Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Siloam Gencarkan Forum Debriefing Medis, Fokus Penanganan Darurat Bahari NTB

Nurul Hidayati • Senin, 8 Desember 2025 | 12:24 WIB
Forum Debriefing Medis bertajuk
Forum Debriefing Medis bertajuk

LombokPost – Menyikapi tingginya angka kunjungan wisatawan ke kawasan bahari unggulan NTB seperti Mandalika dan Tiga Gili.

Siloam Hospitals Mataram berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, Persatuan Dokter Gili Indah (PDGI), Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Perhumasri) NTB, dan organisasi kesehatan setempat mengadakan Forum Komunikasi Mitra dan Seminar Medis.

Acara ini bertajuk "Optimalisasi Penanganan Kedaruratan Medis di Wilayah Wisata Bahari."

Kegiatan ini menekankan pentingnya sinergi antara rumah sakit dan fasilitas kesehatan primer di zona wisata untuk menjaga citra pariwisata daerah dan keselamatan wisatawan.

Klinik Garda Terdepan dan Tantangan Akses Rujukan

Ketua Perhumasri Wilayah NTB, Akhmad Habsari, menegaskan urgensi kegiatan ini. Ia menyoroti kontras antara tingginya kunjungan wisatawan dan terbatasnya akses cepat menuju rumah sakit.

Kegiatan ini penting karena Lombok memiliki dua kawasan wisata utama Mandalika dan Tiga Gili dengan kunjungan wisatawan yang tinggi, sementara akses menuju rumah sakit masih terbatas.

"Dalam kondisi ini, klinik-klinik di kawasan wisata menjadi garda terdepan ketika terjadi kegawatdaruratan, sehingga kompetensi dan koordinasi mereka perlu terus diperkuat,” ujar Akhmad Habsari.

Perhumasri NTB berkomitmen memastikan jejaring rujukan dan edukasi publik berjalan optimal. Ia juga mengapresiasi dukungan Siloam Hospitals Mataram dan berharap kegiatan serupa diperluas ke sektor lain.

Penanganan Kedaruratan Biota Laut dan Perkembangan Ilmu

Di sisi Gili, Ketua Persatuan Dokter Gili Indah, dr. Hamzah Farouq, menyambut baik refreshing ilmu yang diberikan, terutama terkait penanganan spesifik di kawasan bahari.

Menurutnya pihak Siloam Hospitals Mataram sudah memberikan ruang dan memberikan refreshing ilmu bagaimana penanganan kegawatdaruratan, bagaimana penanganan tersetrum biota laut yang ada venom-nya atau bisa dibilang yang berbisa.

”Apa saja sih penanganan awalnya dan bagaimana penatalaksanaannya yang harus kita lakukan, yang mana memang sangat banyak terjadi di daerah wisata seperti di Lombok ini,” jelas dr. Farouq.

Ia menambahkan bahwa pengetahuan tersebut sangat membantu klinisi di faskes pertama karena mereka yang pertama ditemui pasien. Namun, ia menyoroti kendala besar di lapangan. Ia mencontohkan rujukan barotrauma yang harus mempertimbangkan jalur yang akan dilewati.
“Kendala kita karena jarak dan alat transportasi,” terangnya.

Menjaga Reputasi Indonesia Melalui Kualitas Layanan

Direktur Siloam Hospitals Mataram, dr. Rini Kusmardiati, menekankan bahwa peningkatan layanan darurat ini merupakan upaya menjaga integritas pariwisata NTB dan Indonesia sehingga hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab rumah sakit, melainkan tanggung jawab semua pihak.

“Tipikal dari turis asing itu, aktivitas yang mereka lakukan sering kali lebih ekstrem dibandingkan turis domestik. Itulah sebabnya pasien-pasien yang masuk ke Siloam Mataram itu banyak yang dengan multitrauma. Sehingga kami merasa perlu untuk mengambil bagian, salah satunya melalui kegiatan ini dalam rangka menjaga nama baik pariwisata Lombok dan NTB.” tegas Dr. Rini.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi klinik dan rumah sakit agar ada kesinambungan komunikasi dalam sistem rujukan. Menanggapi kendala transportasi darurat, Dr. Rini berharap Pemerintah Daerah (Pemda) menjadi fasilitator dan payung bagi semua fasilitas kesehatan.

Sementara itu, dokter spesialis emergensi Siloam Hospitals Mataram, dr. Anom Josafat, MPH, Sp.Em, FICEP, menjelaskan penanganan medis di klinik wisata saat ini sudah cukup baik, namun masih perlu dioptimalkan untuk mengejar standar internasional.

“Sejauh ini penangan medis di klinik sudah cukup baik, termasuk tenaga medis di lokasi seperti di Kuta ataupun Gili. Namun masih ada beberapa ruang yang bisa dikembangkan. Mulai dari sistem rujukan, kemudian tatalaksananya, itu masih bisa ditingkatkan lagi supaya lebih optimal.” Ujar dr. Anom

Ia menekankan pentingnya patient safety bagi wisatawan mancanegara (WNA) yang memiliki ekspektasi tinggi.

“Pasien WNA pasti akan memiliki ekspektasi tinggi mengenai prosedur perawatan dan tatalaksana yang cepat. Oleh karena itu, adanya pemberian informasi terkait prosedur rujukan juga penting, termasuk prosedur apa yang akan didapatkan. Adanya pre-notification ke rumah sakit juga penting agar saat tiba pasien dapat langsung ditangani. “ imbuhnya.

Dr. Anom berharap sistem rujukan dapat dijalankan dengan lebih baik, sehingga memungkinkan rumah sakit bisa mendapatkan informasi awal mengenai kasus yang akan dirujuk.

“Jika rumah sakit sudah terinfo dari awal, maka persiapan penanganan pasien akan lebih cepat, sehingga ketika datang pasien dapat langsung ditangani. Nah, proses itu yang bisa kita harapkan dapat ditingkatkan lagi, kita perlancar lagi, sehingga pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat,” tutupnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Gili #wisata #NTB #siloam hospitals #Pariwisata