Gaya Hidup Serba Online Picu Ancaman Kesehatan, dr. Amanukarti RO Ingatkan Batas Konsumsi Makanan Pesan Antar
Hamdani Wathoni• Rabu, 6 Mei 2026 | 15:14 WIB
dr. Hj. Amanukarti Resi Oetomo Sp.PD KGH-FINASIM
LombokPost – Perkembangan teknologi digital membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pemesanan makanan. Namun di balik kepraktisan layanan pesan antar berbasis aplikasi, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Hal ini disampaikan oleh dr. Hj. Amanukarti Resi Oetomo Sp.PD KGH-FINASIM, dokter di RSUD Moh Ruslan Kota Mataram yang menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat sejak maraknya layanan makanan online. Menurutnya, kemudahan akses melalui platform digital telah mengubah kebiasaan makan, terutama di kalangan generasi muda.
“Dulu orang harus keluar rumah untuk membeli makanan. Sekarang cukup lewat ponsel, makanan datang sendiri. Ini memang praktis, tapi ada dampak kesehatan yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Layanan pesan antar makanan mulai berkembang pesat di Indonesia sejak 2015-2016. Kehadiran berbagai aplikasi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor UMKM, tetapi juga memicu perubahan pola konsumsi masyarakat ke arah makanan siap saji.
Dr. Nunuk, sapaannya menjelaskan, sebagian besar makanan yang tersedia di platform online cenderung tinggi kalori, garam, dan gula, namun rendah serat. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas.
“Ketika asupan kalori berlebih tidak diimbangi aktivitas fisik, maka berat badan akan naik. Dari situ muncul risiko penyakit seperti diabetes dan hipertensi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyakit tidak berhenti pada tahap tersebut. Kondisi kronis seperti stroke, penyakit jantung koroner, hingga gagal ginjal juga berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan.
Kelompok yang paling rentan, lanjutnya, adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Faktor kepraktisan membuat mereka lebih sering memesan makanan daripada memasak sendiri.
“Ini juga berkaitan dengan gaya hidup sedentari. Orang jadi semakin jarang bergerak karena semua bisa dilakukan dari rumah,” tambahnya.
Selain dampak kesehatan, kebiasaan memesan makanan online juga dinilai kurang efisien secara ekonomi. Harga makanan yang dipesan melalui aplikasi umumnya lebih mahal dibandingkan memasak sendiri atau membeli langsung di tempat.
Data dari berbagai survei nasional menunjukkan adanya peningkatan signifikan konsumsi makanan jadi sejak hadirnya layanan pesan antar. Menu favorit seperti ayam goreng, nasi goreng, pizza, hingga minuman manis menjadi pilihan utama masyarakat.
Menurut dr. Anumakarti, fenomena ini menandakan adanya transisi pola makan yang perlu diantisipasi sejak dini.
“Masyarakat perlu lebih bijak. Boleh saja menggunakan layanan pesan antar, tapi jangan menjadi kebiasaan,” tegasnya.
Ia menyarankan agar masyarakat lebih sering mengonsumsi makanan rumahan yang lebih terjamin dari segi nutrisi. Selain itu, penting untuk memilih makanan dengan kandungan gizi seimbang serta membatasi asupan gula, garam, dan lemak.
Bagi kelompok berisiko tinggi, seperti usia di atas 40 tahun atau yang memiliki riwayat penyakit seperti diabetes dan hipertensi, konsumsi makanan sehat menjadi hal yang sangat penting.
“Kalau sudah punya riwayat penyakit, sebaiknya benar-benar menjaga pola makan. Masakan rumah jauh lebih aman dan sehat,” tandasnya.
Dengan meningkatnya penggunaan teknologi digital, dr. Anumakarti mengingatkan bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan harus berjalan seiring. Kemudahan tidak boleh mengorbankan kesehatan dalam jangka panjang.