Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ahli Gizi RSUD NTB Ingatkan Bahaya Obesitas

Hamdani Wathoni • Senin, 15 September 2025 | 04:39 WIB
Siti Utami Sulasty, S.Gz., M.Gz., RD
Siti Utami Sulasty, S.Gz., M.Gz., RD

LombokPost – Obesitas kini tidak bisa lagi dianggap sepele. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut obesitas sebagai kondisi penumpukan lemak berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang dikeluarkan tubuh dalam waktu lama.

American Medical Association (AMA) bahkan sejak 2013 melalui Resolusi 430 (A-13) menetapkan obesitas sebagai penyakit yang membutuhkan penanganan serius dan intervensi luas. Ahli gizi RSUD Provinsi NTB Siti Utami Sulasty, S.Gz., M.Gz., RD menegaskan obesitas bukan sekadar soal penampilan.

“Obesitas adalah penyakit kronis yang bisa memicu berbagai gangguan kesehatan serius,” katanya kepada Lombok Post.

Menurutnya, diagnosis obesitas ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan, mulai dari wawancara (anamnesis), pemeriksaan antropometri, hingga deteksi dini penyakit penyerta.

Dari wawancara, dokter biasanya menggali riwayat gaya hidup pasien, pola makan, aktivitas fisik, riwayat keluarga dengan obesitas, hingga penggunaan obat-obatan tertentu seperti steroid atau hormon.

"Keluhan seperti mendengkur, nyeri pinggul, hingga gangguan psikologis seperti stres juga dapat menjadi tanda awal obesitas,” jelasnya.

Untuk anak-anak, tanda obesitas bisa diamati secara visual. Misalnya wajah membulat, pipi tembem, perut membuncit dengan lipatan, tungkai kaki berbentuk huruf X, hingga kulit leher yang menghitam di area lipatan.

Sementara untuk orang dewasa, ukuran yang paling sering digunakan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). WHO mengategorikan obesitas bila IMT ≥ 30 kg/m2. Sedangkan Kementerian Kesehatan RI menetapkan IMT ≥ 25 sebagai obesitas tingkat 1 dan lebih dari 30 sebagai obesitas tingkat 2.

“Selain itu, ukuran lingkar perut juga penting. Jika lingkar perut pria lebih dari 90 sentimeter dan wanita lebih dari 80 sentimeter, maka sudah masuk kategori obesitas sentral,” ungkap Siti.

Pada anak, klasifikasi status gizi menggunakan standar WHO. Bila hasil berat badan menurut umur lebih dari +1 SD, harus dikonfirmasi dengan pengukuran berat badan menurut tinggi badan. Jika lebih dari +3 SD, maka anak masuk kategori obesitas.

Obesitas menimbulkan banyak dampak kesehatan. Dalam jangka pendek, penderita sering mengalami peningkatan tekanan darah, kadar gula darah, resistensi insulin awal, gangguan tidur, cepat lelah, sesak saat aktivitas ringan, hingga gangguan pencernaan seperti GERD. Sedangkan dalam jangka panjang, risiko yang ditimbulkan lebih berat.

“Hipertensi kronis, penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, bahkan risiko kanker seperti payudara, rahim, prostat, usus, dan pankreas meningkat signifikan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, obesitas juga bisa memicu infertilitas, sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada wanita, disfungsi ereksi pada pria, hingga osteoartritis pada sendi lutut dan pinggul. WHO menyebut tahun 2022, satu dari delapan orang di dunia hidup dengan obesitas.

Dari total 2,5 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan, 890 juta di antaranya mengalami obesitas. Bahkan lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun tercatat kelebihan berat badan, dengan 160 juta di antaranya obesitas.

“Sejak 1990, kasus obesitas dewasa meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara pada remaja meningkat empat kali lipat,” ujar Siti mengutip data WHO. Di Indonesia, prevalensi obesitas terus meningkat. Tahun 2018, prevalensi obesitas nasional sebesar 21,8 persen.

Angka itu naik menjadi 23,4 persen pada 2023. Di NTB, kondisinya lebih mengkhawatirkan dengan prevalensi 29,1 persen, dan obesitas sentral sebesar 32,4 persen. “Angka ini menunjukkan obesitas sudah menjadi epidemi global. Tidak hanya mengancam negara maju, tapi juga negara berkembang termasuk Indonesia,” tegasnya.

Meski faktor genetik berperan dalam obesitas, Siti menekankan bahwa hal itu bukan faktor utama. “Genetik memang memengaruhi cara tubuh menyimpan lemak, metabolisme zat gizi, dan sinyal rasa kenyang atau lapar. Tapi kontribusinya hanya sekitar 40–70 persen. Sisanya lebih banyak dipengaruhi pola makan, aktivitas fisik, tidur, stres, dan lingkungan,” paparnya.

Itu artinya, orang dengan risiko genetik tinggi sekalipun masih bisa menjaga berat badan ideal bila menerapkan pola hidup sehat. Di masyarakat masih sering muncul anggapan bahwa tubuh gemuk adalah tanda sehat. Siti menegaskan anggapan itu keliru.

“Sehat bukan berarti gemuk. Sehat adalah kondisi fisik, mental, dan sosial yang sejahtera, bukan sekadar ketiadaan penyakit,” katanya mengutip definisi WHO.

Pada anak, indikator sehat bukan tubuh gemuk, melainkan pertumbuhan dan perkembangan sesuai umur. Karena itu, pemantauan berkala dengan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sangat penting.

Sedangkan bagi orang dewasa, jika lingkar perut melebihi batas normal dan IMT lebih dari 25, itu justru menjadi peringatan serius. “Gemuk bukan tanda sehat, justru meningkatkan risiko berbagai penyakit. Karena itu, perlu segera memperbaiki pola makan dan gaya hidup,” tutup Siti.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Kesehatan #obesitas #obesitas abdominal #ahli gizi #NTB