidikan dipercepat.
"Kami meminta segara melakukan gelar perkara sehingga bisa di lakukan penetapan tersangka," harapnya.
"Kami juga berharap semua terungkap dengan seterang-terangnya," tambahnya.
Diketahui, Brigadir Esco ditemukan meninggal sekitar pukul 11.30 Wita, Minggu (24/8) lalu.
Lokasinya di Dusun Nyiur Lembang Dalem, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat.
Baca Juga: Keluarga Minta Polisi Gerak Cepat Ungkap Kematian Brigadir Esco
Penemuan itu bermula ketika saksi inisial AS pergi mencari ayamnya yang hilang di belakang rumahnya.
Saat itu, AS menemukan Brigadir Esco sudah dalam keadaan terlentang di bawah pohon dengan leher terikat tali.
Dia kemudian memberitahukan ke warga. Selanjutnya beberapa warga melaporkan peristiwa tersebut Ke SPKT Polsek Lembar. (arl/r5)
Editor : Kimda Farida