Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kutil, Antara Fakta dan Mitos

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 21 Oktober 2025 | 00:31 WIB
dr. Martina Rizki Prihartini Gani
dr. Martina Rizki Prihartini Gani

 

Oleh: dr. Martina Rizki Prihartini Gani

 

LombokPost - Kutil merupakan benjolan kecil, keras, dan biasanya tidak berbahaya pada kulit. Kutil bisa terjadi pada semua usia tetapi paling sering pada anak usia sekolah. Banyak orang pernah mengalami kutil, tetapi tidak semua tahu penyebab yang sesungguhnya. Masih beredar berbagai mitos di masyarakat, seperti anggapan bahwa kutil muncul karena menyentuh katak, terkena air bekas rebusan telur atau terkena air laut, dan kebiasaan buruk “masturbasi”.

Mitos yang Masih Bertahan

Dari berbagai mitos yang berkembang, penyebab kutil karena memagang katak atau terkena kencing katak yang paling populer di kalangan masyarakat hingga saat ini. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui fakta sebenarnya tentang penyebab kutil agar masyarakat tidak lagi mempercayai mitos tersebut.

Jejak Sejarah Penemuan Kutil

Penyakit kutil telah dikenal sejak zaman Yunani dan romawi kuno, ilmuan pada zaman tersebut memberikan istilah “Verruca” yang berarti tonjolan di kulit. Di awal abad ke 19 pada tahun 1823, Sir Astley Cooper seorang ilmuan di Inggris melihat bahwa kutil dapat menular melalui kontak dengan luka terbuka. Hal ini ia ketahui saat dirinya terkena kutil di bagian tubuh yang pernah terluka oleh pisau yang sebelumnya dipakai untuk mengikis kutil orang lain. pada akhir abad ke-19 para ilmuan melakukan beberapa percobaan untuk membuktikan bahwa kutil dapat menular secara inokulasi yaitu dengan cara memindahkan infeksi yang terjadi dari satu orang ke orang lain. Namun saat itu, penyebab infeksi ini masih belum diketahui.

Baca Juga: Kadis Sosial NTB Kunjungi Bayi R di RSUP, Pastikan Bayi Mendapatkan Penanganan Medis Sesuai SOP

Hingga tahun 1907, seorang dokter italia Bernama Ciuffo menduga bahwa kutil disebabkan oleh partikel yang lebih kecil dari bakteri dan jamur. Dokter Ciuffo membuat dirinya terinfeksi kutil dengan cara memasukkan cairan kutil yang telah difilter dari jamur dan bakteri ke dalam kulitnya sendiri, dan hasilnya tumbuh kutil. Akhirnya pada tahun 1949 Dr Maurice berhasil menemukan keberadaan virus sebagai penyebab kutil dengan menggunakan mikroskop elektron dan pada tahun 1962 Melnick mengelompokkan virus tersebut sebagai papillomavirus. Sekarang kita menyebut virus ini HPV (Human Papilloma Virus) dan sampai saat ini ada lebih dari 200 tipe dari HPV yang telah ditemukan.

Proses infeksi HPV hingga timbul kutil di kulit

HPV hanya dapat berkembang biak di dalam sel kulit, tetapi virus ini tetap bisa bertahan hidup di luar jika berada di lingkungan yang lembab dan hangat. Setelah terpapar virus, dibutuhkan waktu antara 1 sampai 8 bulan sebelum kutil muncul di kulit. Kutil bisa tumbuh dalam bentuk yang berbeda beda tergantung pada Lokasi permukaan kulit dan tipe dari HPV yang menginfeksi. Beberapa jenis yang paling sering dijumpai ialah kutil biasa (Verruca Vulgaris), kutil datar (Verruca Plana), kutil plantar (verruca plantaris), dan kutil kelamin (Condyloma Akuminata).

Baca Juga: RSUP NTB Raih Penghargaan PERSI Award 2025 Berkat Inovasi Aksi Cepat 4 Detik Selamatkan Nyawa

Infeksi HPV dimulai ketika virus masuk melalui luka kecil di kulit dan menginfeksi sel kulit bagian bawah. Virus kemudian ikut berkembang biak setiap kali sel kulit tumbuh ke permukaan. Protein yang dihasilkan virus membuat sel kulit terus membelah dan menghambat proses kematian alami sel. Akibatnya, terjadi penumpukan sel yang tumbuh berlebihan hingga membentuk tonjolan kecil di permukaan kulit.

Bagaimana Virus Ini Menyebar

Penularan kutil dapat terjadi melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi, atau secara tidak langsung melalui benda yang terkontaminasi HPV. Penularan bisa terjadi saat menggunakan barang secara bersamaan dengan penderita kutil seperti handuk, alat cukur, gunting kuku, kaus kaki, alas kaki. Jadi tanpa kita sadari penularan kutil bisa terjadi di lingkungan yang dekat dengan kita seperti lingkungan keluarga di rumah, sekolah ataupun di lingkungan yang lebih luas misalnya di fasilitas umum seperti kolam renang, ruang ganti, ataupun kamar mandi.

Baca Juga: Guru Madrasah Tertangkap Basah Curi Uang Keluarga Pasien RSUP NTB

Siapa yang Rentan Terkena?

Meskipun virus penyebab kutil dapat menginfeksi siapa saja, tidak semua individu yang terpapar akan mengalami pertumbuhan kutil. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi sistem imun, tingkat kebersihan pribadi, usia, serta keberadaan luka pada kulit. Individu dengan daya tahan tubuh yang baik umumnya mampu menekan perkembangan virus, sehingga tidak muncul gejala klinis.

Perlukah Diobati?

Pengobatan kutil pada prinsipnya bertujuan untuk menghancurkan jaringan kutil agar sel sel yang terifeksi HPV dapat dihilangkan dari kulit. Pengobatan bisa dilakukan dengan berbagai metode, bisa dengan menggunakan krim atau cairan yang dioleskan langsung ke kutil, seperti asam salisilat atau asam trikloroasetat, atau dengan tindakan medis seperti krioterapi, yaitu proses membekukan kutil dengan cairan nitrogen atau kauterisasi yaitu tindakan medis dengan membakar jaringan kutil menggunakan alat kauter. Untuk kutil yang sulit hilang, pengobatan bisa dilakukan dengan imunoterapi yang bertujuan untuk meningkatkan sistem imun.

Baca Juga: Kabar Gembira! Pemda Sanggupi Biaya Operasional Ambulans Pemulangan Jenazah dari RSUP NTB ke Pulau Sumbawa

Kesimpulan: Katak Tak Bersalah

Jadi sudah jelas bahwa kutil itu disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV), bukan muncul karena menyentuh atau terkena kencing katak. Pada kulit katak sendiri tidak terbukti adanya virus HPV sehingga menyentuh katak dapat menyebabkan kutil merupakan mitos lama yang tidak terbukti secara ilmiah. HPV dapat menular melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi atau melalui benda yang terkontaminasi. Karena itu, menjaga kebersihan diri, menghindari penggunaan barang pribadi secara bergantian, serta memperkuat sistem imun merupakan langkah terbaik untuk mencegah infeksi. Dengan memahami penyebab yang sebenarnya, kita bisa lebih bijak dalam menjaga kesehatan kulit dan tidak lagi terjebak oleh mitos yang menyesatkan.

*) Catatan Redaksi
 
Artikel ini disusun untuk edukasi masyarakat dan tidak menggantikan konsultasi medis. Jika mengalami gejala kutil yang tidak biasa, segera periksa ke dokter kulit.

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Infeksi kulit #Penularan virus #Kutil #Mitos kesehatan #hpv