Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bjorka Ngamuk Lagi! 341 Ribu Data Personel Polri Dibocorkan di X

Marthadi • Senin, 6 Oktober 2025 | 10:58 WIB

Hacker Bjorka bobol data Polri. (X/@secgron).
Hacker Bjorka bobol data Polri. (X/@secgron).
LombokPost - Gelombang kebocoran data kembali mengguncang dunia siber Indonesia.

Hacker legendaris Bjorka muncul lagi dengan aksi barunya membocorkan data pribadi 341 ribu anggota Polri di media sosial X, Sabtu (4/10).

Aksi ini disebut sebagai bentuk “balasan” atas penangkapan sosok yang dianggap Bjorka palsu oleh polisi.

Informasi kebocoran itu pertama kali diungkap oleh pakar keamanan siber Teguh Aprianto melalui akun X @secgron.

Dalam unggahannya, Teguh menjelaskan bahwa data yang bocor berisi nama lengkap, pangkat, satuan tugas, nomor ponsel, hingga alamat email anggota Polri.

“Polisi mengklaim menangkap Bjorka. Padahal yang ditangkap itu cuma faker alias peniru. Bjorka kemudian merespons dengan membocorkan 341 ribu data pribadi anggota Polri,” tulis Teguh di platform X.

Meski diunggah secara gratis dan dapat diakses publik, hasil penelusuran menunjukkan data itu bukan data baru, melainkan data lama periode 2016–2017.

Artinya, sebagian personel yang tercantum kemungkinan sudah tidak aktif atau bahkan telah pensiun.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap seorang pria berinisial WFT di Minahasa, Sulawesi Utara, yang mengaku sebagai pemilik akun X bernama @bjorkanesiaaa.

WFT disebut sudah menggunakan identitas Bjorka sejak 2020 dan bahkan mencoba memeras sebuah bank dengan nama sang hacker.

Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, mengatakan pihaknya masih mendalami peran WFT.

“WFT sudah lama beraktivitas di media sosial dengan mengaku sebagai Bjorka sejak 2020,” jelasnya.

Namun, polisi belum bisa memastikan apakah WFT memiliki kaitan dengan aksi besar Bjorka sebelumnya—termasuk kebocoran 1,3 miliar data SIM card, data pengguna IndiHome, data pemilih KPU, hingga dokumen transaksi pemerintah yang sempat menghebohkan publik sejak 2022.

Aksi Bjorka kali ini kembali menyoroti lemahnya tata kelola data di institusi negara. Meski data yang bocor bukan data baru, pakar menilai peristiwa ini menjadi peringatan keras agar pemerintah segera memperkuat keamanan siber dan mekanisme mitigasi insiden.

“Ini momentum untuk audit total keamanan data di lembaga negara. Kalau tidak, kasus seperti ini akan terus berulang,” tegas Teguh Aprianto. (*)

Editor : Marthadi
#kebocoran data polri #Bjorka #hacker indonesia #keamanan siber #Teguh Aprianto