Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ruam Kulit Jokowi Picu Spekulasi Sindrom Stevens-Johnson, Ajudan: Bukan Penyakit Serius

Marthadi • Senin, 23 Juni 2025 | 12:37 WIB

Kondisi kesehatan Jokowi menjadi perhatian publik, dituding alami Sindrom Stevens Johnson.
Kondisi kesehatan Jokowi menjadi perhatian publik, dituding alami Sindrom Stevens Johnson.
LombokPost – Kondisi kesehatan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi, tengah menjadi sorotan. Penampakan ruam mencolok di kulitnya memicu spekulasi liar di kalangan warganet, terutama dugaan bahwa Jokowi mengidap Sindrom Stevens-Johnson (SJS), gangguan kulit langka yang dapat berakibat fatal jika tak ditangani serius.

Sorotan terhadap ruam kulit Jokowi semakin meningkat sejak ia merayakan ulang tahun ke-64 di kediamannya, Kelurahan Sumber, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/6). Munculnya ruam yang belum membaik memunculkan kekhawatiran publik bahwa mantan presiden dua periode itu mungkin mengidap penyakit serius seperti Sindrom Stevens-Johnson.

Namun, kabar tersebut segera dibantah oleh ajudan pribadi Jokowi, Kompol Syarif Fitriansyah. Menurutnya, Jokowi tidak menderita Sindrom Stevens-Johnson, melainkan hanya mengalami reaksi alergi kulit biasa sepulang dari lawatan luar negeri.

"Tidak benar itu. Bapak Jokowi hanya mengalami alergi kulit ringan setelah pulang dari Vatikan. Saat ini dalam masa pemulihan," ujar Kompol Syarif kepada Radar Solo (Jawa Pos Group), Minggu (22/6).

Meskipun demikian, spekulasi soal kemungkinan Sindrom Stevens-Johnson belum sepenuhnya mereda. Pasalnya, ruam pada kulit Jokowi tampak cukup jelas saat acara syukuran ulang tahun. Publik pun mempertanyakan kejelasan kondisi sebenarnya dan menuntut penjelasan medis yang lebih terbuka.

Apa Itu Sindrom Stevens-Johnson (SJS)?

Sindrom Stevens-Johnson (SJS) adalah penyakit kulit langka yang dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Penyakit ini pertama kali dijelaskan pada tahun 1922 oleh dua dokter asal Amerika Serikat, Albert Stevens dan Frank Johnson.

Menurut National Health Service (NHS) Inggris dan Alodokter, Sindrom Stevens-Johnson biasanya dipicu oleh reaksi alergi terhadap obat, seperti antibiotik, obat anti-kejang, pereda nyeri, dan obat asam urat. Selain itu, infeksi virus seperti influenza, HIV, dan hepatitis juga bisa menyebabkan penyakit ini muncul.

Faktor genetik dan sistem imun yang lemah turut memperbesar risiko seseorang terkena penyakit ini. Karena itu, Sindrom Stevens-Johnson juga digolongkan sebagai salah satu bentuk penyakit autoimun.

Gejala Awal dan Lanjutan SJS

Gejala awal Sindrom Stevens-Johnson sering kali menyerupai flu biasa, seperti:

- Demam tinggi,

- Nyeri tenggorokan dan mulut,

- Batuk,

- Mata terasa panas dan perih,

- Nyeri sendi,

- Tubuh terasa sangat lelah.

Namun, dalam hitungan hari, kondisi bisa memburuk secara drastis:

- Munculnya ruam kemerahan yang menyebar cepat,

- Kulit melepuh terutama di area wajah, mata, mulut, hingga alat kelamin,

- Kulit menjadi sensitif, perih, dan mulai mengelupas,

- Luka pada selaput lendir (mukosa) yang menyakitkan.

Karena kompleksitasnya, penderita Sindrom Stevens-Johnson wajib mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Penanganan yang lambat bisa memicu komplikasi serius, termasuk infeksi sistemik, gangguan organ, hingga kematian.

Jokowi Tak Alami Sindrom Stevens-Johnson, Hanya Alergi Kulit

Meski spekulasi mengenai Sindrom Stevens-Johnson pada Jokowi masih ramai dibahas, pihak keluarga dan ajudan memastikan kondisi Presiden ke-7 RI itu tidak berkaitan dengan penyakit serius.

Pakar kesehatan menyarankan masyarakat agar tidak mudah panik dan tetap menunggu klarifikasi resmi apabila menyangkut kesehatan tokoh publik.

Namun, publik tetap diimbau untuk waspada terhadap gejala Sindrom Stevens-Johnson, mengingat penyakit ini bisa timbul akibat reaksi obat yang biasa digunakan. (*)

Editor : Marthadi
#ruam kulit #Sindrom Stevens Johnson #Jokowi #alergi #Sakit Kulit