
LombokPost- Tren kuliner viral melahirkan budaya baru di tengah masyarakat, yakni berburu tempat makan yang ramai dibicarakan warganet.
Tidak sedikit warung sederhana hingga kafe tematik mendadak dipadati pengunjung setelah viral di media sosial.
Perubahan pola konsumsi masyarakat ini menunjukkan bahwa pengalaman kini menjadi bagian penting dalam wisata kuliner. Pengunjung tidak hanya mencari makanan enak, tetapi juga pengalaman yang menarik secara visual dan emosional.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Mataram (Unram) M. Mujahid Dakwah menilai, tren kuliner viral menunjukkan adanya transformasi perilaku konsumen menuju pengalaman konsumsi berbasis digital.
“Kuliner hari ini bukan sekadar produk konsumsi, tetapi sudah menjadi bagian dari pengalaman sosial dan ekonomi digital,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial kini menjadi ruang utama promosi bagi pelaku usaha kuliner. Konten video pendek, ulasan food vlogger, hingga antrean panjang pelanggan mampu meningkatkan popularitas sebuah usaha dalam waktu singkat.
Karena itu, fenomena kuliner viral membuka peluang besar bagi pelaku UMKM kuliner di NTB untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat lebih luas.
Namun, Mujahid mengingatkan bahwa viralitas bukan jaminan usaha bisa bertahan lama. Banyak usaha kuliner mengalami lonjakan pelanggan ketika ramai di TikTok atau Instagram, tetapi kembali sepi beberapa bulan kemudian.
“Banyak usaha kuliner berhasil menarik perhatian karena viral, tetapi tantangan sebenarnya adalah mempertahankan pelanggan setelah tren berakhir,” katanya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




