LombokPost – Menjalin komunikasi yang hangat dan berkualitas dengan lansia adalah salah satu upaya krusial untuk mencegah mereka dari perasaan tersisihkan dan kesepian.
Namun, interaksi dengan orang lanjut usia memiliki trik dan tantangan tersendiri. Memahami kekhasan ini dapat membuat obrolan lebih lancar, menyenangkan, dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Berkomunikasi dengan lansia seringkali dihadapkan pada beberapa kendala, seperti penurunan fokus, gangguan indera penglihatan atau pendengaran, serta aspek psikologis seperti mudah tersinggung atau cepat bosan.
Oleh karena itu, keluarga dan pendamping perlu memperhatikan strategi khusus agar obrolan ringan dapat berlangsung efektif dan penuh makna.
DIkutip dari Geriatri ada cara strategi jitu membangun obrolan hangat dengan lansia.
Untuk menciptakan komunikasi yang efektif dan menyenangkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pilih Waktu dan Suasana yang Tepat: Hindari percakapan panjang di lingkungan bising, terutama jika lansia memiliki gangguan pendengaran. Carilah momen yang tenang dan nyaman untuk memulai obrolan.
Intonasi Jelas, Kecepatan Normal: Penting untuk berbicara dengan intonasi yang jelas dan kecepatan normal.
Hindari berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat hingga mengeja, karena hal ini justru bisa menyinggung perasaan lansia. Gunakan gaya bahasa yang sesuai dengan kondisi lansia.
Komunikasi Dua Arah Adalah Kunci: Ingatlah bahwa lansia juga ingin didengar dan memiliki kesempatan untuk berbicara. Jika obrolan hanya satu arah dari Anda, mereka cenderung akan cepat bosan. Berikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pemikiran dan perasaannya.
Berikan Waktu dan Kesempatan Mereka Berbicara: Lansia seringkali memiliki kebutuhan untuk didengar, baik kisah hidup maupun petuah yang ingin mereka sampaikan. Meskipun ceritanya mungkin berulang, berikan waktu dan kesabaran agar mereka dapat menyampaikan apa yang ingin diutarakan hingga selesai.
Berikan Respons yang 'Terlihat': Pastikan respons Anda terlihat jelas agar lansia menyadari bahwa pembicaraan mereka didengarkan dengan baik. Anggukan kepala, senyum, atau tertawa pada bagian yang lucu dapat menunjukkan bahwa Anda terlibat dalam percakapan.
Gali Cerita Mereka: Terkadang, lansia perlu "dipancing" untuk bisa bercerita lebih banyak. Ajukan pertanyaan terbuka seperti, "Oh ya, bagaimana ceritanya?", "Lalu selanjutnya seperti apa, Pak/Bu?", atau "Dulu, Oma/Opa seperti apa waktu kejadian itu?" untuk mendorong mereka berbicara lebih jauh.
Posisi Sejajar Saat Berbicara: Menjaga posisi tubuh sejajar saat mengobrol, misalnya dengan duduk jika lansia sedang duduk, dapat menciptakan suasana yang lebih akrab dan menunjukkan rasa hormat.
Mulai dengan Hal-hal Menyenangkan: Ciptakan suasana gembira saat mengobrol. Hindari topik atau kenangan yang bisa memicu rasa malu atau tidak nyaman bagi lansia.
Meskipun berkomunikasi dengan lansia memerlukan perhatian khusus, upaya ini akan memberikan banyak manfaat, terutama bagi kesejahteraan psikologis mereka. Kualitas obrolan yang baik dapat berdampak positif pada kesehatan lansia secara keseluruhan, serta menghindarkan mereka dari perasaan negatif seperti kesepian, jenuh, dan merasa terasing.
Jadi, jangan lupakan pentingnya meluangkan waktu untuk mengobrol dengan lansia di sekitar kita.
Editor : Siti Aeny Maryam