Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

JEC dan PERDAMI Gelar Peringatan Bulan Kesadaran Katarak

Kimda Farida • Jumat, 28 Juni 2024 | 10:26 WIB
JEC Eye Talks bersama para jurnalis media di Tanah Air.
JEC Eye Talks bersama para jurnalis media di Tanah Air.

LombokPost—Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menyebut penyandang kebutaan di Indonesia berjumlah 1,6 juta orang, dengan sekitar 80 persen disebabkan oleh katarak. 

Meski bisa menyebabkan buta, katarak sebenarnya sangat bisa direhabilitasi, yakni dengan operasi. 

Sayangnya, masih banyak penyandang katarak yang belum menjalani operasi.

Ironisnya lagi, alasan terbanyak belum adanya tindakan adalah karena penyandang katarak yang tak sadar mengidap gangguan penglihatan ini. 

Memahami situasi tersebut, eye care leader di Indonesia, JEC Eye Hospitals and Clinics bersama PERDAMI terus menggiatkan sosialisasi mengenai katarak kepada masyarakat. 

Kegiatan terkini, melalui Peringatan Bulan Kesadaran Katarak 2024 (berlangsung sepanjang Juni), berupa kegiatan JEC Eye Talks bersama para jurnalis media di Tanah Air.

Tak hanya dalam tataran peningkatan kesadaran, JEC akan memberikan tindakan operasi katarak gratis kepada masyarakat pada Oktober 2024 nanti; bagian dari inisiatif berkelanjutan Bakti Katarak yang telah berjalan selama lebih dari empat puluh tahun terakhir. 

Ketua Umum PERDAMI Prof. dr. Budu menyampaikan, meski banyak ditemukan pada pasien berusia di atas 50 tahun, sesungguhnya katarak tidak mengenal umur. 

Sebab, katarak juga bisa terjadi karena kondisi-kondisi tertentu.

“Semua orang bisa terkena katarak! Dan, penanganannya hanya melalui tindakan operasi! Karenanya, pada Peringatan Bulan Kesadaran Katarak ini, kami berterima kasih kepada JEC yang telah mengambil bagian dalam pemberantasan katarak. Salah satunya, bakti kemanusiaan pemberian operasi katarak. Pemerintah melalui PERDAMI berpesan agar kita bisa bersama-sama menekan angka kebutaan minimal 25 persen pada 2030 mendatang,” kata Prof Budu. 

Direktur Utama RS Mata JEC @ Kedoya DR. Dr. Setiyo Budi Riyanto mengatakan, situasi bahwa ketidakpahaman mengenai katarak sebagai alasan utama keengganan pasien untuk dioperasi perlu menjadi catatan bersama.

“Kami di JEC terus menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara berkala sebagai langkah antisipatif yang jitu untuk penanganan gangguan mata sedini mungkin, termasuk katarak. Bukan hanya lansia, tetapi justru semua kalangan usia,” jelasnya.

Menurut Dr Setiyo, dengan mengetahui kondisi katarak lebih awal, penyandang bisa terhindar dari risiko semakin menurunnya kualitas hidup akibat pandangan yang semakin kabur.

“Pun bagi penderita katarak yang sampai tahap buta, tak perlu berkecil hati. Tindakan operasi katarak dengan beragam opsi merupakan solusi untuk mengembalikan kondisi pandangan seperti semula - sebelum terserang katarak. Dengan catatan, tidak ada kelainan pada saraf mata pasien,” imbuhnya.  

Pemerintah sendiri telah menetapkan penurunan prevalensi gangguan penglihatan akibat katarak sebagai prioritas dalam “Program Penanggulangan Gangguan Penglihatan pada Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan di Indonesia Tahun 2017-2030”. Berbagai upaya terus dijalankan oleh pemerintah, termasuk memperluas edukasi terkait katarak serta meningkatkan kualitas dan cakupan deteksi dini dan operasi katarak secara cepat dan optimal. 

Ketua Seksi Penanggulangan Buta Katarak (SPBK) PERDAMI dr. Ahmad Ashraf Amalius menambahkan, problem pelayanan katarak adalah A, awareness; B, barriers of surgery; C, cost; dan D, distance.

Kerja sama lintas sektoral sangatlah penting.

“Kami di PERDAMI selalu berdampingan dengan pemerintah dan stakeholder lainnya, seperti JEC, dalam membantu masyarakat Indonesia terbebas dari gangguan penglihatan dan kebutaan akibat katarak. Ini selaras dengan visi kami untuk meningkatkan kualitas kesehatan mata rakyat Indonesia,” katanya.

 Dia menambahkan, salah satu langkah penting adalah edukasi mengenai pemeriksaan mata rutin, yang krusial untuk pencegahan dan penanganan dini.

“Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, kita dapat menekan angka kebutaan akibat katarak. Sinergi antara edukasi dan layanan medis yang optimal adalah kunci mengatasi masalah ini,” ucapnya. 

Sejalan itu, JEC sebagai pionir penyedia layanan kesehatan mata di Indonesia, telah  konsisten selama empat dekade menggelar Bakti Katarak - yakni tindakan operasi katarak gratis kepada kalangan yang membutuhkan.

 Sejak 1984, inisiatif ini telah memfasilitasi tindakan operasi katarak kepada lebih dari 3.206 orang penerima manfaat.

Khusus tahun ini, JEC akan melaksanakan Bakti Katarak bertepatan dengan momen World Sight Day pada pekan kedua Oktober 2024. 

Pelaksanaan Bakti Katarak akan melibatkan cabang-cabang JEC yang tersebar di berbagai kota. 

“Operasi katarak adalah tindakan medis minim risiko dan merupakan investasi terbaik untuk kesehatan mata. Program Bakti Katarak ini menjadi wujud kepedulian JEC terhadap akses layanan kesehatan mata yang memadai bagi mereka yang membutuhkan. Lebih luas, Bakti Katarak juga merupakan kontribusi aktif JEC dalam mendukung upaya pemberantasan kebutaan di Indonesia,” jelas DR. Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K). (bng)

 

Editor : Kimda Farida
#JEC Eye Hospital & Clinics #Perdami